Jawabanmu

2014-03-22T11:59:17+07:00
Duri itu adalah sebutan keren dari salah satu kecamatan TerkaYa di indonesia, bagaimana enggak bermilyar2 barrel Minyak bumi udah di keruk dari daerah ini sejak berpuluh2 tahun yang silam. Biasanya selentingan orang2 akan akan menyebut Duri kota Atas minyak Bawah minyak, maksudnya minyak bumi dan minyak sawit.

Duri bukan kota besar seperti Bandung, Jakarta, ataupun Medan. Duri hanyalah kota kecil yang berada di Riau, ibukota Pekanbaru. Walaupun hanya kota kecil , tetapi Duri punya contribute besar dalam export minyak dunia dan menyumbang sekitar 60% produksi minyak mentah di Indonesia. Hal ini karena 90% wilayahnya merupakan penghasil minyak dibawah naungan PT.Chevron Pasific Indonesia.
Propinsi Riau termasuk kota Duri merupakan daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia. Kota Duri menjadi pusat operasional perusahaan raksasa minyak PT. PT.Chevron Pasific Indonesia yang merupakan perusahaan kontrak bagi hasil dengan pemerintah RI.


2014-03-22T12:25:08+07:00
GM Policy, Government, and Public Affair PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) Usman Slamet mengatakan fakta sejarah terkait Perang Dunia II yang belum terkuak di area ladang minyak perusahaan di daerah Duri, Provinsi Riau sangat penting untuk dikaji untuk kepentingan bersama.

"Karena sampai sekarang belum ada dokumentasi terperinci mengenai sejarah Perang Dunia II di Duri" .
 
Di Duri tepatnya di Komplek CPI terdapat monumen untuk Korban Perang Dunia II , monumen ini didedikasikan untuk para korban kekejaman perang yang tak diketahui identitasnya. Kapan monumen itu didirikan dan siapa yang mendirikannya, ini juga menjadi misteri.
Bukti adanya sejarah Perang Dunia II di Duri sejauh ini baru bisa diketahui dari keberadaan monumen di tengah pemakaman, yang ada di Komplek Sago CPI tak jauh dari landasan helikopter. Pada bagian atas monumen itu ada tulisan berwarna emas dengan dua bahasa: "Monumen Korban Perang Dunia-II/`Monument of World War-II Victim".

"Sayangnya Pemerintah Daerah (Pemda) Riau dan Chevron kurang merawatnya, apalagi mengungkap sejarah yang sebenarnya. Sedangkan, warga Duri yang mayoritas pendatang juga tak banyak tahu sejarah itu, apalagi bisa melihat monumennya, karena tak bisa sembarangan masuk ke area komplek CPI.
 
Sejarah monumen itu berawal ketika Chevron menemukan banyak tulang belulang terkubur saat proses pembuatan infrastruktur migas di Duri pada tahun 1950-an. Kuat dugaan tulang belulang itu merupakan korban kerja paksa di zaman penjajah Jepang atau Romusha.

Tulang belulang itu dipindahkan ke lokasi yang sekarang berdiri monumen di komplek Chevron, dan perusahaan saat itu mengakui bahwa mereka adalah korban Perang Dunia II. Pada saat Perang Dunia II pada awal tahun 1940-an Jepang menguasai dan mengambil alih fasilitas Migas di Duri hingga Minas, bahkan,
Jepang saat itu juga membangun rel kereta api karena menduga ada kandungan emas di Duri. Bukti rel kereta api masih ada di daerah Balai Raja yang dahulu dibangun oleh rakyat Indonesia yang dijadikan Romusha.