Jawabanmu

2014-08-31T21:15:04+07:00
Terbuat dri batu, dan ukurannya besar
2014-08-31T22:29:46+07:00
Dalam literature sejarah muncul interpertasi dan hipotesa  yang kemudian sering dinyatakan  sebagai teori tentang masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu Budha dari India ke Indonesia.Teori Ksatria (Teori kolonisasi)Kunci dari teori ini terletak pada peran  golongan Ksatria, dengan pencetusnya           C.C. Berg. Lebih lanjut dikatakan bahwa Raja-raja atau kaum ksatria  datang dari India karena tersingkir  perang yang terjadi di India. Mereka selanjutnya melakukan kolonisasi atas daerah-daerah tertentu di Indonesia dan kemudian melakukan hindunisasi di Indonesia. Kelemahan teori ini  terletak  pada  ke ragu-raguan bila kaum ksatria yang tersingkir perang kemudian mendapat kedudukan yang terhormat sebagai penguasa di Indonesia.Teori WaisyaTeori ini dikemukakan oleh N.J Krom,   berpendapat melalui para pedagang maka pengaruh Hindu Budha dapat masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini dapat di mengerti karena sejak dahulu  hubungan dagang telah mengawali hubungan antara India dengan Indonesia      3.  Teori Sudra (Teori Orang Buangan)Mengatakan akibat dari sering terjadinya peperangan, maka banyak kaum sudra di India mengalami pembuangan  sebagai tawanan perang ke  Indonesia. Sebagai penganut Hindu kaum sudra kemudian  mulai menyebarkan kebudayaan dan agama Hindu.  Pencetus teori ini adalah Van Faber.Teori Waisya dan Sudra dipandang memiliki sisi kelemahan, terutama dalam hal kegiatan upacara-upacara keagamaan tidak mungkin   kaum Sudra dan Waisya dapat melakukannya, yang mempunyai kemampuan dalam memimpin kegiatan upacar keagamaan adalah kaum Brahmana.4.  Teori BrahmanaMenurut teori kaum brahmana dari India sengaja diundang oleh  raja-raja di wilayah Indonesia dari India untuk memimpin upacara-upacara agama Hindu karena merekalah yang dapat  membaca dan mengetahui  isi kitab Weda  dengan benar.  Disamping itu mereka juga diminta untuk memimpin upacara abisheka (penobatan) kepala suku menjadi raja., bahkan selanjutnya para brahmana dijadikan puruhita (penasehat raja).   Teori  ini dikemukakan oleh F.D.K BoschTeori Nasional oleh Van LeurTeori ini berangkat dari fakta bahwa sudah lama terjalinnya hubungan pelayaran  dan perdagangan antaraIndia dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, hubungan yang sudah ada sejak lama  menimbulkan hubungan yang timbal balik diantara keduanya.  Dari segi politis raja mendatangkan kaum brahmana untuk memimpin upacara-upacara dalam agama Hindu agar mendapat legitimasi atas kekuasaannya.  Dari segi ekonomi yang melakukan perdagangan waktu itu bukanlah rakyat melainkan raja melalui wakil-wakilnya.           Adanya hubungan timbal balik yang sejak lama bertujuan untuk menjaga keseimbangan hubungan baik  pada akhirnya  membawa masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu . 

C.   Proses Interaksi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dengan tradisi Hindu – Budha            Sudah  diketahui bahwa  hubungan dagang menjadi awal hubungan antara  India dengan Indonesia. Hubungan dagang yang intensif dan berkelanjutan telah menyebabakan pola-pola hubungan sosial tidak terbatas pada kegiatan perdagangan tetapi kemudian berkembang pada bidang kegiatan lain. Selain pedagang peran dari golongan bangsawan menjadi penting dan tidak bisa diabaikan, karena mereka punya kedekatan dengan kaum pendeta India untuk  menyebarkan agama Hindu dan Budha. Dari golongan bangsawan ini pada akhirnya  golongan masyarakat bawah mendapatkan ajaran hindu  dan budha  sehingga tersebarlah agama dan kebudayaan hindu budha  di Indonesia.             Melihat luasnya wilayah kepulauan Indonesia maka pengaruh  kebudayan dan agama  Hindu Budha  tidak semuanya dirasakan oleh daerah-daerah di Indonesia.  Daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh kebudayan India ditinjau dari sejarah kebudayaan yaitu :Daerah-daerah yang menyisakan peninggalan budaya India seperti candi dan arca, misalnya penemuan candi-candi Hindu  Budha di  daerah, Sumatera Selatan , Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY . Penemuan patung Budha dari perunggu di Jember (Jawa Timur) dan Bukit Siguntang (Sumatera Selatan) yang bergaya Amarawati 
1 1 1