Jawabanmu

2014-08-19T15:11:08+07:00
Tema : Narkoba Lebih dari Sekadar KhamarNarasumber : A. Saefullah M.A. Adakah defnisi spesifik mengenai narkoba dalam Islam ?Definisi mengenai narkoba dalam Alquran tidak ada, karena memang Alquran itu bukan kitab mengatur secara detail satu per satu. Tapi, persoalan narkoba dapat didekati melalui pendekatan qiyas, yakni satu kasus yang tidak ada nash-nya dalam Alquran dicarikan padanan kasusnya yang ada nash-nya dalam Alquran. Hal itu dilakukan dengan melihat ilat (motivasi hokum) yang sama, yakni sama-sama membahayakan. Narkoba bisa digolongkan dalam khamar, namun dampak negative narkoba lebih berbahaya daripada khamar.Bagaimana pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba? Banyak langkah yang bisa dilakukan. Antara lain, melalui bimbingan agama atau dakwah, terutama oleh pihak-pihak yang terkait dengan persoalan narkoba. Dalam konsep Islam lebih besifat sinergi keserasian jasmani dan rohani. Kalau jiwa sehat, tubuh sehat. Dalam masalah narkoba lebih kepada konsep pencegahan daripada sanksi. Memang sanksi hukum Islam itu berat, tapi sebenarnya Islam lebih kepada pencegahan. Untuk kondisi di Indonesia, apa yang bisa dilakukan? Indonesia perlu merevisi UU No. 22/1997 tentang narkotika dan UU No. 5/1997 tentang psikotropika. Perbaikan itu terutama di bagian sanksi hokum pidana terhadap pemakai, pecandu, dan pengedar narkoba. Anda tampaknya tertarik pada masalah narkoba, ada pengalaman sebelumnya? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Pertama, saya pernah jadi pembina Terapi Ilahiah terhadap pecandu narkoba di Cipanas, Jawa Barat, tahun 2000-an. Waktu itu ada sekitar 50 pasien yang kebanyakan merupakan pelajar dan mahasiswa. Saya perhatikan, ternyata para pecandu narkoba itu umumnya adalah orang-orang yang tidak paham agama.Kedua, penyalahgunaan narkoba tidak hanya orang dewasa, tapi anak-anak dan remaja. Bahkan, belakangan ini anak-anak SD pun banyak yang terkena narkoba. Hal ini menimbulkan keprihatinan. Ketiga, putus hukum yang menggunakan hukum positif di Indonesia banyak yang tidak sesuai lagi dibandingkan dengan perkembangan dan rasa keadilan di Indonesia. Misalnya, memilik pabrik ekstasi di Tangerang yang menghasilkan 1,8 juta butir ekstasi per bulan hanya dijatuhi hukuman 3 bulan 28 hari. Kemudian, para pecandu ternyata di penjara mendapat pelajaran baru tentang narkoba.Selain itu, fakta menunjukkan banyak pengedar narkoba tetap mampu menjalankan bisnisnya dari dalam penjara. Apakah hukum yang salah atau para oknum pejabat berwenang yang menangani kasus-kasus narkoba tersebut yang tidak benar. Karena itu, perlu ada alternatif hukum sebagai solusi responsif dan antisipatif terhadap perkembangan masyarakat di Indonesia, khasusnya terkait dengan masalah narkoba.
4 3 4