Jawabanmu

2014-08-28T10:41:44+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Saya tidak sedang bicara tentang terorisme. Tapi ini adalah “pelajaran” sejarah bangsa kita tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Puncaknya mereka menangkap dan membunuh tujuh jenderal yang diklaim sebagai “Dewan Jenderal” yang akan melakukan coup terhadap kekuasaan yang sah. Membunuh dan memberi stigma, itulah yang dilakukan PKI. Mereka membunuh orang yang tidak sepakat dengan idiologinya tapi kemudian mencap orang-orang yang dibunuh dengan sesuatu yang jelek. Tujuannya untuk pembenaran dan mendapat simpati publik tentunya. Karena pada umumnya rakyat tidak setuju dengan mereka, tentu akan capek kalau semuanya mau dibunuh. Maka “Dewan Revolusi” PKI di tingkat desa telah memerintahkan rakyat yang lugu untuk menggali lubang di halaman rumahnya masing-masing. Alasannya untuk tempat persembunyian kalau ada serangan dari imperialis. Nek coyo. Catatan sejarah ini dikonfirmasi langsung ibu saya. Beliau menceritakan kalau mbah saya dulu termasuk rakyat yang menggali lubang di halaman rumah yang berbentuk huruf ”L”. Belakangan mbah dan orang-orang kampung baru menyadari bahwa lubang itu dibuat untuk mengubur penggalinya sendiri beserta keluarganya kalau ternyata menentang idiologi PKI. Serem bener ya. Kenyataan kemudian PKI bisa ditumpas. Keadaan berbalik, PKI-lah yang kemudian diburu dan dibunuh. Tetapi polanya sama saja; Membunuh dan stigmatisasi. Pembantaian demi pembantaian berlangsung di mana-mana, mayat-mayat mengenaskan bergelimpangan, berdarah-darah di berbagai peristiwa. “Gandjang PKI,’’ jerit orang-orang Pada masa itu, orang bisa membunuh siapa saja yang tak disenangi—PKI atau bukan kemudian melabeli mayatnya dengan “antek PKI”. Ketika sebuah stigma telah menjadi “common enemy” dalam persepsi publik maka menjadi sangat gampang melekatkannya kepada sesuatu atau ke seseorang. Masyarakat akan cenderung menerima atau memakluminya, yang dalam pemikiran Billig (1991) disebut sebagai sikap yang merefleksikan struktur dan proses kognitif dasar yang stabil. Perilaku seperti ini akan semakin subur di tengah kondisi penegakkan hukum yang loyo. Pada saat yang sama kondisi ini akan memunculkan dendam sejarah yang senatiasa menanti momentum. Pertanyaanya apakah terorisme sekarang juga telah menjadi stigma? *** Inilah mengapa Pancasila disebut sakti, karena idiologi ini mampu menghempang idiologi komunis yang berniat menggeser paksa. Dalam kamus Bahasa Indonesia, “sakti” bermakna “mempunyai kekuatan yang tak dapat ditandingi oleh kekuatan manusia biasa”. Jadi kalau ada seorang pendekar yang disebut sakti, Anda jangan heran kalau dia bisa jalan di atas air, lompat setinggi pohon kepala dan bisa memukul jatuh musuh dari jarak jauh tanpa harus menyentuhnya. Begitulah saktinya Pancasila, sebuah kekuatan yang difahami sebagai sesuatu yang luar biasa. Ini tentu tak ada hubungannya dengan Saktiawan Sinaga, mantan pemain PSMS Medan atau Arifin Sakti Siregar, dokter yang suka membawa wacana bid’ah ke ruang publik itu. Walaupun sama-sama “sakti” tetapi mereka dengan Pancasila seperti dua kuping di kepala Anda. Walaupun dekat tapi gak pernah ketemu, sekalipun di waktu Lebaran. *** Coba Anda andaikan, kudeta yang dilakukan PKI waktu itu berhasil? Dan mereka kemudian mewarisi pemerintahan di tanah air, menjadikan komunisme sebagai dasar negara dan sosialisme sebagai sistim pemerintahan. Kalau ini yang terjadi, yang jelas Pancasila tentu tidak akan disebut sakti. Pahlawan bukanlah Jendral Ahmad Yani dan enam jenderal lain yang mati disiksa di lubang buaya. Pahlawan bangsa ini adalah DN Aidit, Muso, Amir Syarifuddin dan kawan-kawannya yang setiap tanggal lahir dan tanggal matinya dijadikan hari besar nasional. Karena sejarah itu dibuat berdasarkan persepsi pihak yang menang, oleh penguasa, kata orang yang sinis. Kalau begitu, maka jika kekuatan terorisme merebut kekuasaan, tentu Imam Samudera dan Amrozi dkk yang akan jadi pahlawan. Densus 88 akan dicap sebagai kaki tangan kapitalisme atau penghianat bangsa--karena dinilai telah melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap para pahlawan bangsa. Tentu saja, tapi saya yakin dengan sesungguhnya, kalau perang melawan PKI, pun terorisme, akan menjadi catatan sejarah yang "sakti" dan indah jika tidak disusupi interest lain. Tidak menggayang PKI dengan cara-cara PKI dan tidak memerangi teror dengan melakukan teror. Dedi Sahputra