Jawabanmu

2014-08-31T21:43:30+07:00
Panggilan akrabnya Ado, nama lengkapnya
Andri Aryansah, seorang lelaki yang hanya
mengecap pendidikan SD ini berhasil
menjadi usahawan sukses dengan omzet per
bulan mencapai Rp 100 juta.
Semuanya dilalui dengan tidak
menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana
harus sering memakai sandal jepit untuk
sekolah jika musim hujan, sebab sepatu Ado
hanya satu. Jika basah ia tak punya sepatu
pengganti dan terpaksa mengenakan
sandal.
Ia juga masih ingat dengan lekat
bagaimana rasanya berjalan kaki ketika ke
sekolah dan bermain, sementara teman-
temannya bergembira naik sepeda. Itulah
sedikit pengalaman pahitnya di masa kecil,
dari sekian banyak pengalaman pahit yang
dirasakannya. Kesedihan Ado berujung
ketika ia lulus SD pada 1999.
Bapaknya yang hanya bekerja sebagai
buruh bangunan tak mampu membiayai lagi
sekolahnya. Dengan terpaksa dia tidak
melanjutkan jenjang SMP. Dua tahun
kemudian, ia meninggalkan kota
kelahirannya Garut menuju Bandung untuk
mengadu nasib.
Alasannya dia tak mau merepotkan
orangtuanya. Pekerjaan pertamanya di
Bandung bukanlah pekerjaan yang
membanggakan bagi seorang remaja
sepertinya. Ia menjadi pembantu rumah
tangga (PRT) di daerah Dipati Ukur,
Bandung. Pekerjaan itu dia lalui selama
tiga tahun. Pada 2004 Ado “naik pangkat”
dengan bekerja di Record Man, sebuah toko
pakaian yang identik dengan musik cadas.
Kejujuran dan kerja kerasnya membuat Ado
dipromosikan hingga menjadi manajer toko
tersebut. Setelah bekerja di Record Man
selama 7 tahun, Ado memutuskan untuk
keluar dari tempatnya bekerja. “Saya sih
tidak mau terus-terusan kerja pada orang.
Ingin punya usaha sendiri. Lagipula saya
sudah punya pengalaman di bidang pakaian,
jadi tahu seluk-beluk bisnisnya,” kata Aldo.
Bermodal tabungan sebesar Rp 2,5 juta ia
mulai menyewa los di Plaza Parahyangan
berukuran 3×3 dengan biaya sewa Rp 1,4
juta. Meski baru pertama menjalankan
usaha, Ado mengaku yakin bahwa dia akan
berhasil. Meski modal uangnya sedikit, Ado
memiliki modal lain yang lebih penting dari
uang yaitu pengalaman dan jaringan. Ia
punya pengalaman selama 7 tahun di
industri ini dan ia punya jaringan pemasok
maupun pelanggan. Ado menggandeng
teman-temannya musisi musik metal untuk
dibuatkan merchandise.
Ado merupakan seorang pengemar musik
cadas. Usaha merchandise tersebut
ternyata membawa berkah bagi dirinya.
Dalam waktu relatif singkat usahanya
menanjak. Sebagai pengusaha, Ado belajar
melihat tren di pasaran. Ketika persaingan
di bisnis merchandise band mulai ketat, Ado
mencari ide lain. Dia pun kemudian
melakukan diversifikasi desain kaos dengan
membuat desain-desain bergaya Sunda.
Tapi kaos bergaya metal tetap dia
jalankan. Kejelian melihat peluang inilah
yang membuat Ado bisa bertahan hingga
sekarang. Perlahan tapi pasti, usahanya
terus berkembang. Omzet yang awalnya
jutaan berkembang menjadi belasan dan
puluhan juta rupiah.
Dan sekarang menurut Ado angkanya sudah
menyentuh Rp 100 juta per bulan. Meski
usahanya sudah maju dan omzetnya
menggelembung, tapi Ado mengaku tetap
hidup sederhana. Pengalaman di masa lalu
mengajarinya untuk hidup sederhana.
Kesabaran dan keuletan Ado terbayar
sekarang ini.