Jawabanmu

2014-03-09T05:01:56+07:00
 Agresi Militer Belanda I ¤

Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan nota kepada pemerintah Republik Indonesia. Nota itu berupa ultimatum yang harus dijawab dalam waktu 14 hari. Isi nota itu antara lain sebagai
berikut.

- Membentuk pemerintahan ad interim bersama.

- Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama

- Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki Belanda.

- Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah-daerah Republik Indonesia yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama).

- Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor.

Perdana Menteri Syahrir menolak gendarmerie bersama. Kemudian, Amir Syarifuddin yang memimpin kabinet berikutnya kembali memberikan jawaban yang pada dasarnya sama. Pada tanggal 15 Juli 1947, Belanda kembali mengirim nota. Belanda tetap menuntut gendarmerie bersama dan minta agar Republik Indonesia menghentikan permusuhan terhadap Belanda. Dalam 
waktu 32 jam Republik Indonesia harus memberi jawaban kepada Belanda. Pada tanggal 17 Juli 1947,

Pada tanggal 20 Juli 1947, van Mook mengumu.kan bahwa pihak Belanda tidak mau berunding lagi dengan Indonesia. Belanda tidak terikat lagi dengan Perjanjian Linggarjati. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda menyerang daerah-daerah Republik Indonesia. Serangan militer ini dikenal dengan nama Agresi Militer I. Belanda menyebut agresi ini dengan sebutan Aksi Polisionil. Menurut Belanda, seluruh Indonesia adalah wilayah kekuasaannya yang utuh setelah Belanda menyatakan diri tidak terikat lagi pada Perjanjian Linggarjati. 

Agresi Militer I ini mendapat reaksi dari dunia internasional.Inggris dan Amerika Serikat tidak menyetujui tindakan agresi ini. India dan Australia mengajukan usul agar soal Indonesia dibahas dalam Dewan Keamanan. Pada tanggal 1 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB mendesak Indonesia dan Belanda untuk mengadakan gencatan senjata. Pada tanggal 4 Agustus 1947, Republik Indonesia dan Belanda mengumumkan gencatan senjata.

Dengan demikian, berakhirlah Agresi Militer Belanda yang pertama. Meskipun secara resmi telah ada gencatan senjata, Belanda masih berusaha memperluas wilayahnya. Batas terakhir perluasan wilayah yang dikuasai Belanda itulah yang dituntut sebagai garis demarkasi. Garis demarkasi ialah garis khayal yang kemudian dikenal sebagai “Garis van Mook”. Untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata dibentuk Komisi Konsuler. Anggota komisi berasal dari beberapa Konsul Jenderal di Indonesia. Komisi ini diketuai oleh Dr. Walter Foote (Konsul Jenderal Amerika Serikat). Anggotanya terdiri dari Konsul Jenderal Cina, Belgia, Perancis, Inggris, dan Australia. Belanda; dan

¤ Agresi Militer Belanda II ¤

Pertikaian yang terjadi di kalangan Republik akibat dari perjanjian Renville, kegoncangan di kalangan TNI, serta penumpasan pemberontakan PKI di Madiun menyita kekuatan Republik Indonesia. Pada tanggal 13 Desember 1948, Mohammad Hatta meminta kembali KTN untuk menyelenggarakan perundingan dengan Belanda. Pada tanggal 18 Desember 1948, Dr. Beel menyatakan bahwa pihak Belanda tidak mengakui dan tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville Oleh karena itu Belanda merasa bebas melaksanakan agresi terhadap Republik Indonesia.

Belanda dengan seluruh kekuatan melakukan Agresi Militer II pada tanggal 19 Desember 1948 dengan menyerbu Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dapat dikuasai Belanda. Serangan Belanda ke Yogyakarta dilakukan sangat mendadak. Dalam waktu yang relatif singkat, Yogyakarta dapat dikuasai Belanda. Para pimpinan RI ditangkap Belanda. Para pemimpin RI yang ditangkap Belanda antara lain Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Mohammad Roem, dan A.G. Pringgodigdo. Mereka diterbangkan ke Prapat, Sumatera. Presiden Soekarno sebelum ditawan memberi kuasa kepada Safruddin Prawiranegara yang berada di Sumatera untuk membentuk pemerintahan darurat (Pemerintah Darurat Republik Indonesia/PDRI) di Bukit Tinggi (Sumatera Barat). Dengan Agresi Militer II dapat dikatakan bahwa Belanda memperolehkemenangan besar, karena dapat menangkap semua pucuk pimpinan RI. 

Akan tetapi, dengan aksi penawanan oleh Belanda tersebut ternyata RI tidak lenyap. Belanda harus berhadapan dengan pasukan gerilya yang kerap menyulitkan pihak Belanda. Kontak senjata dan diplomasi terus dilakukan. Serbuan Belanda atau Agresi Militer II mendapat reaksi masyarakat internasional. Pada tanggal 7 Februari 1949, suara simpati kepada Indonesia atas terjadinya serbuan Belanda datang dari Amerika Serikat. Rasa simpati Amerika Serikat terhadap Indonesia diwujudkan dengan pernyataan-pernyataan sebagai berikut. 

- Amerika Serikat menghentikan semua bantuan kepada Belanda sampai negeri ini menghentikan permusuhannya dengan Indonesia.

- Mendesak pihak Belanda supaya menarik pasukannya ke belakang garis status quo Renville.

- Membebaskan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ditawan sejak 18 Desember 1948.

- Mendesak Belanda untuk membuka kembali perundingan yang jujur dengan Indonesia atas dasar persetujuan Renville.

2014-03-09T05:42:12+07:00
AGRESI MILITER 1 belanda menyerahkn ultimatum kpd indonesia
AGRESI MILITER 2 belanda mengkhianati perjanjian reville


terima kasih
S-Y
1 5 1