Jawabanmu

2014-09-05T18:51:22+07:00

KERAJINAN DAERAH JAWA TENGAH“ WAYANG KULIT ”TERBUAT DARI KULIT KERBAUCARA PEMBUATAN :Direndam dengan air selama satu hari sampai lunak. Kemudian direntangkan atau dipentangkan dengan menggunakan tali dan pigura kayu yang kuat. Selanjutnya kulit tersebut dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering. Kulit yang sudah kering segera ditipiskan dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah bagian rambut (bagian luar) dan sisa-sisa daging yang masih melekat (bagian dalam). Kulit dikerok dengan menggunakan pisau atau pethel sedikit demi sedikit secara hati-hati. Kulit bagian dalam dikerok terlebih dahulu dan lebih banyak dikurangi agar diperoleh kulit yang berkualitas. Setelah itu, baru dilanjutkan pengerokan kulit bagian luar. Pengerokan kulit bagian luar hanya sedikit saja karena bila dilakukan pengurangan terlalu banyak maka kulit yang dihasilkan akan menjadi mudah patah bila dilipat. Bila perlu, pada bagian ini hanya dihilangkan rambut-rambutnya saja dan dibersihkan dengan air. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mempermudah pengerokan rambut pada kulit, seperti merendam kulit dengan air mendidih, dan dengan menggunakan air kapur sebelum dipentangkan. Torehan pisau pada proses pengerokan hanya dilakukan satu arah dari atas ke bawah. Setelah kulit ditipiskan, sisa-sisa kerokan dibersihkan dengan air dan bagian yang dikerok dihaluskan dengan amplas. Selanjutnya, dijemur di panas sinar matahari lagi hingga kering secara merata.


KERAJINAN DAERAH SUMATERA UTARA“ KAIN ULOS ”TERBUAT DARI BEBERAPA HELAI BENANG YANG DI TENUNCARA PEMBUATAN :Proses pembuatan Ulos relatif sama dengan kain tenun tradisional pada umumnya. Sehelai Ulos dibuat dari beberapa helai benang yang ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional. Para pengrajin tenun seringkali menyebutnya ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Untuk membuat sehelai kain Ulos diperlukan waktu yang relatif lama. Itulah mengapa, kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan ketika memproduksi sehelai Ulos.Untuk memproduksi satu helai Ulos, ada beberapa tahap yang harus dilalui. Pertama, proses penenunan benang. Proses penenunan ini menentukan motif ataupun jenis Ulos yang akan diproduksi. Kedua, pewarnaan kain. Biasanya, dominan warna dasar kain Ulos, Merah, Hitam, dan Putih. Seringkali, mereka menggunakan bahan alami untuk memberi warna dasar benang ulos. Setelah warna telah siap, barulah kain yang telah ditenun dicelupkan ke dalam cairan pewarna. Ada yang mengatakan, proses ini memakan waktu yang relatif lama. Untuk membuat kain dengan beberapa warna, kain tersebut haruslah dicelup ke dalam pewarna berulang. Setelah penenunan dan pewarnaan, proses selanjutnya adalah pengeringan. Setelah semua tahap tersebut telah dilalui, barulah Ulos dapat dibuat sedemikian rupa mengikuti bentuk kerajinan yang diinginkan.

KERAJINAN DAERAH PAPUA“ KOTEKA ”TERBUAT DARI BUAH LABUPROSES PEMBUATAN :
Labu yang dijadikan holim adalah labu yang ditanam di atas Uma atau rumah honai perempuan. Honai  sendiri adalah rumah khas masyarakat Papua. Dalam tradisi masyarakat Dani, tiap Uma wajib memiliki tanaman labu. Tanaman ini akan menjalar hingga kadang memenuhi atap Uma yang menyerupai jamur.

Sebelum dipetik, labu terlebih dahulu dipilih. Tak ada kriteria khusus dalam memilih labu yang akan dijadikan holim, semua tergantung keinginan sang pemakai. Hari itu, Lasarus memetik sebuah labu yang menyerupai terompet dari atap sebuah Uma untuk saya.

Labu yang telah dipetik kemudian akan dipotong salah satu ujungnya. Bagian yang dipotong memudahkan untuk mengeruk isi dalam serta sebagai media untuk memasukkan alat kelamin ke dalam holim saat telah jadi nantiTujuan dari proses pemanasan ini untuk memudahkan dalam pengosongan dan membersihkan bagian dalam dari labu. Setelah selesai dibakar selama beberapa puluh menit, isi labu kemudian dikerok hingga bersih. Menyisakan bagian luar labu yang kemudian dijemur selama sehari, untuk membuatnya keras dan memberi warna coklat keemasan.



4.    Setelah kering, lakukan proses pelapisan lilin malam (wax) seperti pada point kedua. Kegunaan pelapisan lilin yang kedua ini untuk menutupi bagian yang berwarna muda untuk tetap dibiarkan warnanya. Proses kedua hingga proses keempat ini lakukan berulang-ulang untuk setiap warna yang dikehendaki. Dan yang perlu diperhatikan adalah warna paling tua (gelap) dilakukan terakhir. Tehnik dan proses ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh warna yang diharapkan telah terpenuhi. 
5.    Setelah selesai tehnis pewarnaan pada kain dalam pembuatan batik tulis ini, maka bagian terakhir dengan melakukan tehnis “Pelorodan”, yaitu tehnik pelepasan lapisan lilin malam (wax) dari kain mori.