(2) Kemudian, mereka melaporkan kejadian itu kepada hakim untuk mengadukan di pembuat jembatan agar dihukum dan memberi uang ganti rugi. Zaman dahulu orang dapat melapor langsung ke hakim karena belum ada polisi.
Permohonan keluarga si tukang pedati dikabulkan. Hakim memanggil si pembuat jembatan untuk diadili. Namun, si pembuat jembatan tentu protes dan tidak terima. Ia menimpakan kesalahan kepada tukang kayu yang menyediakan kayu untuk bahan jembatan itu.
(3) Kemudian, hakim memanggil si tukang kayu.
Sesampainya dihadapan hakim, si tukang kayu bertanya pada hakim, "Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga hamba dipanggil ke persidangan?" Yang Mulia Hakim menjawab, "Kesalahan kamu sangat besar. Kayu yang kamu bawa untuk membuat jembatan itu ternyata jelek dan rapuh sehingga menyebabkan seseorang jatuh dan kehilangan pedati beserta kudanya. Oleh karena itu, kamu harus dihukum dan mengganti segala kerugian si tukang pedati."
(4) si tukang kayu membela diri, "Kalau itu permasalahannya, ya jangan salahkan saya, salahkan saja si penjual kayu yang menjual kayu yang jelek." Yang Mulia Hakim berfikir, "Benar juga apa yang dikatakan si tukang kayu ini. Si penjual kayu inilah yang menyebabkan tukang kayu membawa kayu yang jelek untuk si pembuat jembatan. "Lalu, hakim berkata kpd pengawalnya, "Hai pengawal, bawa si penjual kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!". Prgilah si pengawal menjemput si penjual kayu.
(5) Si penjual kayu dibawa oleh pengawal tersebut kehadapan hakim."Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga dibawa kesidang pengadilan ini?" kata si penjual kayu. Sang Hakim menjawab, "Kesalahanmu sangat besar karena kamu tidak menjual kayu yang bagus kepada situkang kayu sehingga jembatan yang dibuatnya tidak kukuh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda dan barang dagangannya dalam pedati." Si penjual kayu menjawab, "Kalau itu permasalahannya, jangan menyalahkan saya.
(6) Yang salah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual. Dialah yang salah memberi kayu yang jelek kepada si tukang kayu itu." Benar juga apa yang dikatakan si penjual kayu itu. "Hai pengawal bawa si pembantu ke hadapanku!" Maka si pengawalpun menjemput si pembantu.
Seperti halnya orang yang telah memanggil terlebih dahulu oleh hakim, si pembantu pun bertanya kepada hakim perihal kesalahannya.

Jawabanmu

2014-02-23T10:29:34+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.
Ketika pelajaran dimulai.terjadi dialog antara guru dan muridnya.
Guru  :"Anak-anak, gimana perasaan kalian saat ini?"
Murid :"Senang Bu!"
Guru  :"Pertama-tama ibu akan menanyakan kata-kata bijak apa yang sering dikatakan            bapakmu?
Murid 1 :"Hidup ini harus kita "LANJUTKAN"
Guru : "Oh bapak kamu pasti anggota partai demokrat yah?"
Murid 1 : "betul bu"
Guru : "Oh pantes, sekarang kamu"
Murid 2 : "Kata bapak saya hidup itu haru kuat seperti "BANTENG""
Guru : "oh,pasti bapak kamu anggota partai PDIP ya?"
Murid 2 : "Betul bu"
Guru : "Pantess , sekarang kamu"
Murid 3 : "Kata bapak saya lebih baik memberi daripada diberi"
Guru : "Wow bapak kamu pasti ustadz yah?
Murid 3 : "Bukan bu"
Guru : terus apa?
Murid 3 : Petinju bu kan lebih baik memberi pukulan dari pada diberi pukulan"
semua murid yang berada dalam kelas tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban murid ke 3
guru : (menghela nafanya sambil menggeleng kepala) kemudian kelaspun kembali normal dengan belajar kembali
bisa nggak ,ceritanya yang ebih panjang lagi . coz ini buat uji Praktek b.indo