Jawabanmu

2014-08-31T18:57:57+07:00
Teks Dialog Anekdot Hukum Peradilan             Pada suatu negara disaat air terjun belum terbentuk dan disaat air masih mengalir dari bawah ke atas. Terdapatlah suatu negara yang aneh bin ajaib. Suatu ketika salah seorang warga merasa dirugikan dan dia pun segera melapor ke meja peradilan. Keluarga Tukang Pedati : “Yang Mulia Hakim, saya merasa dirugikan karena kejadian kemarin. Saya mohon Si pembuat jembatan itu dituntut dan dihukum karena perbuatanya!” Yang Mulia Hakim          : “Baik, permintaan anda saya kabulkan. P-E-N-G-A-W-A-L panggil Si Tukang Pembuat Jembatan dan bawa dia kesini!” Pengawal                         : “Baik Yang Mulia Hakim.”             Pengawal pun segera mencari Si Tukang Pembuat Jembatan. Bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami, ternyata Si Tukang Pembuat Jembatan sedang sibuk mencari jarum yang terjatuh ditumpukan jerami di ladang miliknya. Berpuluh- puluh jam kemudian pengawal dan tukang pembuat jembatan pun datang ke pengadilan. Pengawal                     : “Ini tuan si tukan pembuat jembatan itu.” Yang Mulia Hakim     : “Silahkan duduk tamu ku sekaligus calon penghuni hotel prodeo miliku ini.” Si Pembuat Jembatan : ”Apa salah hamba Yang Mulia?” Yang Mulia Hakim     : “Salah kamu yaitu, kamu seorang pembuat jembatan yang telah mengakibatkan si tukang pedati beserta pedati dan barang dagangan mereka jatuh ke sungai.” Si Pembuat Jembatan : “Kalo itu masalahnya ya jangan salahkan saya. Salahkan si penjual kayu yang menjual kayu berkualitas jelek.” Yang Mulia Hakim     : “Benarjuga ya, baik. P-E-N-G-A-W-A-L panggil si tukang penjual kayu dan buang orang dihadapan saya ini!” Pengawal pun segera menyeret si pembuat jembatan dan membawanya pulang. Setelah beratus- ratus menit kemudian pengawal datang dengan menggendong si tukang penjual kayu. Yang Mulia Hakim     : “Silahkan duduk!” Si Penjual Kayu          : “Apa salah ane tuan?” Yang Mulia Hakim     : “Kesalahan anda adalah anda seorang penjual kayu yang menyediakan kayu jelek sehingga jembatan tidak kokoh dan sekarang rusak.” Si Penjual Kayu          : “Ya jangan salahkan ane dong! Ane kan cuman penjual kayu yang membeli kayu dari pengepul pinggiran yang notabene sedang terbelit konspirasi hati karena labil ekonomi di negeri ini. Sehingga mereka hanya mengepul kayu impor murahan karena hutan di negeri ini sudah gundul tuan. Maka salahkan pembantu saya yang menyediakan kayu itu!” Yang Mulia Hakim     : “Betul juga, baik. . P-E-N-G-A-W-A-L bawa orang ini ke penangkalan hewan langka dan panggilkan pembantu si tukang kayu ini!”             Pengawal dengan terengah- engah menggendong si penjual kayu. Setelah beribu- ribu detik kemudian pengawalpun datang dengan digendong oleh pembantu si penjual kayu. Si Penjual Kayu          : “Ini dia pucuk dari permasalahn kita. Penjarakan dia pengawal dan jangan lupa ambil uangnya!” Pembantu Gemuk       : “Loh?”             Pengawal pun membawa pembantu gemuk itu ke penjara. Setelah berjuta-juta detik kemudian pengawal kembali dengan menggandeng pembantu gemuk. Pengawal                     : “Oooh tuan, pembantu ini terlalu gemuk dan terlalu miskin untuk diambil uangnya.” Yang Mulia Hakim     : “Pikir pake otak! Cari pembantu yang kurus tetapi kaya!” Pengawal                    : “Ini tuan.” Pembantu Kurus         : “Loh? Apa salah hamba?” Yang Mulia Hakim     : “Salah anda yaitu anda kurus, banyak uang, dan anda pembantu si penjual kayu.” Pembantu Kurus         : “Loh? Aku? Ini tidak adil!” Yang Mulia Hakim     : “Bagaimana rakyatku? Adil?”
Rakyat                        : “A-D-I-L”
           
Pembantu kurus pun dipenjara dan diambil uangnya untuk ganti rugi sekaligus upah bagi yang mulia hakim. Perkara pun selesai dan semua rakyat pun pulang dengan rasa bahagia kecuali pembantu gemuk yang kehilangan pasanganya.



maaf pandai pandai ya
Kalau gasama kaya dibuku gimana?