Jawabanmu

2014-02-03T19:26:13+07:00
Dalam Kitab Syamsuzh Zhahirah yang menerangkan tentang nasab fam bin Syahab, nama Imam Bonjol tidak tercantum dalam nasab bin Syahab. Ternyata, nama Syahab dari nama Tuanku Imam Bonjol adalah nama gelar, dan tidak terhubung dengan nasab dari fam Syahab Ba’alawi Al-Husaini. Kalau begitu kemana nasab Tuanku Imam Bonjol, Jika ia bukan bin Syahab? Mengapa Tuanku Imam Bonjol memakai gelar Syarif Muhammad Syahabuddin?.

Dalam hal ini Almarhum KH. Ali Maksum (Sesepuh NU) menjelaskan bahwa, “Meskipun Imam Bonjol bukan dari fam bin Syahab, namun ia adalah masih termasuk Ahlulbait dari Sayyid Muhammad Syahabuddin Al-Husaini I seorang Ulama Minangkabau yang lahir tahun 1492 M, dan sampai saat ini keturunannya masih ada”.

Dari Buku Api Sejarah, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, ada fakta tersembunyi yang diungkap, diketahui bahwa Imam Bonjol membuka hubungan dagang dengan Amerika Serikat sehingga masuklah koin emas dari Amerika tersebut ke Sumtra Barat, dimana masih digunakan oleh masyarakat minangkabau hingga hari ini.

Imam Bonjol mengadakan kotak niaga dengan Amerika Serikat. Pemerintah kolonial Belanda berupaya memutuskannya dengan cara memprovokasi pecahnya perang Padri 1821-1837. Dari kontak niaga inilah masuk koin-koin emas (piti ameh) yang di Sumatra Barat dikenal dengan sebutan Ringgit. (Buku Api Sejarah, Jilid 1)

Ulama-Ulama di Nusantara dan juga alam Minangkabau (Kesultanan Pagaruyung) dalam melakukan perjalanannya berdawah juga memegang dua hal dalam kesehariannya yaitu Dien Islam dan Perniagaan.

Seorang pencetus  gerakan dinar dan dirham pertama di Indonesia adalah keturunan dari Imam bonjol, dimana dia secara pribadi telah melihat silsilah lengkap kakek beliau tersebut secara langsung dari ahli nasab yang memegang silsilah Tuanku Imam Bonjol, dari situ diketahui ternyata Tuanku Imam Bonjol bergaris nasab kepada juga Sunan Giri.

Sekilas Riwayat Tentang Imam Bonjol.
Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat 1772 – wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), bernama asli Petto Syarif. Lalu mendapatkan gelar Muhammad Syahabuddin.

Beliau adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan di Bonjol, Pasaman, Indonesia pada tahun 1772. Beliau kemudiannya meninggal dunia di Manado, Sulawesi pada 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa. Tuanku Imam Bonjol bukanlah seorang Minahasa. Dia berasal dari Sumatera Barat. “Tuanku Imam Bonjol” adalah sebuah gelaran yang diberikan kepada guru-guru agama di Sumatra. Nama asli Imam Bonjol adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belanda yang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pengasas negeri Bonjol. Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama turut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni.
1 3 1