Tajuk rencana di suara merdeka . menurut anda apa komentar anda ?
berjudul akhlaq antikorupsi para ulama
Rapat Koordinasi Daerah Majelis Ulama Se-Jawa Wilayah III di Semarang, Minggu lalu, mengapungkan fokus pembahasan tentang korupsi, ikhtiar pencegahan dan pemberantasannya. Peran ulama dalam mencegah dan memberantas sangat diperlukan, karena penanganan korupsi tidak bisa dilakukan hanya oleh aparat penegak hukum. Ulama memiliki peran strategis untuk mendidik masyarakat dalam menanamkan sikap kejujuran dan pendidikan antikorupsi. Pemahaman normatif tentang peran ulama itu tentu menyangkut segi-segi ideal, yakni transformasi sikap jujur dan antikorupsi. Dogma agama pastilah mengajarkan nilainilai semacam itu.Lalu di tengah dinamika kehidupan yang sangat mobil sekarang ini, bagaimana mengimplementasi dogma-dogma tentang kebaikan itu agar menjadi akhlak sosial bangsa? Bagaimana merekatkan kesenjangan antara idealita nilai-nilai keberagamaan dengan realitas di lapangan kehidupan? Lapangan kehidupan itu adalah paparan tentang realitas, dan yang tersaji di hadapan kita adalah ketidakterkendalian kejahatan korupsi di semua lapis kekuasaan, di semua celah kewenangan. Skeptisitas pun terkadang muncul, bagaimana mungkin nilai-nilai ideal ajaran agama seolah- olah lumpuh di hadapan kenyataan kemarakan korupsi? Di tengah kondisi demikian, bagaimana para ulama menyentuhkan segi-segi ajaran itu ke dalam kehidupan sosial masyarakat?Ijtihad untuk memperkuat penerapan efek jera telah beberapa kali muncul sebagai ide, tetapi pemberatan hukuman untuk koruptor belum direalisasi. Pernah, misalnya, berkembang gagasan agar jenazah koruptor tidak dishalati. Secara progresif, ide ini dimaksudkan untuk memberi pemberatan secara spiritual sekaligus secara sosial. Tetapi bagaimana seterusnya? Ceramah, khutbah, dan materi dakwah tentang perang melawan korupsi juga sudah banyak disampaikan oleh para ulama. Memang ikhtiar preventiflah yang secara optimal bisa dilakukan lewat peran ulama.Pendidikan karakter yang sekarang dikampanyekan kita tentu tidak lepas dari peran warasatul-anbiya’ atau “para pewaris nabi” itu. Langsung atau tidak langsung, di dalamnya terangkum nilai-nilai kebajikan. Penguatan dari sisi membangun akhlak sosial itulah yang mesti ditekankan dalam pengajaran- pengajaran sosial agama, terutama yang terkait dengan karakter antikorupsi. Kita berharap rekomendasi Rakorda MUI Se-Jawa Wilayah III tidak hanya menggemakan seruan normatif dalam perang melawan korupsi. Kita butuh rumusan sikap dan langkah yang lebih implementatif. Sudah terlalu dalam negeri ini terpuruk akibat virus kejahatan luar biasa itu, yang tidak lagi memandang segmen masyarakat, karena bahkan ruang akademis yang idealnya steril pun telah terambah. Juga, wilayah sakral seperti proyek pengadaan Alquran pun tak terkecuali.(/)

2

Jawabanmu

2014-01-14T07:01:55+07:00
Apa yang dilakukan para ulama itu sangatlah baik tujuannya. untuk pengembangan akhlak jadi lebih baik, mulailah dari urusan yang kecil terlebih dahulu. seperti menghormati yang lebih tua, atau selalu berfikiran positif
lalu untuk penanaman moral agama di sekolah untuk islam bisa saja melakukan tadarus sebelum belajar, nonislam mengadakan renungan. agar generasi muda indonesia tidak melupakan budaya dan agamanya kelak sukses nanti

semoga membantu (:
lalu kita sehrusnya bgaimna kalau mnyikapinya?
ya kita harus mengikuti apa apa yang akan diadakan oleh pemerintah/ulama agar terjadi kerjasama baik antar pemerintah/ulama dan masyarakatnya
2014-01-14T07:36:46+07:00
Hal yang dilakukan oleh ulama kita sangatlah positif. Ini sangat membantu masyarakat dalam pemahamannya bahwa agama Islam melarang yang namanya korupsi. Jadi dengan adanya kegiatan tersebut, semoga dapat menekan jumlah pertumbuhan korupsi di Indonesia. Amin Ya Rabbal Alamin.
kalau islam melarang kanapa masih ada orng yang korupsi