Jawabanmu

2014-02-28T15:20:16+07:00
Arkeologi Islam  NusantaraJalur Perdagangan dan Jaringan Perdagangan  Regional-InternasionalDengan pulau dan lautan yang lebih luas dari daratannya, Indonesia mempunyai letak yang strategis dan potensial bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan. Hal tersebut didorong oleh faktor lautan yang menjadi jalur pelayaran antar pulau. Dengan jalur pelayaran terseebut, terjadilah jaringan perdagangan antar pulau dan antar suka bangsa yang kemudian berkembang menjadi jaringan internasional atau perdagangan antar bangsa. Kerajaan-kerajaan Indonesia Hindu-Budha yang mempunyai jaringan perdagangan internasional, biasanya merupakan kerajaan yang memiliki Bandar-bandar besar dan ibukota yang berfungsi sebagai negara-kota. Dengan adanya jalur pelayaran sejak masa awal, terjadilah jaringan perdagangan dan pertumbuhan serta perkembangan kota-kota pusat, dengan kota-kota bandarnya.Bertia Tome Pires memberikan gambaran keberadaan jalur pelayaran dan jaringan kebudayaan internasional yang sudah tumbuh dan berkembang sekitar abad ke-16. Berita-berita asing, ditunjang peta-peta kuno, hikayat, babat lokal dan data arkeologis cukup menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah tumbuh dan berkembangnya kesultanan di Indonesia telah berlangsung kegiatan pelayaran yang membentuk jaringan perdagangan baik bersifat regional maupun internasional. Berita Tionghoa dan Arab dari sekitar abad ke-7 atau ke-8 juga member bukti adanya pelayaran dan jaringan perdagangan, di mana pedagang-pedagang Arab dan Persia telah berperan dalam jaringan perdagangan internasional melalui selat Malaka terus ke Tionghoa. Namun, dengan kedatangan VOC yang berambisi  untuk berusaha menerapkan monopoli dengan cara memerangi dan menanamkan politik “Devide et Empera”-nya. Akibatnya, VOC mendapat perlawanan dan pemberontakan oleh beberapa kesultanan. Kesultanan Aceh merupakan kesultanan yang paling sulit ditaklukan oleh VOC Hindia-Belanda.Bandar Komoditas Ekspor dan ImporTelah ditegaskan bahwa kerajaan atau kesultanan yang tergolong sebagai negara-kota yang terlibat dalam kegiatan perdagangan regional dan internasional, memerlukan bandar sebagai tempat ekspor dan impor komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kesultanan yang bersangkutan. Di kesultanan Demak, yang berfungsi sebagai kota bandar adalah Jepara,  dan bandar-bandar yang semula berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit seperti Tuban, Gresik, Surabaya, dan Madura. Demikian pula kesultanan Aceh Darussalam, yang bandarnya di sebut Lambri. Pemerintah kota Bandar biasanya diserahkan kepada putra-putra sultan yang berkedudukan sebagai Tumenggung atau Adipati yang membawahi para syah Bandar yang diangkat oleh sultanTome Pires memberitakan pula komoditas ekspor dan impor dari kota-kota bandar pada awal abad ke-16 Masehi yang terletak di pesisir utara Jawa. Komoditas yang diekspor waktu itu adalah lada, beras, buah-buahan dan rempah-rempah. Di sisi lain, jaringan perdagangan yang sudah ada sejak abad ke-16 di Banten lebih ditingkatkan lagi oleh pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Dan yang menarik perhatian adalah bahwa ketika orang-orang Belanda dibawa pimpinan Cornelis de Houtman datang di bandar Banten tahun 1596,  diberitakan tentang barang-barang yang diimpor dan diekspor oleh kelompok pedagang yang sedang melakukan transaksi jual-beli. Hubungan perdagangan itu bukan hanya didasarkan data historis tetapi juga data arkeologis.Demikian pula jaringan perdagangan antara kesultanan  yang ada di Jawa, antara lain Cirebon dan Mataram yang dikuasai VOC sejak abad ke-18, sedangkan di Sulawesi dan Kalimantan, VOC berhasil mengambil alih perdagangan pada abad ke-8 sampai ke-19 Masehi.Di sisi lain, sebagaimana bukti yang ada, diberitakan bahwa kesultanan Aceh Darussalam adalah kesultanan yang sulit ditaklukan oleh VOC, untuk itu butuh waktu lama bagi VOC untuk menguasai bandar di Aceh Darussalam. 
1 5 1