Jawabanmu

Jawaban paling cerdas!
2014-03-01T20:01:22+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Malam yang cukup cerah. Seperti biasa Aku dan Kawan Karibku, Hanna asyik memandangi bintang-bintang. “Vera, kalau ada bintang jatuh, Apa yang kamu harapkan?” Tanya Hanna kepadaku. “Aku berharap kita akan menjadi sahabat selamanya, kalau kamu Hanna?” Tanya ku. Hanna menghadap ke arahku sambil membetulkan posisi kacamatanya yang agak melorot. “Mungkin sama, tapi aku ingin, ada sebuah perpisahan dan sedikit konflik diantara kita, aku ingin tahu, apa kita masih bisa jadi sahabat dengan konflik itu?” Seru Hanna. Kata-kata Hanna sebetulnya cukup membuatku terkejut. “Apa kamu yakin menginginkannya, Han?”u. @@@ Mentari pagi berkilau menyambutku. Kali ini aku bangun sangat siang. Aku baru bangun pukul 09:05. Aku pergi keruang keluarga. Ku dapati remote televisi disana. Akupun duduk dan menyetel televisi hitam ku. Tepat disuatu acara berita. Permirsa, gempa bumi yang terjadi di Aceh tadi pagi pukul 08:00 ternyata menyebabkan tsunami yang besar. Diperkirakan, tsunami kali ini adalah tsunami terbesar di Indonesia selama sejarah. Ribuan orang tewas dalam peristiwa mengenaskan ini. Dia tak mungkin bisa menyelamatkan diri, pasti Ia meninggalkan kacamatanya. Dia tidak mungkin dapat melihat dengan mata rabun jauh -9,25. Hanna pergi jauh meninggalkan ku. Bukan sekedar hanya ke Lhok Nga, tapi ke surga sana. Tempat yang sangat jauh. Tiba-tiba… TING NONG… TING NONG… Bel rumah ku berbunyi. Ku bukakan pintunya. Ku dapati Darrel sedang berdiri. “Kamu sudah tahu tentang Aceh, Vera?” Tanya Nya ketika aku membukakan pintu. Aku hanya mengangguk lemas. “Mungkin Hanna sudah pergi, dia ingin kita tabah menerima kepergiannya!” Kata Darrel. Aku tak bisa menghentikkan air mataku. Aku hanya bisa menangis, tidak mungkin Si Gadis Kutu Buku yang dulu ku kenal sangat humoris, ceria dan bersemangat, tiba-tiba meninggalkan kami begitu saja. “Masuk, Rel” Kataku mempersilahkannya masuk. Aku benar-benar membendung kepedihan. Hanna, kenapa kamu harus pergi? “Sudah lah, Vera, belum tentu dia pergi, sebagian kecil yang selamat, bukan berarti Hanna tak selamat, kan?” Tanya Darrel menenangkanku yang sedang shock berat dengan peristiwa Aceh itu. Akhirnya, Aku dan Darrel pun bermain dengan perasaan tidak tenang, Channel yang tidak menayangkan acara berita pun kami ganti. Setiap perkembangan dari Aceh sana kami dengar jelas. Kami juga ingin tahu bagaimana keadaan Hanna. Tepat saat aku sedang menekan tombol remote televisi, sekelebat ku lihat Tim Penyelamat sedang menggotong anak seumuran kami. “Yah, Hanna! Dia Hanna, tidak salah lagi!” Kataku kepada Darrel. Pembawa acara televisi pun mewawancarai orang yang tadi menggotong Hanna. “Pak, bagaimana keadaan gadis ini?” Tanya Si Pembawa Acara. “Dia sudah meninggal, kami prediksikan kepalanya membentur sisi-sisi bangunan, bahkan, denyut jantung dan denyut nadinya pun sudah tidak ada lagi, Medis pun sudah mengatakan bahwa gadis yang berasal dari Lhok Nga Utara ini sudah meninggal dunia,” Kata Tim Penyelamat tadi. “Semuanya sudah jelas, Darrel.. Hanna sudah meninggal, dia meninggalkan kita berdua, tanpa pamit” Kataku sambil menitihkan air mata. Darrel yang terlihat sangar pun terlihat meneteskan air matanya. Tampaknya dia juga sedih dengan kepergian Hanna. @@@ 3 haripun berlalu. Peristiwa mengenaskan yang menimpa Hanna di Aceh pada hari Minggu lalu ternyata tinggallah kenangan. Namun, Aku masih sangat menyesali kepergian Hanna. Aku melamun di pekarangan rumahku. T
At Bogor City
Lhok Nga, Aceh, 25 Desember 2004
Vera, maaf, aku baru bisa menghubungi mu sekarang. Aku baru mengirimkan mu surat sekarang karena baru sekarang aku mempunyai waktu luang untuk menulis dan mengirimkan surat ku ke kantor pos. Maklum lah, disini aku sangat banyak kegiatan dan jarak antara rumahku dengan kantor pos sangat jauh. Aku tidak bisa menghubungi mu lewat telepon karena aku pikir Blackberry mu yang kemarin masih rusak. Jadi, aku yakin, kamu tidak bisa ku hubungi lewat telepon. Disini juga jarang ada sinyal. Jadi, aku susah menghubungi mu dengan telepon rumah.
Vera, aku ingin minta maaf, karena beberapa hari sebelum aku pergi ke sini, aku agak menjauh darimu. Tapi itu semua aku lakukan supaya kamu tidak terlalu kehilangan aku saat aku pergi kesini. Aku ingin membuat kamu berpikir seolah-olah aku ini tidak begitu penting untukmu. Dan masalah Blackberry mu itu, kapan-kapan aku ganti, ya! Soalnya, disini selain sekolah aku juga kerja sambilan. Meskipun hasilnya nggak seberapa, tapi aku yakin kok, kalau aku kumpulkan terus, lama-lama akan cukup untuk mengganti telepon genggam mu itu.
Aku mengirim surat ini, karena aku yakin… Sampai sekarang, kamu masih marah sama aku soal Blackberry dan Darrel. Aku Cuma mau bilang ke kamu, aku sangat menyesal karena telah menyenggol Blackberry-mu sampai jadi hancur dan rusak. Aku juga mau menyampaikan, kalau aku itu, sayaaaa….ng banget sama kamu. Aku ingin, persahabatan kita bisa sampai tua nanti.
 MAku ingin mengatakan pada nya, bahwa Blackberryku hanya rusak ringan dan tidak perlu diganti.Maafkan aku, Sahabat…’
Komentar sudah dihapus
makasih ya
ya sama-sama :)