Jawabanmu

2014-03-14T12:21:23+07:00
Minggu malam, 22 September 2013, nampaknya akan sama seperti minggu malam yang lainnya di Ciputat, sepi. Bahkan lebih sepi lagi bagi kaum jomblo sepertiku. Ciputat dihari minggu, adalah kota mati. Meskipun tidak pada arti sesugguhnya. Jalanan masih ramai sebenarnya. Namun, apa yang lebih sepi ketimbang tak ada sahabat juga kekasih di hari minggu? Tak ada.

Begitulah Ciputat, sebuah kecamatan di pinggiran Kota Tangerang. Keberadaan kampus UIN Jakarta, telah membuat daerah ini ramai. Menjadi tujuan para pencari ilmu dari seantero Indonesia, bahkan luar negeri. Begitu masyhurnya perkembangan pemikiran, khususnya pemikiran Islam di Ciputat. Telah banyak menarik minat para pencari ilmu tersebut. Bahkan muncul sebuah istilah, Madzhab Ciputat, untuk menyebut pemikiran-pemikiran yang lahir dan berkembang di Ciputat. 
Sebagai wilayah yang disesaki perantau, Ciputat mendadak sepi ketika akhir pekan. Para pencari ilmu yang masih berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, banyak yang memilih pulang di akhir pekan. Kosan-kosan pun sepi seketika. Hanya tertinggal segelintir orang saja. Kaum perantau yang tak mungkin pulang kampung sebelum libur semester tiba, itupun jika ada biaya. Dan termasuk diantara kaum itu adalah aku. 
Kampung halamanku di Sidoarjo, Jawa Timur. Sekitar 18 jam perjalanan dari Ciputat ke kampung halamanku, jika ditempuh dari jalur darat. Dan 1 jam 15 menit dari jalur udara, tentu dengan biaya yang sama-sama tak murah. Oleh karenanya, setiap akhir pekan aku lebih banyak berperan sebagai penjaga kosan. Karena hanya aku yang tersisa ketika para sahabat yang berdomisili di sekitaran Jakarta pulang. Kamar-kamar mereka sering dititpkan padaku. Untuk sekedar ditengok, menghindari hal-hal yang tak diinginkan 
Terkadang, rasa rindu kampung halaman menjadi-jadi ketika akhir pekan. Tepatnya ketika sama sekali tak ada kegiatan yang kulakukan. Dan biasanya aku mengobatinya dengan menelpon orang tua atau kawan lama. Kenangan masa kecil: permainan, canda, tawa, tangis, sampai kisah-kisah yang tak terlupakan pun terbesit di ingatan. Seperti sirine kereta api yang hendak berangkat, kenangan itu memanggilku tuk bergegas pulang. Ah, begitulah rasanya menjadi perantau di kota orang. Terasing tatkala sepi menghampiri. 
Untung saja, minggu malam itu ada pertandingan final piala AFF U-19 di layar kaca. Dan sahabat tak banyak yang pulang atau kencan dengan pasangannya. Sehingga aku tak kesepian. Sangat berbeda dengan malam minggu lainnya. Yang sepi lagi sunyi. Tapi, apalah arti sepi dan sunyi, jika keramaian yang sesungguhnya ada pada hati. Di dalam diri kita masing-masing.

Terdapat dua keajaiban malam itu. Pertama, Indonesia menang melawan Vietnam dalam laga tersebut. Sungguh diluar dugaan siapapun. Karena, di beberapa pertandingan final yang dilakoni, Indonesia selalu kalah. Mungkin, inilah awal kebangkitan sepakbola Indonesia. Kedua, Sidoarjo, kota kelahiranku, menjadi saksi bisu kemenangan Indonesia. Yang secara spontan melemparkanku akan kenangan. Ingatan tentang kotaku. Hal-ihwal yang pernah kulakukan disana. Juga cerita masa kecil yang mempesona. Memang benar kata orang. Meskipun jauh dirantau, kota kelahiran tak kan lekang dalam ingatan.Meski kota itu hampir hilang ditelan zaman.[]