Jawabanmu

2014-07-26T01:27:26+07:00
Raisyaaa

Raisyaaa, semua karenamu
“Raisyaaa.. Raisyaaa” panggil wanita tua di hadapan Raisya.
Seolah tak menggubris, Raisya hanya terdiam kaku, bibirnya terkatup, dan matanya tertutup. Suasana sunyi, yang terdengar hanya kicauan burung kacer bernyanyi tanpa melodi.
“Raisyaaa.. Raisyaa” sahutan itu kembali menghujam panca indera Raisya. Egois memang, jika tetap menyahut walau tak disahut. Tapi entah kenapa, sahutan demi sahutan tak kunjung membangunkan Raisya.
“Naaak. Bangun nak..” kali ini wanita tua itu mencoba mengguncang-guncangkan tubuh mungil berusia 12 tahun itu. Berharap Raisya dapat merespon panggilannya.
Sang wanita tua mencoba mencari urat nadi Raisya, ditekan pelan pergelangan tangan Raisya, ya ternyata masih bersuara. Telinganya mencoba mendekati tempat degup jantung Raisya, untuk berharap masih berbunyi. Ya, cara itu berhasil. Dia mendengar detak jantung Rasya.
“Raisyaa, kenapa kamu naak, kenapa tiba-tiba kamu pingsan?” cetus wanita itu mengusap kepala Raisya yang masih tak sadar dengan lembut.

Wanita tua itu, melangkahkan kakinya menuju laci meja belajar Raisya, meraih sebuah botol kecil, berisi air. Dengan langkah tergopoh, dia kembali menuju ranjang Raisya. Botol kecil itu dibuka, dan diarahkan ke telapak tangannya. Telapak tangan yang sudah mengerut itu diusap halus ke kepala dan ke hidung Raisya. Dia masih tetap tersedu dalam kesunyian suasana. Seolah-olah ada suatu beban yang membuatnya tak berdaya.
“Hughh..” desahan napas pendek itu, keluar dari mulut mungil Raisya, diikuti gerakan tangannya mencoba mencari-cari sesuatu.
“Ibuu” lanjutnya pelan dan berangsur mulai membuka mata.
“Iyaa nak” raih wanita tua itu menitih Raisya untuk duduk. Tangannya di pundak Raisya, dan matanya melirik sedu.
“Buu.. Maafin Raisya”
“Maaf kenapa naak?”
“Raisya udah ngerepotin Ibu” sahutnya menatap wajah wanita tua itu iba.
“Nak. Gak usah pikiran itu, Ibu ini orangtuamu, sudah seharusnya ibu mengurusmu, menjagamu, dan tetap di sampingmu apapun itu saatnya.”
“Iya buu. Raisya tau. Tapi sudah berkali-kali Raisya merepotkan Ibu, membuat Ibu panik karena kondisi fisik Raisya. Raisya yang tak sempurna tanpa kaki yang utuh sudah keterlaluan mengganggu Ibu. Raisya bosaaan bu, bosaaaan” tangis pecah belah mengikuti nada suara Raisya.