Jawabanmu

2014-03-14T21:17:25+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Pagi ini merupakan pagi yang sangat cerah. Jenita dan Joni, dua orang siswa kelas VII sedang asyik membaca-baca buku Biologi diperpus sekolah. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggiya, sahabat mereka.

Anggiya: “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”

Jenita: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”

Anggiya: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”

Joni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”

Anggiya: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”

[Bel sekolah berbunyi]

Jenita: “Eh ayo masuk kelas!”

[Ketiganya memasuki ruang kelas. Bu Guru masuk bersama seorang murid baru.]

Bu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Idwan

Idwan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Idwan. Saya berasal dari Aceh.”

Jenita [berbisik pada Anggiya]: “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Bandung!”
[Anggiya hanya mengangguk tanda setuju]

Bu Guru: “Idwan, kamu duduk di belakang Joni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”

[Idwan segera duduk di kursi yang disediakan]

Bu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”

[Pelajaran pun dimulai]

Tiba saatnya jam istirahat. Idwan, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Idwan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.

Joni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Jenita dan Anggiya saat mereka baru kembali dari kantin]

Jenita: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Idwan]

Anggiya: “Hei, Idwan. Kenalkan, aku Anggiya, ini Idwan dan Jenita [menunjuk kedua temannya].”

[Ketiganya duduk di sekeliling Idwan]

Idwan: “Hai, salam kenal.”

Joni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”

Idwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”

Jenita: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!

[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Idwan merasa ditemani]

Saat jam pulang sekolah, Bu Guru memAnggiyal Anggiya dan Joni yang hendak pulang ke rumah.

Bu Guru: “Anggiya, Joni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”

[Anggiya dan Joni menghampiri Bu Guru]

Joni: “Ada apa, Bu?”

Bu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Idwan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”

Joni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”

Anggiya: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Jenita berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”

Bu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Idwan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”

Anggiya: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”

Bu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Idwan benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Idwan sehingga Idwan harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”

Joni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”

Bu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggiya dan Joni pamit kemudian pulang]

Di rumahnya, Joni terus menerus memikirkan teman barunya, Idwan. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggiya dan Jenita melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….

Joni: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”

Jenita: “Bawa dong. Ayo kita dekati Idwan.”

Anggiya: “Idwan, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”

Idwan: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh saja..”

Joni, Anggiya, dan Jenita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Idwan juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Idwan lebih ceria. Setelah makan…

Idwan: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”

Jenita: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling bersikap baik.”

Sejak saat itu Idwan menjadi semakin kuat karena mendapat dukungan dari teman-teman barunya. Siswa-siswi lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat, dan suasana kian terasa menyenangkan


1 5 1
2014-03-14T21:20:27+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Judul : Pengorbanan Orangtua Untuk Anak
Pemain : Dina, Lia, Mifa, Deni, Yoga

Dina: Apa kabar sahabat?
Lia cs: Baik. Kamu sendiri gimana?
Dina: Alhamdulillah, sehat.
Lia: Gimana kabar Bapak kamu Din? Sudah baikan kan?
Dina: Alhamdulillah, sudah baikan kok. Terimakasih sudah menanyakan kondisi orangtuaku.
Mifa: Emang Bapak kamu abis sakit ya Din
Dina: Iya Mif, tapi sekarang sudah sembuh kok
Mifa: Sorry Din, aku nggak sempat menjenguk kemarin soalnya aku nggak tau. Syukur deh kalau sudah baikan.
Dina: Nggak papa kok Mif, thanks for care.
Deni: Din, sebaiknya kamu jagain Bapak kamu baik-baik. Jangan biarkan dia terlalu banyak bekerja nanti bisa kambuh sakitnya, kan dia udah tua.
Dina: Tentu Den! Setelah sembuh kemarin aku udah ngelarang Bapakku untuk ngerjain yang berat-berat.
Deni: Bener tu Din.
Yoga: Kalau dipikir-pikir orangtua kita tu udah banyak berkorban buat kita. Mestinya kita harus bisa menjadi anak yang tau balas budi. Kita harus memberikan perhatian yang cukup kepada beliau. Membalas jasa-jasa beliau kepada kita, dan berusaha membuat beliau merasa bangga dengan budi pekerti kita.
Dina cs: Kamu benar sekali Ga. Kita tidak boleh menjadi anak yang hanya bisa merepotkan orangtua. Kita harus membalas setiap pemberiannya kepada kita. Menghargai pengorbanannya kepada kita. Tanpanya, bahkan kita tidak tau apakah saat ini kita cukup makan.Mifa: Jika kalian renungi, kita memang tidak akan sanggup membalas jasa dan pengorbanan orangtua kita. Mereka mampu melakukan semuanya untuk kita. Sesuatu yang tidak mampu dilakukannya pun bisa dilakukannya karena demi masa depan anaknya. Oleh yang demikian, maka kita harus senantiasa mengingatnya dan berusaha untuk memperlakukannya sebagai ratu dalam kehidupan kita. Jangan pernah ada diantara kita lalai dan tidak peduli terhadap kondisi orangtua kita, termasuk pada saat beliau sakit.
1 1 1