Jawabanmu

2014-03-12T19:30:44+07:00
Kesultanan Aceh Darussalam memulai pemerintahannya ketika Kerajaan Samudera Pasai sedang berada di ambang keruntuhan. Samudera Pasai diserang oleh Kerajaan Majapahit hingga mengalami kemunduran pada sekitar abad ke-14, tepatnya pada 1360. Pada masa akhir riwayat kerajaan Islam pertama di nusantara itulah benih-benih Kesultanan Aceh Darussalam mulai lahir. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri).

Dari penemuan yang dilacak berdasarkan penelitian batu-batu nisan yang berhasil ditemukan, yaitu dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). Pendiri sekaligus penguasa pertama Kesultanan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau tanggal 8 September 1507 Masehi.

Keterangan mengenai keberadaaan Kesultanan Aceh Darussalam semakin terkuak dengan ditemukannya batu nisan yang ternyata adalah makam Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530. Selain itu, ditemukan juga batu nisan lain di Kota Alam, yang merupakan makam ayah Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu Syamsu Syah, yang menyebutkan bahwa Syamsu Syah wafat pada 14 Muharram 737 Hijriah. Sebuah batu nisan lagi yang ditemukan di Kuta Alam adalah makam Raja Ibrahim yang kemudian diketahui bahwa ia adalah adik dari Sultan Ali Mughayat Syah.

Menurut catatan yang tergurat dalam prasasti itu, Raja Ibrahim meninggal dunia pada 21 Muharram tahun 930 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 30 November 1523. Raja Ibrahim merupakan tangan kanan Sultan Ali Mughayat Syah yang paling berani dan setia. Ibrahimlah yang memimpin serangan-serangan Aceh Darussalam terhadap Portugis, Pedir, Daya, dan Samudera Pasai, hingga akhirnya Ibrahim gugur sebagai pahlawan dalam pertempuran besar itu. Tanggal-tanggal yang ditemukan di prasasti-prasasti di atas dengan sendirinya mengandung arti untuk dijadikan pegangan dalam menentukan jalannya catatan sejarah di Aceh dalam masa-masa yang dimaksud (H. Mohammad Said a, 1981:157).
6 3 6
2014-03-12T22:44:57+07:00
Perkembangan AcehSultan Alaiddin Ali Mughaiyat Syah (916-936 H/1511-1530 M) mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil menjadi negara besar dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam. Ia juga meningkatkan kekuatannya untuk menyerang Portugis mulai dari kerajaan Daya, kerajaan Pedir, kerajaan Samudera Pasè, kerajaan Peureulak, kerajaan Beunua dan kerajaan Aru di Sumatera Timur serta Malaka di semenanjung Malaysia.[2] Fadhlullah bin Jamil misalnya menegaskan bahawa kerajaan Aceh yang dimaksudkan dalam perbincangan ini adalah sebuah kerajaan Islam yang diasaskan oleh Sultan Ali Mughaiyat Syah (916-936 H/1511-1530 M). Melalui usahanya yang sangat gigih, baginda telah menyatukan Aceh Besar sebagai inti Kerajaan Aceh dengan kerajaan Daya yang terletak di kawasan Aceh Barat (sekarang Kabupaten Aceh Jaya) pada tahun 1520 M. Seterusnya diikuti pula oleh penaklukan keatas Pidie (Pedir) pada tahun 1521 M dan Pasai serta Aru pada tahun 1524 M. Sejak tertakluknya daerah-daerah ini maka terbentuklah sebuah kerajaan yang merdeka lagi berdaulat yang seterusnya lebih dikenal dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam.[3]Sebagaimana yang telah menjadi pendapat umum bahawa terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam yang diisytiharkan oleh Sultan Ali Mughaiyat Syah adalah setelah baginda lebih awal mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil dalam wilayah Aceh dan Sumatera Utara hari ini. Kerajaan yang dimaksud adalah: Kerajaan Daya di Aceh Barat (sekarang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Jaya), Kerajaan Aceh yang kini menjadi wilayah Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, Kerajaan Pedir yang sekarang menjadi Kabupaten Pidie, Kerajaan Samudera Pasè yang hari ini menjadi wilayah Aceh Utara, Kerajaan Lingé yang sekarang ini menjadi Kabupaten Aceh Tengah, Kerajaan Peureulak dan Kerajaan Beunua yang sekarang menjadi bahagian daripada Aceh Timur dan Aceh Tamiang, Kerajaan Aru yang kini menjadi wilayah Sumatera Utara.[4]
1 1 1