Jawabanmu

Jawaban paling cerdas!
2014-09-07T17:16:50+07:00
Pagi itu sungguh cerah, mentari tak enggan menyapa ramah seisi bumi dengan sinarnya yang menyilaukan dari ufuk timur sana, menerobos celah tersisa antara dedaunan yang rapat sekaligus coba mengeringkan embun.
Seorang perempuan muda berparas jelita dan seorang wanita setengah baya terlihat asyik berjalan santai sambil bercengkrama.
“Akan kemana kita, Putri? Tak biasanya putri berjalan lama dan sejauh ini…” tanya wanita setengah baya itu disela pembicaraan mereka.
Putri Dayang Merindu, begitulah si perempuan muda akrab dikenal penduduk, tetap saja berjalan…
“Aku tahu kita berjalan semakin jauh dari istana, tidakkah bibi lihat suasana secerah ini, tidakkah bibi ingin menikmatinya juga…?”
“Iya putri, tapi apakah tadi putri sudah meminta ijin dari Sang Prabu, putri terlalu jauh meninggalkan istana tanpa pengawalan…”
Ada sedikit perubahan pada paras wajah sang putri saat mendengar kata-kata wanita setengah baya yang biasa dipanggilnya Bibi Nas itu, tapi sesaat kemudian dia tersenyum
“Bibi benar, tapi sekarang aku ingin sekali berdiri diatas jerambah gantung, memandang lepas Air Ogan yang mengalir dibawahnya…”
Belum sempat Bibi Nas menimpali, tiba-tiba saja dari kejauhan tampak 6 orang prajurit mendekati mereka.
Terhembus nafas berat dari Sang Putri, kedatangan mereka adalah pertanda keinginannya pagi ini takkan tercapai.
“Maaf Putri, kami diperintahkan Sang Prabu menjemput Putri”.
Ading… kakang hari ini juga akan kembali ke kerajaan, istana sedang membutuhkan kakang disana…”
Prabu Amir Rasyid memecah kesunyian, dia menghampiri Putri Dayang Merindu yang tengah duduk di Pembaringan, duduk disebelah putri yang sedang terpekur sedih.
“Kapan kakang akan kesini lagi…?”
“Tak tahulah ading… secepatnya kakang akan menjenguk ading lagi…”
Putri Dayang Merindu berdiam diri, pandangan matanya kosong.”
Copas