Jawabanmu

Jawaban paling cerdas!
2014-09-07T21:27:25+07:00
2014-09-07T21:31:50+07:00
Kondisi sosial politik yang kian
memanas, khususnya setelah
penembakan warga sipil oleh pasukan
perdamaian asal Australia,
merupakan wujud tidak mampunya
negara-negara asing mengamankano
daerah itu dari pergolakan "perang
saudara".
Perang saudara yang berkepanjangan
tidak akan pernah berakhir bila
penanganan menggunakan pola-pola
Barat, karena karakteristik
masyarakat setempat sangat berbeda
dengan budaya-budaya asing.Kolonial
Portugis pada 1974, pada saat terjadi
"Revolusi Bunga" hengkang
meninggalkan wilayahya dan
membiarkan masyarakat Timor-Timur
terlibat perang
saudara.Ketidakmampuan
mengamankan daerah jajahannya
ditandai dengan memberikan
"kekuasaan" kepada salah satu partai,
yakni Fretelin, sehingga terjadi
pergolakan perang saudara yang
melibatkan beberapa partai lain
seperti UDT, Apodete, Trabalista, Kota.
Perang saudara yang berkecamuk
didaerah bekas jajahan Portugis
tersebut memaksa sebagian besar
masyarakat Timor Leste, khususnya
dibagian Barat Timor Timur seperti
Dili, Liquisa, Ermera, Maliana
(Bobonaro), Kovalima, Oecusi
mengungsi ke wilayah Timor Barat
(Atambua, red).Pengungsian seperti
itu bukan hanya terjadi saat
berkecamuknya perang saudara tahun
1974/1976 dan pasca jajak pendapat
tahun 1999, tetapi beberapa kali
sebelumnya saat terjadi
pemberontakan masyarakat Timor
Timur terhadap negara kolonial
Portugis.
Berdasarkan catatan sejarah,
pergolakan yang terjadi dalam
masyarakat Timor Timur (Timor Leste)
tidak akan pernah reda selama
ditangani orang atau pihak asing.
"Seorang tokoh pejuang dan tokoh
agama Timor-Iimur almarhum
Pendeta Vicente pernah menyatakan
bahwa berintegrasinya Timor-Timur
ke NKRI merupakan kehendak Tuhan
Yang Maha Esa," katanya.
Menurut Vicente, mantan Ketua
Sinode Gereja Protestan setempat,
berintegrasinya Timor Timor ke NKRI
bagaikan seorang anak yang hilang
dan kembali kepangkuan ibunya.
Dalam jajak pendapat tahun 1999
hasilnya dimenangi masyarakat
"Prokem" (Pro Kemerdekaan) dengan
perbandingan suara 71 dengan 29,
tetapi berdasarkan sejarah suku etnis
Timor Timur dengan Timor Barat
tidak pernah bisa terpisahkan.Dari
berbagai sisi seperti bahasa dan adat
istiadat, masyarakat Timor Timur
yang mendiami wilayah Timur dan
masyarakat Timor Barat yang
mendiami wilayah Barat, memiliki
kesamaan yang tidak
terpisahkan."Kalaupun sekarang
kedua bersaudara itu harus terpisah
karena kepentingan politik, tetapi
keduanya merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan, dan
masyarakat Timor Timur akan aman
bila kembali bersatu dengan saudara-
saudaranya di Timor Barat,"
katanya.Relatif amanMenjawab
pertanyaan, Satriawan yang
senantiasa mengikuti perkembangan
wilayah negara Timor Leste
menyatakan berdasarkan fakta saat
masyarakat Timor Timor berintegrasi
dengan NKR tahun 1976 hingga 1999,
daerah itu relatif aman dan
masyarakatnya menikmati
kesejahteraan.