Jawabanmu

2014-09-03T09:04:25+07:00
BPUPKI mengadakan sidang sebanyak dua kali.
Sidang pertama berlangsung antara 29 Mei – 1
Juni 1945 membahas rumusan dasar negara.
Sidang kedua berlangsung tanggal 10 – 16 Juli
1945 membahas batang tubuh UUD negara
Indonesia merdeka.
Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya,
BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7 Agustus
1945 dan sebagai gantinya dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI atau
Dokuritsu Junbi Inkai). PPKI diketuai oleh Ir.
Soekarno. Sementara itu, keadaan Jepang
semakin terjepit setelah dua kota di Jepang
dibom atom oleh Sekutu. Pada tanggal 6
Agustus 1945 sebuah bom atom yang dijuluki
little boy dijatuhkan di kota Hiroshima dan
menewaskan 129.558 orang. Kemudian pada
tanggal 9 Agustus 1945 kota Nagasaki dibom
atom oleh Sekutu. Akibat kedua kota tersebut
dibom, Jepang menjadi tidak berdaya sehingga
pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah
tanpa syarat kepada Sekutu.
BPUPKI mengadakan sidang dua kali yaitu
sidang pertama tanggal 29 Mei – 1 Juli 1945
dan sidang kedua tanggal 10 – 16 Juli 1945.
Pada sidang pertama BPUPKI pada tanggal 29
Mei – 1 Juni 1945, ternyata ada tiga pembicara
yang mencoba secara khusus membicarakan
mengenai dasar negara. Ketiga pembicara
tersebut adalah Mr. Mohammad Yamin, Prof.
Dr. Mr. Supomo, dan Ir. Soekarno.
Pada masa reses itu, diselenggarakan sidang
tidak resmi yang membahas rancangan
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang
dihadiri oleh 38 anggota BPUPKI.
Pada sidang BPUPKI II tanggal 10 – 16 Juli
1945, dibahas tentang rancangan undang-
undang dasar (UUD) yang diserahkan kepada
sebuah panitia. Panitia ini bernama Panitia
Perancang UUD yang diketuai oleh Ir. Soekarno.
Panitia ini menyetujui Piagam Jakarta sebagai
inti pembukaan UUD. Selain itu juga dibentuk
panitia kecil Perancang UUD 1945 yang diketuai
oleh Supomo. Anggota Panitia kecil adalah
Wongsonegoro, Ahmad Subarjo, A.A. Maramis,
R.B. Singgih, Sukiman, dan Agus Salim. Berikut
ini hasil kerja panitia kecil yang dilaporkan
tanggal 14 Juli 1945.
a. Pernyataan Indonesia Merdeka.
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar
(Preambul).
c. Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh).
Sidang Kedua BPUPKI
Rapat kedua berlangsung 10-16 Juli 1945
dengan tema bahasan bentuk negara, wilayah
negara, kewarganegaraan, rancangan
Undang-Undang Dasar, ekonomi dan
keuangan, pembelaan negara, pendidikan dan
pengajaran. Dalam rapat ini dibentuk Panitia
Perancang Undang-Undang Dasar
beranggotakan 19 orang dengan ketua Ir.
Soekarno, Panitia Pembelaan Tanah Air dengan
ketua Abikoesno Tjokrosoejoso dan Panitia
Ekonomi dan Keuangan diketuai Mohamad
Hatta.
Dengan pemungutan suara, akhirnya
ditentukan wilayah Indonesia merdeka yakni
wilayah Hindia Belanda dahulu, ditambah
dengan Malaya, Borneo Utara, Papua, Timor-
Portugis, dan pulau-pulau sekitarnya.
Pada tanggal 11 Juli 1945 Panitia Perancang
UUD membentuk lagi panitia kecil
beranggotakan 7 orang yaitu:
Prof. Dr. Mr. Soepomo (ketua merangkap
anggota)
Mr. Wongsonegoro
Mr. Achmad Soebardjo
Mr. A.A. Maramis
Mr. R.P. Singgih
H. Agus Salim
Dr. Soekiman
Pada tanggal 13 Juli 1945 Panitia Perancang
UUD mengadakan sidang untuk membahas hasil
kerja panitia kecil perancang UUD tersebut.
Pada tanggal 14 Juli 1945, rapat pleno BPUPKI
menerima laporan Panitia Perancang UUD yang
dibacakan oleh Ir. Soekarno. Dalam laporan
tersebut tercantum tiga masalah pokok yaitu:
a. pernyataan Indonesia merdeka b.
pembukaan UUD c. batang tubuh UUD
Konsep proklamasi kemerdekaan rencananya
akan disusun dengan mengambil tiga alenia
pertama Piagam Jakarta. Sedangkan konsep
Undang-Undang Dasar hampir seluruhnya
diambil dari alinea keempat Piagam Jakarta
+Rinal Purba
info lainya :
topik “BPUPKI-PPKI dan PERISTIWA
RENGASDENGKLOK”. Dimana didalam topik
tersebut ada beberapa hal yang bisa kita
pelajari khususnya Sejarah bangsa ini
menjelang masa-masa kemerdekaan.
Kami menyadari bahwa keterbatasan
pengetahoean dan pemahaman kami tentang
BPUPKI-PPKI dan PERISTIWA
RENGASDENGKLOK, menjadikan keterbatasan
kami poela untuk memberikan penjabaran
yang lebih dalam tentang masalah ini,oleh
karena itu kritik dan saran dari semoea pihak
yang bersifat membangoen selalu kami
harapkan demi kesempoernaan makalah ini.
Harapan kami, semoega makalah ini membawa
manfaat bagi kita, setidaknya untoek sekedar
memboeka cakrawala berpikir kita tentang
bagaimana sejarah bangsa Indonesia sebeloem
dan saat menjelang kemerdekaan.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih
kepada semoea pihak yang telah membantoe
dalam proses pembuatan ini.
Djakarta,11 Februari 2010
Tim Penyoesoen