Jawabanmu

2014-02-16T22:30:57+07:00
Kebersahajaan Hidup di Tepian Halmaheraoleh Bayu Adi PersadaAngin laut pagi itu membuat saya tak mau beranjak dari kasur tipis dan dekapan selimut. Hari masih teramat pagi. Bunyi weker waktu Subuh sudah berbunyi, adzan pun juga sudah berkumandang dari masjid besar desa.Saya mesti memaksakan diri beranjak ke sumur belakang rumah. Menimba air yang masih berasa payau untuk mengambil air wudhu. Jarak rumah saya yang hanya dua puluh langkah dari laut membuat air tanahnya agak bercampur dengan air laut. Biarpun terasa agak lengket, air sumur ini cukup layak untuk mandi dan minum sehari-hari.—Jalan hidup saya berhenti sejenak di sebuah desa pesisir sederhana di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Desa Bibinoi, namanya. Setahun saya menjalani kehidupan yang berjalan tanpa pernah tergesa-gesa. Tak ada sinyal, listrik yang amat terbatas, dan akses yang cukup jauh dari kota terdekat. Begitulah keadaan desa kami. Meski terdengar memberatkan, saya hanya merasa terisolasi dalam peta. Saya menikmati setiap detik keseharian di desa.Seperti tipikal kebanyakan masyarakat pesisir, kami menggantungkan hidup pada alam. Kondisi geografis desa yang diapit laut Halmahera di utara dan pegunungan di selatan membuat masyarakat memiliki segalanya untuk bisa bertahan hidup. Mereka bisa melaut untuk menjaring ikan dan bercocok tanam di belakang desa untuk kebutuhan makan sehari-hari.Mereka tidak pernah merasa miskin. Setidaknya begitulah penuturan seorang sesepuh desa pada saya. Meskipun rata-rata penghasilan masyarakatnya hanya 300 ribu sampai 500 ribu per bulan, masyarakat tetap dapat makan tiga kali sehari. Tentu tidak masalah makan dengan apa saja yang bisa disediakan. Sagu, singkong, pisang, atau jagung bisa menjadi alternatif makanan pokok.Kebutuhan akan protein pun selalu bisa dicukupi dengan berlimpahnya ikan di lautan. Kecuali pada musim angin, di mana angin laut bertiup kencang sehingga membuat banyak nelayan mengurungkan niat melaut. Di sekitar pantai depan desa, mudah sekali untuk mencari ikan. Inilah yang membuat masyarakat tidak begitu merasa hidupnya sulit karena sedikit apa pun pendapatan, mereka selalu dapat memberi cukup makan bagi keluarganya.Sudah beberapa tahun belakangan, masyarakat mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok menggantikan sagu. Beras memang mesti dibeli di kota. Namun, itu tidak menjadikan mereka beralih dari beras. Sagu tentu saja tetap menjadi pilihan kala penduduk kekurangan beras.Hampir setiap hari ada perahu motor yang pergi ke kota. Biasanya warga memanfaatkan perahu tersebut untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari, terutama beras. Ongkos satu penumpang untuk sampai ke pelabuhan Babang, kota pelabuhan yang paling dekat dengan Labuha, ibukota kabupaten, adalah dua puluh ribu rupiah.Saya tak pernah bosan mengarungi laut untuk sampai ke kota. Sepanjang satu jam lebih perjalanan, saya ditemani hamparan hutan hijau dan belaian angin semilir. Hal-hal sederhana itu selalu bisa membuat imajinasi bergerak tak tentu arah. Jika sedang beruntung, perahu motor melaju ditemani sekumpulan lumba-lumba mulut botol yang berenang di sisinya.