Jawabanmu

2014-06-08T13:40:44+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
mawar

Aku terlahir di keluarga yang berkecukupan. Ayah dan ibu ku mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Mereka sama-sama sarjana. Waktu aku belum lahir tepatnya tahun 1995, ayahku menjadi Kepala Sekolah di salah satu sekolah swasta di daerah Jakarta Timur. Kehidupan ayah dan bunda ku semakin berwarna, karena lahirnya seorang putri yang sudah lama sekali mereka dambakan. MAWAR, sebuah nama sederhana yang memiliki seribu makna. Itulah nama yang diberikan orangtua ku kepada ku. Di usia ku yang ke 2 tahun ujian menghampiri keluarga ku. Ayah ku divonis terkena penyakit yang cukup parah. Menurut bahasa kedokteran, ayah ku mengidap penyakit Herniated Nucleus Pulposus (syaraf kejepit). Ayahku harus dirawat di Rumah Sakit dan masuk ruang ICU. Karena biaya Rumah Sakit yang amat mahal, bunda ku harus banting tulang mencari uang untuk biaya pengobatan ayah. Uang tabungan yang selama ini mereka sisihkan habis seketika untuk membiayai pengobatan ayah ku. Hanya rumah sederhana saja yang tersisa. Aku dititipkan di rumah kakek ku. Adik-adik bunda ku lah yang merawat dan mengasuh ku, karena bunda harus terus berada di Rumah Sakit untuk mengurus dan menjaga ayah ku. 3 hari sekali bunda pulang ke rumah kakek untuk sekedar melepaskan kerinduannya pada ku. Bunda tidak bisa menemani ku setiap hari, karena jarak yang cukup jauh antara rumah kakek ku di Bogor dengan Rumah Sakit tempat ayah ku dirawat. Dokter memperkirakan umur ayah ku hanya tinggal 3 – 4 bulan lagi. Tapi bunda ku tidak putus asa. Bunda terus berjuang dan selalu berdo’a untuk kesembuhan ayah ku. Berkat do’a, kesabaran, ketekunan, perjuangan, serta keikhlasan bunda ku, akhirnya ayah bangun dari koma. Ayah ku bisa sembuh normal dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Aku percaya dibalik kesulitan, pasti akan ada kemudahan. Dan dibalik kesedihan, pasti akan datang kebahagiaan. Secara berangsur-angsur kehidupan keluarga kami mulai membaik. Pada saat aku berusia 8 tahun, ayah ku mendapatkan beasiswa di Universitas Negeri Malang. Ayah memboyong aku dan bunda untuk tinggal di Malang. Ayah membeli sebuah rumah sederhana di dekat kampus nya. Walaupun rumah yang kami tempati sederhana, asalkan kami bersama-sama aku sangat bahagia. Di Malang aku mempunyai banyak sahabat. Ada Adin, Febri, Rizky, Kak Nisa dan Putry. Waktu sangat cepat berlalu. Tidak kerasa tugas belajar ayah ku di kota Malang sudah berakhir. 2 tahun sudah aku bersahabat dengan mereka. Aku sangat senang karena mempunyai sahabat sebaik mereka. Tapi semua kebahagiaan itu harus aku tinggalkan. Aku harus kembali ke Jakarta. Ku tinggalkan kota Malang dengan rasa berat hati. 4 tahun berlalu. Pada saat usia ku 12 tahun. Dokter memvonis aku mengidap penyakit yang cukup parah. Aku sempat sedih, karena menurut dokter penyakit ku ini merupakan salah satu penyakit yang sangat membahayakan. Tapi bunda ku terus berusaha untuk menguatkan ku. Bunda merupakan penyemangat dan sumber kekuatan bagi ku. Bunda merawat, mengasuh, dan membimbing aku dengan kasih sayangnya yang begitu tulus dan amat besar. 14 tahun usia ku kini. Aku akan terus berjuang, berusaha, dan bekerja keras agar aku bisa memberikan yang terbaik untuk ayah dan bunda. Aku juga tidak akan pernah letih berdo’a agar ALLAH memberikan umur yang panjang pada orangtua ku, agar aku bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji dengan uang hasil keringat ku sendiri. Aku belajar dari hidup. Di dunia ini ada kesulitan, akan tetapi ada pula kemudahan. Ada penderitaan, ada pula kebahagiaan. Mungkin dokter bisa memperkirakan umur seseorang. Akan tetapi hanya ALLAH yang dapat menentukan jodoh, umur dan rizky seseorang. Pesan yang selalu aku ingat dari bunda. “Hidup di dunia taat dan bersungguh-sungguh mendapat SURGA. Sedangkan hidup di dunia berleha-leha dan berbuat maksiat masuk NERAKA”. Ku tekatkan diri ku untuk taat dan bersungguh-sungguh agar aku bisa bahagia di dunia maupun di akhirat nanti. Dan aku akan berjuang keras untuk menggapai cita-cita dan apa yang aku inginkan AGAR AKU BISA MEMBAHAGIAKAN ORANG-ORANG YANG AKU SAYANGI.