Jawabanmu

2014-08-27T15:54:53+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Poster atau plakat adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar. Pengaplikasiannya dengan ditempel di dinding atau permukaan datar lainnya dengan sifat mencari perhatian mata sekuat mungkin. Karena itu poster biasanya dibuat dengan warna-warna kontras dan kuat.

Poster bisa menjadi sarana iklan, pendidikan, propaganda, dan dekorasi. Selain itu bisa pula berupa salinan karya seni terkenal.

Syarat Poster secara umum :
1. Mudah dilihat.
2. Menarik dan berwarna.
3. Terstruktur.
4. Komunikatif dan informatif.
5. Mudah difahami.
6. Mengikuti persyaratan
2014-08-27T16:24:27+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Poster adalah kelanjutan dari sejarah orang ramai. Bentuk ini adalah teladan terbaik dari seni rupa pasca-auratik ketika aura yang pernah terasa hadir dalam lukisan sebagai ikon religius lenyap, ketika seni rupa jadi barang kebanyakan semenjak lahirnya teknik reproduksi. Walter Benjamin sangat termasyhur dalam membahas soal ini dan saya tak akan mengulanginya di sini.

Yang agaknya perlu dicatat ialah bahwa poster tak akan menemukan bentuknya seperti sekarang seandainya tak ada kehidupan politik yang makin demokratis, gerakan-gerakan revolusioner, dan dorongan-dorongan modal dan kekuasaan yang menderu-deru sejak abad ke-19. Zaman ini juga lahirnya massa sebagai bagian sentral masyarakat.

Tapi massa atau orang ramai tak selamanya merupakan sumber; mereka juga sasaran. Memang benar, sebagaimana disebut dalam Political Graphics, yang disusun Robert Philippe, berbeda dari buku, gambar cetakan pada hakikatnya bersekutu dengan cita-cita rakyat, berada di pihak oposisi, dan sedikit demi sedikit membentuk ikonografi sebuah Kitab Suci sosial. Bagi si miskin, kata Philippe, gambar cetakan adalah sebuah buku doa tentang pembalasan imajiner.

Phillipe terutama berbicara tentang kartun dan karikatur dalam surat kabar, yang mencemooh raja dan para petinggi. Terkadang poster yang disebarkan oleh kaum revolusioner di kalangan buruh juga mengandung semangat populis yang sama. Le Petit Sou karya Steinlen, poster yang dibuat di tahun 1900, adalah contohnya: seorang gadis bergaun merah longgar bagaikan toga, dengan ikat kepala yang menyala dan mata yang nyalang serta mulut yang berseru, memimpin sebuah serbuan kaum proletar.

Yang tak d**emukakan Phillipe ialah bahwa sejarah poster tak selamanya menampilkan amarah dari bawah. Atau setidaknya ada suatu masa ketika batas jadi kabur antara suara populis dan suara kekuasaan. Masa itu abad ke-20, ketika tak jelas lagi sejauh mana buku doa orang yang papa berbeda dari, bahkan bertentangan dengan, seruan yang datang dari yang di atas takhta. Terutama ketika kata demokrasi, yang menyatakan diri sebagai pemerintahan oleh rakyat, dipakai di mana-mana, sementara kata rakyat tak selalu jelas apa artinya.

Kerancuan ini adalah gejala poster abad ke-20 di mana saja, tapi yang lahir di Uni Soviet merupakan contoh terbaik tentang hal itu.

Poster

Sebab, poster yang berkembang di Rusia setelah Revolusi Oktober 1917 tak dapat dilepaskan dari kontradiksi yang terkandung dalam Revolusi Leninis itu. Marxisme-nya meramalkan sebuah transformasi sejarah oleh kaum buruh ketika kapitalisme berkembang jauh hingga kaum proletar merupakan mayoritas sebuah mayoritas yang akan mengambil alih kekuasaan di saat kapitalisme itu rontok bagaikan buah yang matang membusuk. Tapi di awal abad ke-20 itu, tak tampak tanda-tanda kapitalisme hampir runtuh. Lebih penting lagi: di Rusia yang masih terbatas industri dan perkembangan kapitalismenya, kaum buruh belum hadir sebagai mayoritas. Kondisi obyektif belum siap untuk sebuah revolusi Marxis.

Maka revolusi Leninis yang berlangsung di Rusia bertolak dari formula Lenin: perebutan kekuasaan untuk menegakkan masyarakat sosialis bisa dilakukan bukan oleh kaum buruh sendiri, melainkan oleh para kader Partai Komunis. Para kader ini orang-orang yang profesional dalam revolusi, dengan tambahan: mereka dibentuk atau membentuk diri dengan kesadaran kelas buruh. Dalam formula Lenin, peran Partai dalam revolusi itu demikian pentingnya hingga melebihi peran kaum buruh sendiri. Atas nama kaum proletar, Partai menjalankan kediktatoran dalam proses revolusioner dari tahap ke tahap. Dan tentu saja Partai akhirnya berarti pimpinan Partai.

Maka, suara buruh, atau lebih luas lagi suara rakyat, praktis diterjemahkan sebagai suara pimpinan Partai. Yang dari bawah, dari massa, akhirnya tak terdengar. Itu sebabnya Rosa Luxemburg, tokoh sosialis Jerman itu, mengkritik Partai model Lenin sebagai kekuasaan yang membuat massa hanya bergerak secara mekanis atas komando sang pemimpin, seperti sebuah tentara berbaris dalam parade.

Poster yang diproduksikan dalam proses revolusioner itu tak urung mencerminkan sebuah paradoks: di satu pihak, seni rupa membawakan semangat revolusioner dari bawah; di lain pihak, seni rupa datang berkat komando sang pemimpin. Pelbagai gerakan kesenian yang lahir di Rusia di awal revolusi tak melihat paradoks itu, atau mereka tak memandangnya sebagai sesuatu yang mengganggu; mereka yakin bahwa komando adalah sebuah keniscayaan dalam revolusi.

Buku Totalitarian Art, yang ditulis oleh Igor Golomstock, yang pernah bekerja pada Institut Desain Industri di Moskow, menggambarkan keyakinan masa itu dengan rinci. Ia mengutip penyair Mayakoswki, yang aktif dalam gerakan seni rupa itu, ketika menyerang mereka yang menentang kediktatoran selera oleh negara. Atau pernyataan para tokoh Proletkult (kebudayaan proletariat), terutama Aleksei Gastev, yang bicara tentang peran seni rupa sebagai alat rekayasa sosial dan konstruksi jiwa. Atau suara kaum Futuris Ru