Jawabanmu

2014-03-11T18:53:11+07:00
Senin (17/7/2006) pukul 15.16 lima tahun lalu, ombak besar tinggi menggulung menghantam 57 km garis pantai Ciamis Selatan usai gempa 6,8 SR menguncang. Berbagai kampung sisi pantai di enam kecamatan di sisi laut kidul Ciamis tersebut porak poranda disapu tsunami. 432 warga meninggal dan 32 orang lain dinyatakan hilang, Ribuan rumah warga rusak, puluh ribu jiwa penduduk terpaksa tinggal dipengungsian sampai berbulan-bulan. Pantai Pangandaran merupakan daerah yang paling parah dihantam tsunami yang datang tanpa peringatan tersebut. Korban jiwa paling banyak di ditemukan di kawasan wisata favorit di Jawa Barat tersebut. Tak hanya rumah, sejumlah hotel, restoran porak poranda bahkan ratusan perahu nelayan hancur. Termasuk ratusan kios PKL yang waktu itu disebut “tenda biru” disabu amuk tsunami. Bencana dahsyat itu kemudian popular disebut dengan tsunami Pangandaran. Waktu itu, sehari sebelumnya, Sabtu (16/7/2006) di Pangandaran baru saja usai pelaksanaan Festival Layang-Layang Internasional atau Pangandaran Kite Festival. Pengunjung mulai sepi, tetapi sejumlah peserta PKF 2006 waktu itu masih ada yang tinggal di Pangandaran. Diantaranya peserta dari Malaysia. Mereka kemudian malah ikut jadi korban tsunami. Minggu (17/7/2011) – lima tahun kemudian, merupakan hari terakhir pelaksanaan Pangandaran Kite Festival (PKF) 2011. Puluhan ribu orang tumpah ruah di Pantai Barat Pangandaran, bersuka ria, berekreasi melepas hari terakhir liburan sekolah menjelang tahun ajaran baru 2011/2012. Dari tumpah ruah pengunjung di Pantai Barat Pangandaran dan dari layang-layang yang terbang di cakrawala pantai timur sepertinya tsunami dahsyat yang pernah melanda Pangandaran lima tahun lalu sudah seperti terlupakan. “Oh iya ya, hari ini lima tahun terjadinya tsunami yang melanda Pangandaran,” ujar Jeje Wiradinata tokoh masyarakat Pangandaran kepada Tribun Minggu (17/7/2011). Seharusnya menurut Jeje, perlu dilakukan acara doa bersama memperingati 5 tahun tsunami Pangandaran. “Lupa, kami benar-benar lupa,” ujar Jeje. Hal senada juga diungkapkan oleh H Adang Hadari, Ketua PHRI Ciamis yang juga pemilik Hotel Sandaan –salah satu hotel di Pantai Barat Pangandaran yang luput dari amuk tsunami. Menurut Adang kepada Tribun Minggu (17/7/2011) kejadian tsunami lima tahun lalu, nyaris terlupakan oleh berbagai kalangan mungkin karena kondisi Pangandaran saat ini sudah benar-benar pulih seperti sebelum kejadian lima tahun lalu. “Semuanya sudah pulih kembali, sejak tiga tahun lalu Suasana pulih pasca tsunami tersebut sudah dirasakan, Pengunjung sudah pulih, infrastruktur sudah pulih diperbaiki. Hotel-hotel yang rusak sudah dibangun kembali, kecuali Hotel Pananjungsari milik Pemkab Ciamis yang masih dibiarkan rusak. Bahkan sekarang ada 6 hotel baru yang dibangun pasca tsunami. Karena sudah pulih, kejadian itu seperti terlupakan,” ujar H Adang. Padahal kata H Adang, setahun terjadinya tsunami pada tanggal 17/7/2007 diperingati dengan mengadakan doa bersama dan tausiyah. Tugiran (40) penduduk Blok Pondok Lombok Rt 01 RW 09 Desa Sidomulyo Pangandaran sehari-hari berkerja sebagai penyadap nira kelapa (penderes) dari 35 pohon kelapa yang tumbuh di sisi Pantai Barat Pangandaran, ternyata juga lupa dengan ombak tsunami yang nyaris membunuhnya lima tahun lalu. “Oh iya ya, dulu tsunami juga terjadi waktu ada festival lay-ang-layang,” ujar Tugiran kepada Tribun pagi disela-sela ia menyadap puluhan pohon kelapa yang tumbuh di harim laut seberang Hotel Sandaan Pantai Barat Pangandaran Minggu (17/7/2011) pagi. Meski tsunami Pangandaran sudah lima tahun berlalu, Ketua Balawista Pangandaran Dodo Turyana mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Dan berharap pemerintah memasang alat deteksi dini tsunami di Pangandaran sebagai alat pertama yang dapat memberikan info awal lebih dini kemungkinan terjadinya tsunami. Mengingat early warni system MITA yang pernah dipasang atas kreasi Watimpres tahun 2007 lalu, sudah tidak berfungsi karena rusak.
1 4 1