Jawabanmu

2014-09-11T08:24:23+07:00
CERITA SEBUAH POHON TANJUNG Saat ini Januari pertengahan di tahun 2013. Hari selalu diliputi dengan mendung yang kelabu. Sehari-hari hujan sangat rajin untuk berkunjung hingga wilayah tetangga, yaitu Jakarta,  dikenal bukan lagi dengan Jakarta Raya, tetapi banjir raya. Banjir merata di setiap pelosok Jakarta. Setiap harinya area banjir makin meluas. Jakrta lumpuh total. Hanya beberapa titik yang masih kering. Air tak peduli situasi, tak peduli birokrasi. Ia selalu datang dengan perkasa tanpa diundang tanpa diinginkan. Januari yang basah,  sebasah hatiku. Akhir-akhir ini hatiku resah dan gulana. Apa pasal? Alasannya tak sepira, hanya karena sebuah pohon tanjung di samping rumah ditebang pemilik tanah yang akan membangun rumah di atas lahannya. Aku merana gara-gara sebuah pohon tanjung. Sebetetulnya tidak hanya satu poohon tanjung, tetapi dua pohon tanjung, satu pohon jeruk nipis, dua pohon belimbing, dan satu pohon jambu kelutuk. Namun, yang benar kutangisi adalah sebuah pohon tanjung yang persis ditanam di pinggir jalan, tanah pojok, dekat tiang listrik.  Pohon-pohon lain memang  tumbuh persis di tanah pemilik lahan ini. Jadi tak terlalu membuatku meradang. Lain dengan satu pohon tanjung ini. Hatiku terluka dan meradang karena pohon itu sebetulnya bukan berada tepat di tanah pemilik yang akan membangun rumahnya tadi. Ia ditanam dan tumbuh di pinggir jalan dekat got. Tanjung ini ditanam develover perumahan tempat aku tinggal sekarang. Namun, karena lain hal develover pembangun perumahanku mengalihkannya pada develover lain yang lebih kuat. Uangnya memang kuat, tapi aku yakin hatinya sangat gersang. Dalam hatinya hanya terbersit banagimana menciptakan banyak ruko, banyak real estate, yang semuanya mampu mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan develover sebelumnya yang mungkin kurang kuat dalam hal modal, tetapi aku melihat, pimpinannya masih mempunyai hati untuk  lingkungan, teramasuk untuk pohon-pohon. Develover pertama pernah menerbitkan peraturan yang melarang menebang pohon apa pun yang ditanam di area perumahan itu. Nah, pohon tanjung ini pun ditanam oleh develover tersebut. Pohon itu ditanam sejak tahun 1995. Coba sudah berapa tahun? Delapan belas tahun, Saudara! Dia tumbuh bersama anak-anakku yang usianya sekarang 22 tahun, 18 tahun, dan 2,5 tahun. Dia pohon yang kuat, dan rindang. Aneka burung datang untuk berteduh mencari perlindungan dari kejamnya pembangunan. Setiap saat mereka bernyanyi untuk kami. Ketika anakku masih kecil dan pohon tanjung belum setinggi sekarang, setiap hari mereka bermain di bawahnya, mereka mengambil beberapa lembar daunnya untuk uang modal mereka berbisnis, mengambil bunganya untuk dimasak dalam wajan-wajan kecil mereka. Sesekali mereka duduk di bawahnya dan bersandar di pokoknya. Pohon tanjung itu tumbuh bersama mereka. Sekarang dua anakku sudah perawan dan bujang. Mereka sudah mempunyai dunianya masing-masing. Dunia mereka jauh lebih luas daripada halaman dan tanah tempat pohon itu tumbuh. Ketika aku berkabar tentang pohon tanjung itu, mereka jelas kecewa, tetapi lantas mereka menghiburku, “ Ya sudah lah. Bu. Mau apa lagi orang sudah ditebang. Ibu gak usah sedih, kan masih ada pohon tanjung yang lain.” Annaku yang bontot masih 2,5 tahun hanya berkata,” Hah… poonnya ndak ada… mana ya?” Meski reaksi anak-anakku seperti itu, tetapi jauh di lubuk hati mereka sebetulnya kehilangan juga pohon tanjung mereka. Hanya ekspresi mereka tidak seheboh dan selebai ibunya. Barang kali kaum ibu memang suka lebai, berlebih, dan emosional. Aku tak sempat mengabadikan pohon itu. Karena dia ditebang ketika aku sedang bekerja. Bagaimana dengan reaksi suamiku tercinta. Seperti biasanya, dia selalu kalem, “ Yo, wis, arep opo meneh, wong pohon itu juga bukan punya kita. Kita tak punya sertifikat kepemilikan yang bisa menahan dia terus tumbuh di tempatnya. Biar saja, masih ada pohon lain yang bisa memberi oksigen pada kita.” Meski bagaimana pun reaksi keluargaku terhadap pohon itu dan berupaya menghiburku, aku tetap saja tak merelakan dia ditebang. Pada suatu kali doa malamku, aku membawa pohon itu dalam doaku. Aku hanya minta agar aku diberi kerelaan untuk menerima kenyataan bahwa pohon itu sudah tak ada lagi. Aku minta agar aku diberi kemampuan untuk bisa memahami orang yang memerintahkan menebang pohon itu. Aku berusaha mendapatkan hikmah dari peristiwa ini. Namun, bila bertanya kepadaku tentang apa yang ingin kulakukan, aku akan menjawab: aku ingin memaki orang yang memerintahkan penebangan pohon itu. Aku ingin mengatakan kepadanya apakah dia punya hati untuk bisa juga melihat kepentingan orang lain, bukan hanya kepentingannya sendiri. Bukan hanya kepentinganku saja. Pohon itu punya andil memproduksi oksigen yang dihirup oleh orang di sekitarnya dan membersihkan udara kotor di sekitarnya.
2014-09-11T08:46:17+07:00
Pastinya banyak pohon ada tamanyang indah