Jawabanmu

2014-03-02T07:01:51+07:00
Langkah langkah yang di lakukan adalah dengan memperberat hukun ataupun denda kepada seseorang yang telah melanggar hukum sehingga si pelaku atau pelanggar hukum dapat mendapatkan pembalasan yang setimpal dengan apa yang di perbuat . contohnya memperberat hukuman kepada pelanggar hukum dari 10 tahun menjadi 20 tahun . 




semoga membantu 
tandai terbaik
2014-03-02T10:50:19+07:00
Tidaklah mengherankan kalau orang suka melakukan perbandingan untuk mencapai suatu kesimpulan. Socrates pernah berucap bahwa You never know a line is crooked unless you have a straight one next to it. Perbandingan bukanlah suatu hal yang jelek atau tidak objektif, apalagi kalau tersedia suatu ukuran baku, yang objektif dan yang dapat disepakati secara bersama. 

Dengan melakukan perbandingan, orang selain dapat menarik kesimpulan, setidak-tidaknya orang dapat menentukan sikap, kendatipun dapat saja dikatakan subjektif, namun ia telah melakukan suatu perbandingan sebelum sampai pada suatu pendapat akhir. Boleh dikatakan dalam setiap disiplin ilmu selalu ada apa yang dinamakan "perbandingan" bertalian dengan paradigma, sejarah, atau sesuatu proses perkembangan. 

Tentu saja dapat dipersoalkan patokan apa yang dipakai, mengapa, dan untuk apa, serta apakah hal-hal yang dipercakapkan atau dideskripsikan itu bisa dikritisi atau tidak. Kemungkinan ada sanggahan, umpan balik, bahkan dapat saja timbul hal-hal yang kontroversial atau yang antagonistik. Semua itu adalah bagian dari suatu usaha untuk mencari pencerahan dari bagian proses sejarah dengan dialektika yang inheren pada disiplin ilmu yang bersangkutan atau yang menyangkut apa yang menjadi objek perbandingan. 

Sudah menjadi suatu anggapan umum, terutama di kalangan rakyat kecil yang menggeneralisasi bahwa di zaman Orde Baru, di era Soeharto, meskipun ada riak-riak dan atau konflik yang muncul, kecuali pada akhir era Soeharto menjelang kejatuhannya, dapatlah dikatakan tampak ada semacam "supremasi hukum", meskipun harus dikatakan itu bersifat semu. Dikatakan demikian, sebab melalui tangan-tangan terselubung yang bersifat keras, kejam dan acapkali tidak manusiawi, rakyat meskipun diliputi rasa ketakutan, merasakan dan melihat bahwa paling tidak di permukaan kehidupan berbangsa dan bernegara ada semacam ketenangan semu yang bertalian dengan "supremasi hukum".