Jawabanmu

  • dhot
  • Gemar Membantu
2014-09-12T22:49:35+07:00

Ruang-Waktu
Sebagai makhluk yang teridiri dari jasad (materi) dan jiwa (ruh), manusia pada saat hidup berada pada ruang dan waktu. Ruang adalah tempat di mana manusia berproses mencari eksistensi dirinya sebagai manifesitasi dari kesadaran tentang waktu. Sedangkan waktu adalah masa tak terbatas, yang di dalamnya manusia berproses mendialogkan kesadaran diri dengan ruang atau tempat di mana orang tersebut ada. 

Waktu melampui ruang, sebab ia adalah esensi dari kehidupan. Artinya, meski ruang telah tiada, tetapi jika waktu masih dimiliki oleh manusia, maka sejatinya mereka masih eksis. Tetapi kenyataan ini tidak mungkin. Sebagai materi manusia tetap butuh pada ruang. Makna bahwa waktu melampaui ruang pada konteks kehidupan dunia. Meski ruang kehidupan dunia masih ada, tetapi jika jatah waktu hidup sudah habis, manusia tidak bisa mengelak. Sebab manusia tidak akan mampu melawan waktu. Dengan demikian, waktu adalah esensi dari kehidupan.

Setiap gerakan manusia, selalu memperhatikan waktu. Pada waktu menggantung segala harapan dalam hidup. Maka dalam interaksi keseharian, pertanyaan yang sering muncul pasti ‘’kapan’’, selain itu tentu ‘’di mana’’. Pertanyaan kapan mengarah pada waktu, sedangkan di mana mengarah pada tempat.

Karena esensi hidup adalah waktu, perhatian besar manusia tetap terpusat pada waktu. Sehingga setiap aktivitas yang dilakukan, selalu diukur dengan waktu. Hanya saja dalam konteks keindonesiaan, waktu di negara kita kurang begitu diperhatikan. Hampir dipastikan semua kegiatan di Indonesia (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali) terlambat, termasuk kegiatan kenegaraan sekalipun. Hal ini menandai betapa bagi orang Indonesia waktu kurang mendapat perhatian serius. Sementara esensi dari hidup berada pada waktu. Anehnya, ketika ajal hampir menjemput manusia baru berjuang mempertahankan waktu (hidup) hingga menghabiskan uang miliaran rupiah. Tetapi ketika waktu hadir dalam hidup meski tanpa wujud, manusia Indonesia banyak mengabaikannnya.

Awal-Akhir
Hal serupa dapat kita jumpai seperti akhir tahun kemarin. Karena kodrat manusia hanya suka ‘’awal’’ tetapi tidak suka ‘’akhir’’, tangis penyesalan selalu mewarnai pergantian akhir tahun karena merasa banyak kegagalan. Sama seperti halnya kelahiran dan kematian dalam hidup.

Kelahiran selalu ditandai dengan senyum kegembiran sebab ia adalah mula dari hidup, sedangkan kematian selalu ditandai dengan tangis, sebab ia adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia. Konsepsi awal dan akhir lahir dalam hidup, sebab manusia hendak mendefiniskan waktu menjadi materi. Sehingga kini konsepsi awal dan akhir tahun menjadi epistimologi yang jamak diterima oleh semua manusia lintas negara.

Namun sejatinya, waktu tetaplah sebuah hal yang abstrak dan kosong. Hal yang sepanjang sejarah kebudayaan mati-matian mau dimaterialisasi. Pikiran yang memiliki anggapan demikian. Seolah waktu bisa kita tundukkan, lalu kita kerat dalam potongan atau satuan tertentu. Waktu (mungkin) adalah entitas yang berlangsung melalui diri sendiri. Manusia tak bisa menjangkau, mengendalikan, apalagi membagi-baginya dalam kalender atau buku agenda. Yang terjadi sebaliknya, manusia teperdaya dan dikendalikan waktu (Radhar Panca Dahana, 2013).

Karena itu, penyesalan yang selalu datang setiap akhir menandai bahwa kesadaran manusia tentang waktu terjebak pada pandangan meterialisme. Segalanya dalam hidup seolah bisa ditundukan (termasuk waktu), lalu dikendalikan manusia menjadi sebuah materi. Sementara waktu melampaui materi, tak bisa dijangkau apalagi dikendalikan. Usaha manusia mengukur waktu dalam bentuk detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun,  windu, dekade, abad, dan melenium, tidak lain hanya sebagai usaha manusia memaknai jalan hidup yang diberikan Tuhan. Sebab manusia sadar bahwa pada dirinya ada bagian materi (jasad), sehingga semuanya harus disesuaikan dengan keadaan manusia yang berbentuk materi tersebut. Tetapi pada satu sisi, manusia semestinya juga harus sadar, bahwa manusia bukan hanya terdiri dari jasad (materi), namun juga ada jiwa (ruh) yang berada di atas semua meteri itu. Begitupun dengan kehidupan, di atas materi ada waktu yang tak mampu dijangkau manusia.

Waktu adalah kebadian yang tidak akan bisa dimaterialisasi oleh manusia. Aristoteles menyebut waktu sebagai kontinum, yang selalu dikaitkan dengan gerakan. Dengan demikian waktu tidak memiliki batas (awal atau akhir), dan setiap saat adalah awal dari waktu masa depan dan akhir dari masa lalu (Lettinck, 1994). Hanya manusia yang selalu bergerak memaknai jalan hidup yang tidak akan merasa risau dan sedih menghadapi kenyataan apapun berkaitan dengan waktu. Sebab waktu sejatinya adalah sama. Awal dan akhir tahun hanyalah ‘’ilusi’’ manusia dalam memaknai waktu, sebagai wujud ketidakmampuan melampaui waktu yang tak terbatas. Waktu adalah keabadian dalam hidup manusia. Sebab itu, berhati-hatilah dengan waktu!