Jawabanmu

2014-03-25T13:16:29+07:00
Desa Kedungdowo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, yaitu sekitar 17 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, suhu rata- rata antara 28° - 32° C. Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Kedungdowo tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 2.995 orang dengan luas wilayah 205,994 hektar. Desa Kedungdowo terdiri atas dua dusu, yaitu Dusun I atau Dusun Lor Kali, karena terletak di sebelah utara sungai, dan Dusun II atau Dusun Kidul Kali, karena berada di sebelah selatan sungai. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai wiraswasta, dan sebagain yang lain bertani. Jarak tempuh Desa Kedungdowo ke ibu kota Kecamatan Kaliwungu yaitu sekitar 5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Kudus adalah sekitar 10 kilometer. Secara administratif, Desa Kedungdowo dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sidorekso. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidorekso. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Banget, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Gamong . Dalam Profil Desa Kedungdowo , Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus diceriterakan bahwa pada zaman dahulu, sekitar tahun 1650, ada salah satu murid Sunan Gunung Jati yang bernama Satiran. Ia berasal dari Cirebon, dan mendapat tugas untuk pergi ke Demak. Sesampainya di Demak, ia menemui Raden Ngabei Demak, dan usai bertemu, ia mendapat tugas untuk pergi ke Kudus. Sampai di daerah Kliwon, ia berhasil memberantas begal (perampok) yang sering mengganggu di sekitar desa tersebut. Keberhasilan menumpas gerombolan begal ini, ia diberi gelar Raden Ngabei Tunggul Ulung. Konon di Kliwon tersebut, ia melakukan semedi agar mendapatkan wangsit , dan wangsit yang didapat adalah agar ia pergi barat dan membuka daerah tersebut. Lalu, pergilah ia ke arah barat dan akhirnya menemukan sebuah tempat yang ada dalang wangsit tersebut. Seterusnya ia mulai membuka daerah tersebut. Satiran mempunyai dua orang istri, yaitu Nyi Mintarsih berasal dari Demak, dan Nyi Sedah Trembuyung dari Kudus. Ia begitu menyayangi kedua istrinya, dan kasih sayangnya ia tunjukkan dengan cara selalu membimbing dan menjaga, yang dalam bahasa Jawa disebut ngemong, hingga akhir wafatnya. Karena ia selalu ngemong tersebut maka disebutlah ia dengan sebutan Ki Gede Gamong Ato, danyang gamong , akhirnya daerah tersebut dinamai Desa Gamong sampai sekarang. Adapun petilasan terakhir atau makam danyang gamong ada dua, yaitu berada di Pasar Kliwon dan yang satunya diyakini berada di Pasar Johar Semarang. Dalam versi lain, danyang gamong disebutkan bernama Noro Sumo dengan gelar Syeh Muttakin.
4 4 4