Jawabanmu

2014-08-11T21:39:03+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
                                                    Mr. purple
Kejadian ini terjadi pada pagi hari tepatnya pada tanggal 16 desember 2013, pada waktu itu siswa  siswi sman 1 taman sedang sibuk clasmeet dan ada juga yang masih remidi untuk memperbaiki nilai UAS kemarin. Perkenalkan namaku kharisma erwita , biasa dipanggil eris. Waktu itu aku sedang berada di ruang guru, tepatnya ketika aku sedang menunggu guru mata pelajaran PLH untuk mengikuti ulangan susulan karena pada waktu diadakannya ulangan itu aku tidak masuk sekolah. Pagi itu aku sedang bersama kedua temanku yang bernama Oliv dan Novi. Tiba-tiba ada dua orang adik kelas menghampiri kami. “mbak bisa minta LJK nggak ? aku ada remidi dadakan nih” salah satu dari adik kelas itu meminta Lembar jawaban ulangan kepadaku , mungkin karena mereka tau aku membawa beberapa lembar jawaban ulangan. Aku hanya mengiyakan ketika mereka berdua meminta kepadaku. Setelah beberapa langkah berjalan, dan akhirnya dia kembali dan berkata “mbak boleh pinjem bullpen juga gak? Pliss mbak” . tak kuasa aku menolaknya karena tidak mungkin aku membiarkan seseorang kesusahan, apalagi itu adik kelasku sendiri. “yaudah deh tapi balikin yaaa, soalnya ini bullpen bukan punyaku. Ini punya temenku” pertanda aku mengiyakan. “oke mbak makasih, gak usah khawatir kalau mau nyari aku, aku ada di kelas IPS 3” dia semakin meyakinkanku. Aku Cuma bisa berharap agar bullpen tadi kembali kepadaku dengan keadaan baik-baik saja.
          Dua jam kemudian aku mendapat  informasi bahwa aku harus secepatnya menuju kelas IPA 3 untuk mengikuti remidi matematika. Yaa matematika , matematika dan lagi-lagi matematika. Sesungguhnya aku tidak terlalu menyukainya. Terlebih ketika aku smp guru matematikaku sangat galak. Kembali kecerita, ketika aku memasuki kelas IPA 3 aku sangat bingung. Bukan karena aku takut akan menghadapi remidi, tetapi aku sangat kebingungan karena tidak mempunyai bullpen untuk mengerjakannya. Beruntung aku masih mempunyai teman baik yang bernama ryan. Dia selalu ada disaat aku butuh. Dia meminjamkan salah satu bullpen untukku.           Setelah selesai  mengikuti remidi pelajaran yang paling menakutkan yaitu matematika, aku pergi ke lapangan futsal bersama salah satu sahabatku yang bernama novi. Dia selalu setia menemaniku kemanapun aku mau. Secara tidak sengaja , aku bertemu lagi dengan sosok adik kelas, tidak lain yang telah meminjam bulpenku tadi pagi ketika di depan ruang guru. tetapi dia sedang mengikuti pertandingan futsal. Sangat tidak menyangka ternyata dia seorang atlet sepakbola di sekolahku. Aku tidak mungkin memanggilnya hanya karena untuk meminta bullpen kepadanya, sedangkan dia sedang sibuk menggiring bola ke arah gawang lawan. Aku takut dia memarahiku dan memaki-makiku. Dan lagi-lagi aku harus bersabar menunggu sampai dia selesai memainkan pertandingan bersama timnya. Sekitar 30 menit aku menunggu usainya pertandingan futsal antar kelas dan akhirnya pertandingan itu usai juga. Mau tidak mau aku harus mengejar nya di tengah lapangan. Semua orang yang ada di sekeliling lapangan melihatku. Mungkin mereka mengira bahwa aku pacarnya yang berlari mengejarnya hanya untuk memberikan minum atau tissue. Padahal aku hanya mau meminta bullpen. Dan lagi-lagi aku harus sabar menghadapinya, ternyata bullpen yang aku pinjamkan kepadanya hilang entah kemana. Tetapi sekarang suasana sudah berbeda. Entah kenapa aku jadi sangat nervous ketika mengajaknya berbicara kepadanya. Aku tak kuasa memandang sorot matanya. Oh tuhan apa yang terjadi denganku saat ini ? mengapa sangat berbeda dengan keaadan tadi pagi ketika berbicara dengannya ? aku tak mau pembicaraanku dengannya segera berakhir. Aku hanya bisa membisu dihadapannya dan aku hanya bisa tersenyum tanpa alasan. Tak banyak bicara, dia menyerahkan sebuah bullpen berwarna ungu dan tak lama kemudian dia pergi berlalu meninggalkanku. Memperkenalkan diripun kami belum sempat. Oh Tuhan, aku masih mau berlama-lama dengannya. Hey, siapa nama seorang malaikat misterius pemilik bullpen berwarna ungu itu ? sebuah bullpen yang menyimpan beribu memori dan rahasia , tentunya juga perasaan yang akupun juga tak mengetahui makna dan maksud dari detakan ketika aku berbicara dengan si pemilik bullpen ungu itu.