Jawabanmu

2014-08-13T22:37:00+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Malam ini bis kembali membawaku ke Sukabumi. Ku nikmati setiap jalan yang dilalui. Jalan ini adalah jalan kenangan. Ketika aku tenggelam dalam cinta seseorang yang kini tak di sampingku lagi. Seseorang yang aku kira akan menjadi tempat terakhir cintaku. Seseorang yang telah membuatku menjadi orang lain. Seseorang yang merubah setiap langkah kehidupanku. Seseorang yang akhirnya memilih cinta lain dalam hidupnya dan menghapus setiap cerita yang aku ukir dalam hatinya.

Aku sadar akan setiap lembar kesalahan yang kutulis untuk dirinya. Kesadaran itu muncul ketika dia menutup hatinya untukku. Begitu banyak daftar kesalahan yang ku buat ketika dia menjadi kekasihku.

Namun semangatku kembali muncul ketika aku memasuki ruangan di kampusku. Kini hanyalah cita-cita yang terbenam di otakku. Aku harus bisa bangkit dari hitamnya masa lalu. Aku harus mengukir setiap mimpi yang akan menjadi masa depanku.

Waktu benar-benar telah menghapus bayangannya dari pikiranku. Aku telah mampu menyapu setiap helai cintanya dalam hatiku dan aku telah siap membuka hati untuk orang selain dirinya.

Dari mulai sekarang, aku tidak boleh mengingatnya lagi dan aku harus fokus terhadap cita-citaku. Meski senda gurau menghiasi kelas malam ini. Aku tetap harus serius belajar dan meresapi setiap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosenku.

Setelah melewati dua mata kuliah malam ini, saatnya aku untuk kembali ke kotaku tercinta, Cianjur. Aku berjalan dengan senyuman menuju tempat pemberhentian bis. Tanpa ada ini itu, aku langsung naik bis yang sedang mejeng di dekat kampusku. Aku duduk di bangku urutan keempat dari belakang sopir. Aku duduk manis dan menyandar ke kursi.

Hari ini sangat melelahkan tapi juga menyenangkan. Entah kenapa aku selalu merasakan kebebasan hati ketika aku belajar di kampus. Hatiku selalu terasa damai menjalin silaturahmi bersama teman-teman kuliahku.
Meskipun Sukabumi pernah menyimpan kenangan burukku bersama seseorang, tapi aku selalu merasa tenang bila terdiam di kota ini. Aku tak pernah merasa galau atau pun risau ketika harus kembali ke kota ini. Begitu pun dengan apa yang ku rasakan saat ini, hatiku terasa sangat tentram. Kegiatanku hari ini, dari mulai bekerja sampai kuliah malam, membuatku tertidur di dalam bis yang masih diam ini.

Sampai bis berjalan mengantarkanku pulang ke rumah, aku masih tertidur pulas.

“Neng, ongkos Neng!” kata kendektur bis sambil menepuk-nepuk pundakku.

Dengan perlahan aku membuka mata dan mengumpulkan nyawa yang baru saja melewati dunia mimpi. Kemudian aku mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari saku dan memberikannya kepada kondektur itu. Kondektur itu pun berlalu begitu saja.

“Mang, mana kembaliannya?” teriakku kepada kondektur itu.

“Kembalian apa, Neng?” balas kondektur itu yang masih menarik ongkos dari penumpang lainnya yang duduk di bangku paling depan.

“Biasanya juga enam ribu!” aku mulai mengerang dan kesal.

“Ini bis terakhir, Neng. Jadi ongkosnya beda.”

“Iya, biasanya juga enam ribu. Kalau malam aku selalu naik bis terakhir, naik bis Sangkuriang saja ongkosnya enam ribu,” aku semakin kesal kepada kondektur bis itu.

Kondektur bis itu tidak menggubris perkataanku, ia malah menggerutu kepada sopir bis, “Da ieu mah lain beus Sangkuriang atuh!” Kondektur bis itu berkata kalau bis ini bukan bis Sangkuriang.

“Biasanya enam ribu, ya? Memang Teteh sudah dari mana?” tanya seorang pria yang duduk di sampingku.

Tanpa memperhatikan wajahnya aku membalas pertanyaannya, “Iya, biasanya juga enam ribu. Setiap hari Selasa dan Rabu aku selalu pulang malam dan ongkosnya selalu enam ribu.

“Memangnya Teteh sudah dari mana?”

“Kuliah,” jawabku singkat.

Lalu kami terdiam dalam hening. Aku terdiam melirik pemandangan jalan di kala malam dari balik jendela bis. Malam begitu sunyi, sesunyi hatiku setelah kepergian dia yang dulu meramaikan hatiku.

Bis terus melaju melewati jalanan yang mulai sepi dari pengunjung berkendaraan. Waktu terus berdetik menghampiri malam dan kedinginan. Sedangkan aku terus termenung me