Jawabanmu

2014-08-21T09:25:11+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Sewaktu aku duduk dibangku kuliah, ada seorang dosen mata kuliah kewirausahaan meminta mahasiswanya menuliskan 101 keinginan pada selembar kertas. Pada waktu itu aku tidak tahu apa maksud dari dosen tersebut. Sebagai mahasiswi, aku hanya mengerjakan tugas seperti yang diminta.Pada waktu itu aku tidak benar-benar berpikir, aku hanya menuliskan apa yang terlintas dibenakku. Karena waktu terbatas, maka ada beberapa yang saling tukar dengan teman-teman sekelas. Tetapi semua yang kami inginkan memang hampir sama. Intinya kami ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dari saat ini.Setelah waktu habis, kami diminta mengumpulkannya. Satu minggu kemudian, pada waktu mata kuliah yang sama, tugas kami untuk menulis 101 keinginan dikembalikan dengan tanda tangan dosen tersebut. Dan kami diminta untuk menyimpan kertas itu.Setahun kemudian aku diwisuda dan setelah itu aku menata buku-buku yang digunakan pada waktu kuliah untuk disimpan dalam lemari. Aku menemukan kertas 101 keinginan yang aku buat. Dengan sedikit malu aku mulai membaca keinginan-keinginanku dahulu. Ajaibnya sebagian dari keinginanku sudah terpenuhi.Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyimpan catatan 101 keinginanku dan menyaksikannya untuk terjadi dalam hidupku. Terima kasih Pak Dosen Kewirausahaan yang sudah mengajarkanku untuk mulai bermimpi.

2014-08-21T09:28:06+07:00
Panggilan akrabnya Ado, nama lengkapnya Andri Aryansah, seorang lelaki yang hanya mengecap pendidikan SD ini berhasil menjadi usahawan sukses dengan omzet per bulan mencapai Rp 100 juta.

Semuanya dilalui dengan tidak menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana harus sering memakai sandal jepit untuk sekolah jika musim hujan, sebab sepatu Ado hanya satu. Jika basah ia tak punya sepatu pengganti dan terpaksa mengenakan sandal.

Ia juga masih ingat dengan lekat bagaimana rasanya berjalan kaki ketika ke sekolah dan bermain, sementara teman-temannya bergembira naik sepeda. Itulah sedikit pengalaman pahitnya di masa kecil, dari sekian banyak pengalaman pahit yang dirasakannya. Kesedihan Ado berujung ketika ia lulus SD pada 1999.

Bapaknya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan tak mampu membiayai lagi sekolahnya. Dengan terpaksa dia tidak melanjutkan jenjang SMP. Dua tahun kemudian, ia meninggalkan kota kelahirannya Garut menuju Bandung untuk mengadu nasib.

Alasannya dia tak mau merepotkan orangtuanya. Pekerjaan pertamanya di Bandung bukanlah pekerjaan yang membanggakan bagi seorang remaja sepertinya. Ia menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di daerah Dipati Ukur, Bandung. Pekerjaan itu dia lalui selama tiga tahun. Pada 2004 Ado “naik pangkat” dengan bekerja di Record Man, sebuah toko pakaian yang identik dengan musik cadas.

Kejujuran dan kerja kerasnya membuat Ado dipromosikan hingga menjadi manajer toko tersebut. Setelah bekerja di Record Man selama 7 tahun, Ado memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. “Saya sih tidak mau terus-terusan kerja pada orang. Ingin punya usaha sendiri. Lagipula saya sudah punya pengalaman di bidang pakaian, jadi tahu seluk-beluk bisnisnya,” kata Aldo.

Bermodal tabungan sebesar Rp 2,5 juta ia mulai menyewa los di Plaza Parahyangan berukuran 3×3 dengan biaya sewa Rp 1,4 juta. Meski baru pertama menjalankan usaha, Ado mengaku yakin bahwa dia akan berhasil. Meski modal uangnya sedikit, Ado memiliki modal lain yang lebih penting dari uang yaitu pengalaman dan jaringan. Ia punya pengalaman selama 7 tahun di industri ini dan ia punya jaringan pemasok maupun pelanggan. Ado menggandeng teman-temannya musisi musik metal untuk dibuatkan merchandise.

Ado merupakan seorang pengemar musik cadas. Usaha merchandise tersebut ternyata membawa berkah bagi dirinya. Dalam waktu relatif singkat usahanya menanjak. Sebagai pengusaha, Ado belajar melihat tren di pasaran. Ketika persaingan di bisnis merchandise band mulai ketat, Ado mencari ide lain. Dia pun kemudian melakukan diversifikasi desain kaos dengan membuat desain-desain bergaya Sunda.

Tapi kaos bergaya metal tetap dia jalankan. Kejelian melihat peluang inilah yang membuat Ado bisa bertahan hingga sekarang. Perlahan tapi pasti, usahanya terus berkembang. Omzet yang awalnya jutaan berkembang menjadi belasan dan puluhan juta rupiah.

Dan sekarang menurut Ado angkanya sudah menyentuh Rp 100 juta per bulan. Meski usahanya sudah maju dan omzetnya menggelembung, tapi Ado mengaku tetap hidup sederhana. Pengalaman di masa lalu mengajarinya untuk hidup sederhana. Kesabaran dan keuletan Ado terbayar sekarang ini.

Pesan : Success is my right! Begitu slogan seorang motivator kondang tentang sebuah kesuksesan.

Yah, kata-kata itu bukan bualan belaka, siapa pun berhak untuk sukses, apa pun latar belakangnya