Jawabanmu

2014-09-02T08:11:11+07:00
Abdul Kahar Muzakkar (DI/TII - RPII) Kahar Muzakkar dilahirkan pada 24 Maret 1921, di daerah terpencil bernama Kampung Lanipa, Ponrang, Sulawesi Selatan. Masa kecilnya seperti pada umumnya anak-anak di Nusantara.Yang membedakan, sejak kecil jiwa pemberontakannya sudah muncul. Pantang takluk dan harus selalu menang dalam perkelahian. Ia dikenal dengan nama kecil Ladomeng karena kegemarannya bermain domino. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang cukup mampu dan tergolong aristokrasi rendah. Ketika beranjak remaja, ia merantau. Setelah tamat sekolah rakyat pada 1938, Kahar dikirim orangtuanya ke Solo. Tempat yang ia datangi adalah perguruan Mualimin Muhammadiyah untuk memahami dan mengasah ilmu agama Islam.


Disini pula ia untuk pertama kali bergerak dalam gerakan Hizbul Wathon, organisasi otonom yang mempunyai visi dan mengemban misi Muhammadiyah dalam pendidikan. Di sekolah ini ia bertemu KH Sulaeman Habib, Mufti Besar Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Beliaulah yang mengusulkan penambahan nama Kahar menjadi Abdul Kahar Muzakkar, diilhami oleh Abdul Kahar Muzakkir. salah seorang panitia sembilan BPUPKI. Namun, Kahar tak berhasil menamatkan sekolahnya di Solo. Setelah menikahi Siti Walinah, seorang gadis Solo, ia kembali ke kampung halamannya pada tahun 1941. Di Sulawesi Selatan kota Luwu, Kahar bekerja di Nippon Dahopo, instansi bentukan Jepang. Saat itu Jepang sudah mulai melebarkan sayap jajahannya di Sulawesi. Selama beberapa lama berada di tanah kelahirannya, ia memberontak. Ia mengalami bentrokan dengan kepala-kepala adat setempat. Sikap Kahar yang membenci sistem feodal yang berlaku di Sulawesi Selatan menjadi alasan. Bahkan, ia menganjurkan agar sistem aristokrasi dihapuskan.

Awal dari perjuangannya dimulai ketika ia mengecam keras sikap Kerajaan Luwu yang kooperatif tanpak Toeroet (nurut) dengan datangnya Jepang ke ranah Sulawesi. Kerajaan Luwu berang. Padahal, mayoritas pemuda Sulawesi kala itu percaya dan tunduk dengan "iming-iming" Jepang sebagai pembebas dari Timur. Kahar menepis dengan perkasa. Menurutnya, segala tindak tanduk Jepang adalah omong kosong belaka. Hanyalah bentuk kehancuran bertopeng cahaya. Ia tangguh akan pendiriannya untuk mengusir Jepang dari tanah kelahirannya itu. Akibat penentangannya tersebut, Kerajaan Luwu bertindak licik dengan menuduhnya mencuri. Kemudian ia diganjar hukuman atas tuduhan menghina kerajaan dan mencuri. Hukuman yang diterimanya sangat berat. Ia diganjar vonis adat ri paoppangi tana, hukuman yang mengharuskannya keluar dari tanah kelahirannya, bumi tercintanya.

Untuk kedua kalinya, pada Mei 1943, Kahar meninggalkan kampung halaman. Ia kembali ke Solo. Mencari kehidupan baru. Itulah periode yang membuatnya harus terus berjuang dan memberontak atas segala penindasan wilayah, ekonomi, dan politik Indonesia oleh Jepang. Ia memutuskan untuk terjun total dalam kancah perjuangan kemerdekaan. Kemudian, ia mendirikan toko Usaha Semangat Muda. Dalam perkembangannya, toko itu digunakan sebagai pusat dan markas gerakan perjuangan. Tempat dimana ia membuat strategi pemberontakan dan mengumpulkan para pemuda. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, ia pergi ke Jakarta.

Di Ibu Kota, Kahar mendirikan Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (Gepis), yang kemudian berubah menjadi Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS). Di organisasi itu Kahar menjabat sebagai Sekretaris. Ternyata ia seorang administrator dan orator yang berbakat dengan daya tariknya yang besar. Sikapnya menimbulkan kekaguman kawan-kawan dan kabar itu pun menyebar luas.

Pada Desember 1945, beberapa pemuda menemui Kahar dan meminta untuk membantu dalam usaha pembebasan 800 pemuda yang ditahan di Nusakambangan. Aksinya berhasil, dan 800 pemuda tersebutlah yang menjadi cikal bakal laskar andalan yang dibentuknya dan dinamakan Kesatoean Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) . Dalam perjalanan hidupnya, Kahar bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).