Jawabanmu

2014-08-12T17:25:33+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
(Who) Dialog terdiri dari 1 Pembawa Acara dan 3 Nara sumber, sayangnya tidak ada interaktif dari penelepon atau Twitter, 

(What)Tema : Memilih kabinet mentri profesional (Where and When) Acara : Dialog 2 Agustus 2014, Jokowi Harus mencari menteri yang Fokus Dan Kompeten, di siarkan Metro TV
Masalah  Kesan bahwa mentri yang berasal dari Partai pasti korupsi

(How) Poin Diskusi  Semua orang berhak menjadi mentri selama dia pintar,jujur dan bersih Di banyak negara banyak mentri dari parpol tapi bersih Sayangnya contoh di Indonesia banyak mentri dari parpol melakukan korupsi

Nara sumebr : keberhasilan pemerintahan kedepan amat bergantung dengan kinerja kabinetnya, bagaimana proporsi profesional dan partai, serta bagaimana mencari yang kompeten cepat kerja dan bebas korupsi, sehingga tidak hanya diskusi tapi bekerja 
Sekjend Partai Nasdem : Patrice Rio Capella  Pengamat Politik : Ikrar Nusa Bakti Pakar Hukum Pidana : Asep Iwan Iryawan 

Selamat datang dan terima Kasing 

Pembawa Acara: Kang asep kita menginginkan kabinet yang profesional dan bebas korupsi, padahal nanti ada juga yang dari partai masuk bagaimana nih?
Asep : saya pikir konstitusi kita jelas, presiden dibantu mentri , pasal 17, uu no 39 tahun 2008, harus jujur bersih atau jujur pintar, mentri itu pembantu, metri itu tukang bersih bersih, sebelum membersihkan harus bersih, tidak bisa dibatasi dari akademis atau parpol, yang penting jujur, pintar, dan berani

Pembawa Acara: tapi kalau dari politik kan bisa aja ada background kepentingan

Asep : Sebenarnya nda ada jaminan apakah ademikis bersih, dan di jaman kita sekarang semua serba terbuka, ada monitoring dari social media, yang penting jelas terlihat track recordnya, tapi nanti presiden terpilih harus belajar dari pengalaman, misal pada zaman dahulu ada contoh mentri hukum tapi tidak dari hukum, kita berharap ke depan bisa mendapatkan banyak mentri bagus seperti jaman dulu kita punya mentri agama seperti ayahnya gusdur.  Dan jangan sampai mentri tidak membantu presiden tapi malah ikut proyek dan mengotori partai yang mengusungnya

Pembawa Acara : contoh sekarang nih menkuham dari parpol, coba nih bang rio, kalau ke depan ingin profesional 

Rio : jangan sampai ada stigma kalau mentri dari parpol pasti korupsi dan tidak beres, jangan sampai nih, parpol ada manfaatnya, jangan dihakimi , maka semua dari parpol tidak bisa digeneralisir 

Pembawa Acara : iya semua mentri dari parpol dapat label sama semua ya?

Rio : kabinet profesional  itu kabinet kerja, dia masuk parpol tapi kerja tidak apa apa, dia selain tahu juga harus punya leadership, dia harus seperti dirigen yang bisa mengatur semua dan bisa gerak cepat, nah contoh kalau dia dari parpol di menkumham, tapi lebih ke arah anti korupsi, harus punya komitmen cukup, tidak hanya ttd pakta integritas, tapi bagaimana dia menjaga keluarga, partai, dan harapan 

Pembawa Acara : Baik kalau begitu belajar dari pengalaman sekarang, apa nih yang kira kira harus ditekankan 

Rio : emang ini masalah dikotomi mengenai profesional mentri dan orang partai, itu muncul 1957 dimana kabinet sebelumnya diganti oleh  kabinet karya dari Juanda, di mana ada militer non militer, tapi kalau kita perhatikan di australia semua berasal dari parpol dan semua lancar, Sayangnya juga jaman SBY kebanyakan mentri dari parpol yang melakukan korupsi dan membuat orang melihat semua mentri yang korup dari parpol,  yang penting KPK pada era abraham samad apabila bisa bagus, dan konsep ceteris paribus dimana kita melihat KPK bisa berjalan mandiri tanpa gangguan dari faktor luar. 
Pembawa Acara : Baik terima kasih atas waktunya Bapak bapak sekalian 

2 4 2