Jawabanmu

2014-08-10T04:58:03+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Anggota Komnas Hak Asasi Manusia Siane Indriani membeberkan kronologi penembakan terduga teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Keterangan ini berbeda dengan cerita versi polisi.

Siane mengatakan, kejadian yang menewaskan Nudin alias Bondan itu bermula pada Senin (10/6), pukul 15.35 WITA. Nudin saat itu berboncengan dengan temannya mengendarai sepeda motor Revo bernopol DN 4159 EI. Nudin saat itu telah dibuntuti polisi di Jalan Pulau Seram.

Pada pukul 15.40 WITA di Jalan Pulau Irian, tepatnya di depan Lorong Jalan Pulau Seribu, sepeda motor yang dikendarai Nudin ditabrak oleh mobil polisi yang telah membuntuti sebelumnya.

"Dalam kronologi versi polisi disebutkan Nudin menabrak mobil polisi," kata Siane, Selasa (11/6).

Setelah sepeda motor terjatuh, dua terduga teroris itu sempat melarikan diri ke dalam Lorong Pulau Seribu. Melihat keduanya lari, polisi melepaskan tembakan sebanyak delapan kali, Nudin tertembak dan lainnya berhasil kabur.

Dalan kronologi polisi, terduga teroris menembaki aparat sehingga polisi memberikan tembakan balasan. Sementara sepeda motor digunakan terduga teroris yang tertinggal di tempat kejadian perkara diamankan oleh anggota TNI di Poso.

Selanjutnya, pada pukul 20.00 WITA, massa menuju Polres Poso guna meminta jasad Nudin, namun tidak dipenuhi oleh polisi. Sebelumnya juga terdengar suara tiang listrik dipukul berkali-kali.

Komnas HAM juga menyesalkan pernyataan polisi yang berlawanan dengan fakta di lapangan. Selain itu, Komnas HAM juga meminta Kapolri untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya agar menenangkan warga di Poso yang saat ini marah.

"Kami menyesalkan tindakan Densus 88 yang sangat represif sehingga malah memprovokasi kemarahan warga," kata Siane.
iaaa :) maaf agak telat semoga bermanfaat adja yaaa...
oke
iaaaa.. :)
sip (y) bantu aku ya kalo aku ada pertanyaan
InsyaAllah klo pas sya lgi On :) pasti di bantu....
2014-08-10T05:22:32+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Tragedi Poso dan Solusinya

KRONOLOGIS KEJADIAN KERUSUHAN MASSA DI KOTA POSO PADA TANGGAL 25 DESEMBER 1998. (Waktu, tempat, pelaku serta korban)

25 Desember 1998

pkl. 02.00 Wita : Terjadi penganiayaan di mesjid Darusalam Kel. Sayo terhadap Korban yang bernama Ridwan Ramboni, umur 23 tahun, agana Islam, suku Bugis palopo, pekerjaan mahasisiwa, alamat Kel. Sayo, yang dilakukan oleh Roy Runtu Bisalemba, umur 18 tahun, agama Kristen protestan, suku pamona, pekerjaan, tidak ada, alamat jl. Tabatoki – sayo. korban mengalami luka potong dibagian bahu kanan dan siku kanan.

26 Desember 1998.

bergerak mencari miras yang ada diToko dan Gudang.Kemudian semua miras dikumpul pada tempat parkir lapangn MAROSO, sampai pada pukul 15.30 Witaselanjutnya miras senentiasa terkumpul lalu dimusnakan.

27 desember 1998

Pasukan herman parimo bergerak menuju kota Poso dan melakukan demonstrasi kekuatan sambil melempar rumah-rumah dan toko-toko disekitar Jl. P. Kalimantan dan Sumatra sehingga masyarakat gebangrejo kaget karena sudah damai dan aman mengapa masih ada kerusuhan dengan serangan tiba-tiba sementara masyarakat sudah tenang istirahat setelah sholat tarawih.

28 Desember 1998

06.00 Massa herman Parimo yang seluruhnya beragama kristiani + 5000 personil itu mulai menyerang melempar dan membakar rumah penduduk Islam Jl. P. Kalimantan kemudian massa Islam datang satu demi satu mengadakan perlawanan dari anak-anak sampai orang tua pria dan wanita dan komando jihad fi sabilillah mulai dikumandangkan dikumandangkan dengan pekik Allahu akbar. Oleh tokoh masyarakat Islam yang punya karismatik maka terjadilah bentrokan dengan menggunakan lemparan batu. Tombak, parang, senapan angin dan lain-lain termasuk bom Molotov (rakitan dengan mengunakan botol) dari kedua bela pihak dan massa muslim bergerak dari arah gebangrejo, kayamanya, moengko,lawangga, dan bonosompe + 1000 personil melawan 5000 personil massa Kristen yang dipimpin oleh Herman Parimo. Demikanlah bentrokan terjadi tanpa seorang pun aparat keamanan yang mampu mengendalikan bentrokan berlangsung pada pukul 06.00 pagi sampai dengan jam 12 siang dan massa kristiani yang dipimpin Herman Parimo mengundurkan diri serta lari kearah gunung bukit pancaran TVRI yang lainnya menyerah minta ampun dan minta perlindungan dari massa umat Islam mereka pun semuanya dilindungi dan diamankan dalam ruang gereja tanpa ada ganguan sedikitpun.

29 Desember 1998

kunjungan gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah memimpin rapat yang dihadiri MUSPIDA Tingkat I, Tokoh masyarakat,Tokoh Agama Tingkat I MUI, Pendeta Sinode, Bupati KDH Tingkat II dan muspida serta tokoh-tokoh Agama dan masyarakat di kota poso bersama kelompok yang menamakan diri Mujahid Fisabilillah melalui coordinator selaku juru bicara ,membicarakan keamanan Kota Poso setelah dikuasai oleh Anggota Mujahid Fisabilillah Umat Islam ( disingkat Mujahid ) Kota Poso .karena aparat keamanan tidak berfungsi secara maksimal selama kerusuhan berkecamuk.

30 Desember 1998

06.00 Para pesuru yang mengunsi berdatangan menyerahkan diri kepada petugas dan penduduk yang mengawasi mulai berdatangan kembali dalam keadaan lemah :

1.    Ditampung dan dilayani (makan) diposko penampungan yang dipusatkan do GOR Poso.2.    Yang Luka-luka diawali dirumah sakit.

Pukul 08.00 Pasar sentral sebagai pusat perekonimian masyarakat kota Poso mulaipulih kembali. Para penjual dan pembeli sudah berdatangan sehingga kegiatan sudah kembali seperti biasa. Pukul 09.00 keadaan kota Poso sudah pulih dan netral.

08 Januari 1999

Pertemuan tokoh Agama. Ulama, pendeta dan tokoh agama Islam, tokoh pemuda Kristen dihadapan bupati kepala daerah tingkat II Poso dan Muspida Tingkat II Poso serta Tim Komnas HAM pusat menghasilkan kesepakatan perlu membentuk Forum Komunikasi antar umat beragama Kabupaten Poso.

12 Januari 1999

Terbentuk Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Kabupaten Poso yang denganterbitnya Surat Keputusan BKDH Nomor 454.5/0207/ SOSIAL tentang pembentukan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) di Kabupaten Dati II Poso.

26 Januari 1999

FKAUB Mengadakan Rapat dan menghasilkan

Tata kerja FKAUBProgram Kerja FKAUBPembentukan pos Komunikasi FKAUB