Jawabanmu

2014-03-09T14:41:11+07:00
   Going to the Zoo – Welcome To The Zoo!(A family consists of Father and Mother with their two children, Rendi and Hanifah going to a zoo)
Mother : Well, kids. We are inside the zoo. Which animal do you want to see first?
Hanifah : I want to see the Panda bear! Please, mom, take us to the Panda bear!
Rendi : I want to see wild birds! Especially owls and eagles!
Father : Well, let’s first see the map. Um…. I think panda bear’s lair is still far away from the entrance, and the wild birds’ cage is too. Why don’t we see other animals on our way to the panda bear’s lair and wild birds’ cage?
Mother : That’s right, Dear. There must be amazing animals along the way. Let’s go see them!
Father : Well, how about the elephants?
Rendi : Alright!
Hanifa : Okay then!
(At Elephant’s lair)
Hanifa : Look, Mom, Dad! That elephants are super huge! I wonder how they took these big animals into here.
Father : They worked together to take the elephants in here. They usually used heavy vehicles that carry the elephants from outside the zoo into their lair.
Rendi : Where did they come from, Father?
Father : As far as I know, they were taken from a place called game preserve. This is a kind of place that contains animals that are protected under government’s law.
Rendi : Oh… I see then.
Hanifa : Look! There are some small fruits all over the ground. People are throwing the fruits into the elephant’s mouth. Can I throw the fruits too?
Mother : You would be better not to do that, Dear. Look, can you read that? The sign says that it is forbidden to feed the animals with any foods that visitors bring.
Hanifa : Why is that, Mom?
Mother : It’s because the foods that visitors give to the animals might be unhygienic. These animals really need hygienic foods. It will prevent them from dangerous disease that can threaten their lives. Therefore, we should not feed them with anything since the caretakers of the zoo will handle the foods for them.
Hanifa : Oh, I never know that. But, those people keep feeding the elephants. I’m worried.
Father : I wish they know what they’re doing soon. The zoo’s caretakers also always patrol around the zoo to warn people who are feeding the animals.
Rendi : I wish the caretakers come here faster to scold at them.
Mother : Very well, kids. We have seen the elephants, but it’s over noon already. Are you hungry enough to have lunch?
Rendi : Yes, mom. I’m really hungry. Can we eat first before going on?
Hanifa : Me too, Mom.
Mother : Okay, Dear. Let’s have lunch first. I have made delicious foods for you all.
Father : Alright, let’s find the best spot for us to eat up our lunch!
2 3 2
2014-03-09T14:48:40+07:00
Dingin menusuk tulang. Nyaliku surut untuk beranjak bangun dari tempat tidur walau adzan subuh tengah berkumandang. Kutarik lagi selimut menutupi telingaku. Kulihat disebelahku, Mbk Tri masih tertidur pulas. Sayup aku dengar suara babe mengaji. Ah, babe yang tak pernah melewatkan sholat subuh di langgar membuatku malu. Dengan sedikit berat, aku angkat selimut dengan sedikit nakal aku lemparkan pada Mbk Tri. Turun dari dipan tempat kami tertidur aku lanjut menuju pancoran untuk berwudhu. Kulihat ke dalam kamar emak dan tak mendapatinya di sana. Mungkin sudah  mendahului babe berangkat ke langgar yang lokasinya tak jauh dari rumah kami.Usai sholat subuh, seperti ritual di hari-hari biasa, Emak mencuci baju di belakang rumah. Tepatnya, diantara sumur dan kebun belakang. Sedangkan babe menyalakan api di tungku yang kini diletakkan di luar rumah karena rumah kami telah direnovasi yang mengakibatkan tungku tak boleh lagi berada di dalam rumah. Formasi yang terbentuk yaitu Emak, Babe dan Aku berada pada tiga titik yang berbeda membentuk segitiga namun saling berhadapan. Abangku dan Mbk Tri masih tertidur pulas. Sudah biasa kalau mereka bangun melebihi kokok ayam tetangga.Aku, dengan mata masih berat walaupun sudah mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh, berjongkok melihat kedua orang tuaku. Kerut di kening mereka, tangan mereka yang menghitam kasar, dan kaki mereka yang pecah-pecah, terutama kaki emak yang usut punya usut baru saja terkena paku membuatku trenyuh. Aku berfikir dalam-dalam, apa baktiku untuk mereka. Dan aku tak menemukan jawabannya.Tiba-tiba babe bertanya, “Kuliah masih berapa semester lagi?”. Aku jawab dengan sedikit terbata karena aku masih pada lamunanku, “3 semester beh, masih ada Ko-as juga. Semoga ndak lama ko-asnya. Nanti jadi dokter gigi praktik dimana mih maunya?”. Emak yang terkadang aku panggil “Mih” menjawab, “Terserah, kalau bisa jangan jauh-jauh. Di Kota ini saja juga cukup kan?”Dari nada itu, jika aku boleh katakan. Ibuku tak mau aku jauh-jauh. Walaupun memiliki 7 anak, namun rumah memang terasa sepi karena hampir semua kakak-kakakku jauh di kota lain.Aku pun mengutarakan niatku, “Mih, kalau selesai jadi dokter gigi, aku mau lanjut kuliah untuk spesialis. Mungkin Bedah Mulut atau Ortodonsi.”Emak dan babe hanya manggut-manggut dengan istilah yang aku utarakan. “Kuliahnya dimana?”, tanya Emak. Aku jawab, “Aku kalau bisa dan boleh, lanjut ke luar negeri gimana? Banyak beasiswa di sana. Jepang bagus juga”. Kulihat perubahan mimik emak. Aku memang selalu perhatian masalah uang untuk sekolahku. Tak dapat aku pungkiri bahwa dari sekolah dasar pun aku sudah mengandalkan beasiswa untuk sekolah. Bahkan emak pernah berkata, kalau aku tak dapat beasiswa untuk sekolah, mungkin aku tak bisa lanjut untuk kuliah.Namun aku salah, ternyata bukan masalah beasiswa untuk spesialis yang merubah mimik emakku. “Kalau yang dekat saja? Kuliah di Jogja tak ada?”, kata emak. Ah, ternyata memang emak kesepian di rumah. Aku jawab, “Ada mih, di UGM juga ada. Tapi aku fikir di luar negeri juga bagus. Untuk tambah pengalaman”. Dan babe mengiyakan.Usai percakapan itu, aku masuk ke dalam rumah. Sedikit sayup aku dengar percakapan babe dan emak. Babe memberikan pemahaman pada emak agar tak memberatkan aku dalam pilihan jika memang aku ingin ke luar negeri. Istilah orang jawa, “Ojo digondeli”. Dan aku kembali termenung, menggapai cita-citaku atau aku menurut pada ibuku yang memang semakin menaruh harap aku lebih sering di rumah setelah lebih dari 5 tahun aku merantau mencari ilmu.