Jawabanmu

2014-08-31T07:06:03+07:00
Tragedi semanggi adalah suatu kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda sidang istimewa yg mengakibatkan tewasnya warga sipil.
1 4 1
2014-08-31T07:25:20+07:00
TRAGEDI Semanggi, 13 November 1998 sebuah sejarah yang masih segar dalam ingatan. Bukan saja soal korban yang merenggut anak bangsa seperti: Agus Sutiyana (UI) Teddy (Institut Teknologi Indonesia) Sigit Prasetya (YAI), Rojak (STIE Jagakarsa), Muzamil Djoko (UI) B Irawan (Atmajaya), Sulistiyanto (YAI) dan korban yang tidak sampai “gugur”. Para mahasiswa yang menghendaki perubahan – pasca Tragedi Trisakti seperti ingin menegaskan. Bahwa perjuangan belum mencapai tujuan. Pemerintahan BJ. Habibie yang menggantikan Soeharto (dianggap) belum sepenuhnya bersih dari cara-cara reformasi.Peran mahasiswa, sebagai calon pemilik masa depan, memang tak terelakkan dalam peristiwa di sekitar Universitas Atmajaya – yang awalnya diejek sebagai kampus dengan mahasiswa “ayam sayur”. Namun hari Jumat 13 November, di kampus inilah konsentrasi gerakan menentang pemerintahan saat itu yang kemudian disebut sebagai Tragedi Semanggi (1). Yang ironis, Jenderal Wiranto (Menhankam/ Pangab, waktu itu) menyebut peristiwa yang menelan korban itu dengan enteng, “Itu latihan, bukan tembak-tembakan.”Padahal, ada “liputan” TV langsung yang bisa dilihat jutaan pasang mata di luar arena yang tak ubahnya menonton “film perang”. Bunyi letusan senjata dan bara api, serta praktis memblokir di sekitar Jembatan Semanggi yang dibuat para masa Bung Karno, tak bisa dinafikan. Di mana aparat “bekerja” untuk menghalau demonstran – sebagian adalah mahasiswa dan yang kemudian gugur itu.Tragedi Semanggi 15 tahun lalu itu di satu sisi disebut sebagai gerakan makar. Ini ditolak, satu di antaranya oleh Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI) yang dikenal sebagai tokoh Petisi 50 yang keras. “Saya dituduh makar. Makar apa? Yang jelas kita mendukung mahasiswa yang reformis,” tandasnya setelah bersama yang lain sempat dituduh menunggangi mahasiswa.Kata-kata KH. Said Agil Siradj (pengurus, sekarang Ketua Umum PBNU) cukup menyiratkan, “Mari dewasa, mari kita mampu mendengar suara yang berbeda. Tidak seperti zaman Orde Baru dulu yang selalu bersuara sama.” Bahwa ia berbeda pendapat dengan Presiden Habibie soal tindakan mahasiswa atau warga sipil yang disebut makar.Sehari setelah Tragedi 13 November itu, mahasiswa FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) melakukan long march dari Kampus Universitas Dr. Moestopo Beragama di Jalan Hang Lekir ke Gedung DPR di Senayan. Sekitar 3.000 mahasiswa itu tertahan di Pintu 9 Senayan, dihadang aparat Polisi. Terjadi perdebatan. Sebagian berorasi: tentang kekerasan yang merenggut beberapa nyawa mahasiswa.Pukul 9.10 Wib aparat Polisi ditarik, dan diganti Kostrad dan Marinir. Saat mereka belum menemukan jalan ke luar, ada 3 orang anggota Brimob berkendaraan jeep meluncur dari arah selatan (Kebayoran). Mobil itu dikepung, dan terguling. Akhirnya mahasiswa bergerak hingga ke Jalan Jenderal Sudirman. Di Jalan ini Polisi tampak bersih.Pukul 11.20 suasana panas agak mereda dengan kehadiran Komandan Marinir dari arah Hotel Hilton. “Anda beristirahat dulu, OK?” tawarnya dengan simpatik.Kelanjutannya, sungguh manis. Mahasiswa bergandengan tangan dengan Marinir. Ini hampir mirip dengan adegan ketika mereka (mahasiswa dan Marinir) di sekitar Tragedi Mei – sebelum Pak Harto lengser. Mereka berjalan sambil bernyanyi-nyanyi lagu perjuangan. Reporter TV pun melaporkan dengan gagah, sementara juru kamera harus berjalan di depannya dengan berjalan mundur.