Jawabanmu

2014-03-04T08:03:09+07:00
Karena pada saat itu sultan haji (anak sultan ageng tirtayasa) berkomplotan dengan voc sedangkan sultan ageng tidak suka anaknya berteman dengan orang belanda sehingga terjadi peperangan antara sultan haji  yang dibantu oleh voc dan sultan ageng, kemudian sultan ageng kalah dan kerajaan jatuh ke tangan sultan haji tetapi karna sultan haji terus di desak oleh voc sehingga kerajaan banten jatuh ke tangn voc
16 4 16
2014-03-04T12:15:33+07:00
Belanda ke Banten dengan lebih sopan tidak seperti sebelumnya. Dengan dipimpin oleh Jacob van Neck, van Waerwijk dan van Heemskerck bandit-bandit ini merayu Sultan Abdul Kadir dengan memberikan hadiah kepada beliau. Dan hasilnya gerombolan itu berhasil membawa tiga kapal penuh lada ke negeri kincir angin tersebut, dan lima kapal lagi dibawa ke tempat basis mereka yang di Maluku.Daerah Banten pun menjadi lebih ramai dari sebelumnya dengan banyaknya kapal-kapal asing yang berlabuh. Tidak lain tujuan mereka adalah berdagang. Tetapi dengan bertambahnya para pedagang di daerah itu tidak menutup kemungkinan terjadinya kecurangan. Maka di wilayah Kerajaan Banten didirikanlah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Hal ini menyulitkan Kerajaan Banten untuk bergerak lebih leluasa. Maka dengan ketegasan Sultan Abul Mufakhir keberadaan VOC ini dapat teratasi dengan memindahkan kantor VOC ke Batavia.De Graaf menyebutkan dalam bukunya Kerajaan Islam Pertama di Jawa bahwa kekuasaan Belanda di Batavia membawa keamanan dan ketertiban tersendiri bagi raja-raja Banten dari pengaruh raja-raja Mataram ke arah barat dan serangan dari Palembang.Tentu hal ini mempersengit konflik antara Banten dengan Belanda sehingga terjadilah perang antara keduanya pada tahun 1633. Pasukan Banten yang beroperasi di laut sebagai perompak, dan yang di darat sebagai perampok. Kejadian itu memprovokasi VOC untuk pindah ke daerah Anyer, Lampung, dan Tanam.[3] Perang ini berlangsung selama enam tahun, dan perjanjian damai baru tertandatangani pada tahun 1639. Walau begitu hubungan keduanya masih tetap memanas.Setelah wafatnya Abdul Kadir, maka terpilihlah Sultan Ageng Tirtayasa sebagai pemimpin kerajaan Banten. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng, Kerajaan Banten semakin memperuncing permusuhannya dengan VOC. Hal ini terlihat dengan dilakukannya perusakan terhadap dua kapal Belanda karena dinilai terlalu memaksa untuk memonopoli perdagangan di Banten. Demikian terus terjadi konflik antara keduanya.Dalam paparan Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 yang dikarang M.C. Ricklefs bahwa Sultan Abu Nasr Abdul Kahar Sang Putra Mahkota Banten ini yang kelak bergelar Sultan Haji (1682-7) menjalankan kekuasaan yang sangat besar di banten. Ambisi Putra Mahkota dan ayahnya Sultan Ageng menimbulkan konflik. Karena Sang Putra Mahkota yang memihak kepada VOC, sedangkan Ayahnya yang menolak keras VOC. Pada tahun 1680 Sultan Ageng berniat untuk perang melawan VOC ketika para pedagang Banten dianiaya. Namun, sebelum perselisihan dimulai, muncullah ketek bengek dari Putra Mahkota karena ia mengambil alih kekuasaan, terlebih lagi menawan Sultan Ageng di kediamannya. Semakin dia berpaling ke belanda, maka semakin banyak pula dia kehilangan dukungan dari kaum muslim.Nina H. Lubis dalam bukunya Banten Dalam Pergumulan Sejarahmenjelaskan bahwa dukungan Putra Mahkota kepada VOC dikarenakan pendekatan dan penghasutan yang dilakukan oleh wakil Belanda di banten bernama W. Caeff. Karenannya Putra Mahkota ini mencurigai Sultan Ageng dan anaknya yang bernama Pangeran Arya Purbaya, sebab takut dirinya tidak bisa naik tahta kesultanan karena masih ada Pangeran itu. Dan akhirnya Putra Mahkota ini meminta bantuan VOC dan menerima persyaratan yang diajukan oleh mereka.Pada akhir abad 17, tepatnya pada tahun 1682, pasukan VOC yang dipimpin oleh Francois Tack dan Isaaac de Saint-Martin berlayar menuju Banten untuk menangkap anak Sultan Ageng itu yang berada di Istananya. Sementara itu Sultan Ageng beserta pendukungnya berhasil kabur dan merebut kembali kota tersebut untuk kemudian dibakarnya. Dan Putra Mahkota menjadi kacung yang hanya termangut-mangut kepada VOC. Artileri belanda berhasil menangkap Sultan Ageng dan menahannya di Banten yang kemudian dipindahkan ke Batavia tempat wafatnya. Akan tetapi Belanda masih tidak bisa tidur lelap, karena perjuangan pasukan Banten tidak terhenti sampai di situ. Para pengikut setia Sultan Ageng yang dipimpin oleh Syekh Yusuf terus melakukan intimidasi terhadap Kompeni itu. Nasib buruk menimpa Syekh Yusuf, tahun 1683 ia beserta keluarganya tertangkap Kompeni. Dengan begitu Kesultanan banten berada di ambang kehancuran. Terlebih lagi dengan ditandatanganinya perjanjian pada tahun 1684 yang terdiri dari sepuluh pasal, yang tentu saja merugikan pihak Kerajaan Banten. Akibat perjanjian ini Kesultanan Banten mulai dikuasai Belanda dengan dibangunnya benteng Kompeni yang bernama Speelwijk di tempat bekas benteng kesultanan yang telah dihancurkan.

10 4 10