Jawabanmu

2014-02-03T20:48:07+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Narator (N), Malin Kundang (M), Saudagar (S), Wanita (W), Ibu (I).
N: Suatu hari di desa ..... yang terletak di pulau... hiduplah seorang janda yang miskin. Janda itu sudah tua dan tak kuat lagi untuk bekerja. beruntunglah ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Malin Kundang. Malin Kundang amat disegani oleh masyarakat sekitar karena arif budinya. Malin kundang pun terkenal sangat rupawan. Suatu hari di rumah Malin Kundang.
I               : "Malin, kemarilah!"
M            : "Ada apa ibu?"
I               : "Bantu ibu membawa sayuran ini, ibu sudah lelah, nak"
(malin kundang mengangkat bakul berisi sayuran) M            : Sayuran ini dikemanakan ibu? I               : Bawa ke Saudagar, nak. Ia mau membeli semua sayuran ini. Ia berada di pesisir pantai. M            : Baik ibu, saya akan membawanya ke Saudagar I               : Wahh.... Malin ibu bangga padamu, kau anak yang berbakti pada orangtua! M            : Ahh ibu bisa saja, yasudah Malin pergi dulu ya bu! Malin pun sampai di pesisir pantai. Ia melihat kapal yang amat besar yang penuh dengan muatan. Disana juga ia melihat gadis-gadis yang sangat cantik jelita. Rupanya kapal tersebut adalah milik Saudagar M            : Hmm.. Andai saja aku bisa naik ke atas kapal itu.. S              : Hai anak muda! Kau anak penjual sayur itu kan? Nah, bawa kemari sayurnya! Malin Kundang membawa sayur itu kepada Saudagar. S              : Bagus, terima kasih anak muda! M            : Sama-sama saudagar, ini memang sudah kewajiban saya. Saat hendak meninggalkan pesisir pantai, Saudagar pun menghentikan langkah Malin Kundang. S              : Tunggu, anak muda! Siapa namamu! M            : Nama saya Malin Kundang S              : Malin, aku sedang kekurangan orang untuk berlayar di kapalku. Aku butuh orang muda yang masih kuat sepertimu. Apa kau mau ikut denganku? M            : Tapi bagaimana dengan ibuku? S              : Jangan khawatir, ibumu akan baik-baik saja. Jika kau ikut bersamaku kau akan menjadi kaya seperti aku! Lihat kapalku itu! Penuh dengan muatan dan gadis-gadis cantik kan? Kau pasti juga ingin menjadi saudagar bersamaku. Kau akan banyak uang, dan segala yang kamu inginkan bisa kamu beli! Malin Kundang pun silau matanya mendengar ucapan Saudagar itu. Maka ia pun langsung naik ke atas kapal dan setelah sekian lama ia pun menjadi saudagar kaya. Suatu hari Malin sedang berbincang-bincang dengan kedua istrinya di atas kapal.  W1        : Malin suamiku, bolehkah aku membeli perhiasan baru? Punyaku sudah kuno dan jelek M            : Tentu saja, tentu! Beli saja semua sesukamu. W2         : Bagaimana denganku? Aku juga mau punya baju baru. M            : Belilah! Tak taukah kau bahwa aku ini sangat kaya? Bahkan kekayaanku tidak akan habis sampai tujuh keturunan. W1         : Bagaimana dengan keluargamu Malin? Apakah kau punya adik atau kakak? M            : Tidak, aku sendirian. Ayahku pergi sejak aku masih kecil, dan ibuku sudah meninggal dunia. W2         : Jangan sedih ya sayang M            : Tak apa-apa, lagipula kan ada kalian Kapal yang ditumpangi Malin beserta kedua istrinya berlabuh di sebuah pantai dimana ibunya sering berjualan disana. Ketika Ibunya melihat Malin di atas kapal maka bangkitlah ia dari duduknya dan berlari menuju anaknya. I               : Malin anaku! Kemana saja kau? Mengapa tak beri kabar pada ibumu? Ibu rindu padamu nak Malin Kundang mendorong Ibunya hingga terjatuh ke tanah. M            : Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku! W2         : Wanita itu ibumu? Bukankah tadi kau bilang ibumu sudah meninggal? M            : Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku! Pergi kau dari pandanganku! Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat sedih. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Maka ibu nya pun menengadahkan tangan sambil berkata. I               : Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu! Sesaat setelah itu, kapal yang ditumpangi Malin tiba-tiba diombang-ambing badai yang dahsyat. Gemuruh petir tiba-tiba turun di atas kapal tersebut. Tiba-tiba Malin teringat akan ibunya. Ia sudah durhaka pada ibunya. M            : Ampun! Ibu! Ampun! Ia menangis sedih sambil memohon ampun. Namun apadaya dirinya sudah berubah menjadi sebuah batu



7 4 7