Jawabanmu

2014-06-14T22:48:35+07:00
Ir Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan juga sebagai Pahlawan Proklamasi, Soekarnoyang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta. Saat ia lahir dinamakan Koesno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.  Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi IT. Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
2014-06-14T23:40:11+07:00
     Ir. Soekarno (6 Juni 1901- 21 Juni 1970) yang ditetapkan sebagai Presiden Pertama dan Proklamator RI, pada masa penjajahan Belanda aktif memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia melalui Partai Nasional Indonesia (PNI). Ia berani menentang penjajah, sehingga beberapa kali ditangkap. Sewaktu diasingkan ke Ende, Flores, Bung Karno terus mendalami agama Islam dengan melalui korespondensi hingga lahirlah buku "Soerat-Soerat Islam Soekarno". Pertama kali memasuki kota Surabaya untuk melanjutkan studinya, Soekarno berada di bawah asuhan HOS Cokoroaminoto, ulama besar pendiri Syarekat Islam. Tertarik kepada sang pemuda, HOS Cokroaminoto mengawinkan putrinya, Utari, kepada Soekarno Muda. Sayang, walaupun kemudian hari berguru kepada A. Hasan Bandung, ternyata Soekarno kurang memberi perhatian kepada Islam. Dengan paham sekulernya Soekarno tidak berusaha mengakomodasi aspirasi Islam yang menghendaki sila pertama dari karyanya (Pancasila) berubah bunyi menjadi: "Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya". Selama kepemimpinan Ahmad Hassan (1883 - 1958), terjadi konflik antara Bung Karno dan pemimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang tidak setuju terhadap ide Demokrasi Terpimpin. Mereka menganggap Soekarno memberi peluang kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebaliknya Soekarno menganggap mereka bersimpati terhadap gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Akhirnya, pemerintah Indonesia membubarkan partai itu (1960).