Jawabanmu

2016-11-28T23:38:03+07:00
Percakapan, obrolan atau tanya jawab yang melibatkan dua orang atau lebih dalam bahasa Sunda disebut paguneman. Terdapat dua macam paguneman, yaitu paguneman yang resmi dan paguneman yang tidak resmi. Contoh paguneman resmi yaitu seperti diskusi atau dalam bahasa Sunda disebut sawala, sedangkan paguneman tidak resmi adalah seperti obrolan dengan teman atau obrolan dengan orang tua sendiri.

Dalam suatu paguneman terdapat beberapa unsur yang perlu diperhatikan agar paguneman dapat dibuat dengan lebih baik dan lebih menarik, diantaranya adalah perlu diperhatikan mengenai keras atau pelannya suara pembicara, tinggi-rendahnya suara atau dalam bahasa Sunda disebut lentong, pilihan kata-kata yang digunakan yang disesuaikan dengan lawan bicara serta perlunya penjiwaan agar pesan dalam pembicaraan dapat tersampaikan dengan baik.

Selain unsur-unsur yang disebutkan di atas, dalam menyusun sebuah percakapan atau paguneman, juga harus diperhatikan tentang kelengkapan dari sebuah percakapan. Kelengkapan sebuah cerita atau percakapan sangat penting, karena kalau tidak lengkap tentu pesan yang ingin disampaikan juga menjadi tidak mencapai sasaran. Percakapan atau cerita yang lengkap tidak selalu berarti harus panjang. Saat menyusun sebuah percakapan, tidak beda jauh seperti akan menyusun sebuah cerita.

Dalam membuat sebuah cerita, terdapat rumusan atau pedoman yang dapat digunakan, seperti misalnya dengan melihat unsur intrinsik dari sebuah cerita yaitu unsur tema, latar, pesan, penokohan, sudut pandang dan alur cerita. Atau juga dapat digunakan rumus yang sudah luas dikenal seperti misalnya dengan menggunakan rumus 5W+1H (what, who, when, where, why dan how).

Berikut ini adalah contoh percakapan untuk 5 orang menggunakan bahasa Sunda dengan memperhatikan unsur yang perlu dalam suatu paguneman dan juga berpatokan pada rumus yang umum digunakan dalam membuat sebuah cerita yang cukup lengkap :

Tugas Kerja Kelompok Sakola

Amir : Pan urang teh aya tugas kelompok sakola ngeunaan makalah alat kasenian Sunda nya ?.
Budi : Eh, enya, kumaha atuh saha wae kelompok urang teh ?.
Cepi : Pan kudu lima urang unggal kelompokna nya ?. Nya, atuh ieu geus cukup lima urang, Amir, Budi, Dedi, Egi jeung kuring.
Dedi : Iraha atuh urang rek nyieun tugasna ?.
Egi  : Pan tugasna teh kudu dikumpulkeun saminggu deui nya ?, kumaha lamun mimiti isukan nyieun tugasna ?.
Budi : Rek dimana tempat nyieun tugasna teh ?.
Dedi : Kumaha lamun di imah kuring ?, sok lah kuring siap nyadiakeun tempat jeung konsumsina!.
Amir : Tah enya Dedi alus kitu!, anjeun mah teu asa-asa ari rek ngabungahkeun batur teh (ceuk Amir bari seuri).
Egi  : Enya lah kuring oge satuju, komo deui make aya konsumsi sagala mah (ceuk Egi oge bari seuri).
Cepi : Eta tugas teh euweuh deui nu sejen salian ti ngeunaan alat kasenian Sunda ?.
Dedi : Enya, ngan eta wungkul dititahna.
Egi  : Kumaha cara ngabagi tugasna supaya migawena gancang ?.
Budi : Nya, meureun kumaha atuh lamun dibagi masing-masing bab ?.
Cepi : Tah enya kitu alus.
Amir : Enya atuh lamun geus buleud kie mah isukan balik ti sakola urang langsung ka imah Dedi.

Demikian, dengan berpedoman pada unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah percakapan atau paguneman serta juga berpedoman pada rumus atau cara membuat sebuah cerita atau percakapan yang lengkap atau komprehensif, maka setidaknya akan dapat dihasilkan karya tulis yang dapat memberikan keyakinan atau modal awal pada kita bahwa karya tulis tersebut telah dibuat secara sistematis. Mengenai masalah menarik atau tidaknya karya tulis tersebut, merupakan tahapan berikutnya yang dapat dilakukan, misalkan jika diperlukan dapat dilakukan improvisasi atau perbaikan, agar lebih menarik.
1 5 1