Jawabanmu

2014-06-08T09:12:04+07:00
Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini berkumpul menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Jika titik-titik air dalam awan semakin besar dan awan semakin berat, gravitasi akan menarik titik-titik air tersebut hingga turun sbg hujan. Namun jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap sebelum jatuh ke tanah dan hilanglah awan itu. Hujan pun tidak jadi turun. 

Inilah yang dihindari dalam hujan buatan. Bahan penyemai hujan tidak memberi kesempatan bagi titik-titik air pada awan untuk menguap kembali. Ada sejenis katalis yang ditambahkan, agar awan lebih cepat mengumpul. Zat ini disebut bahan semai. 

Bahan semai terdiri atas 2 jenis, yakni bahan semai higroskopis yang dapat menarik uap air dari sekelilingnya, dan bahan semai glasiogenik yang dapat menghasilkan es. 

Bahan semai higroskopis akan membentuk tetes-tetes air yang berperan dalam proses pembentukan butir-butir hujan di dalam awan. Awan semakin cepat matang, volumenya akan menjadi lebih besar, dan hujan yang dihasilkan akan semakin banyak. 

Bahan semai glasiogenik diterbarkan di atmosfer pada ketinggian di atas freezing level, dimana lapisan ini mengandung banyak uap air lewat dingin (super cooled moisture). Uap air ini dapat membeku secara alami. Penambahan bahan glasiogenik akan mempercepat pembekuan uap air. Es yang turun ke lapisan lebih rendah perlahan-lahan mencair dan menambah jumlah air hujan yang turun ke permukaan bumi. 

Dalam membuat hujan buatan, banyak faktor yang harus dipenuhi, seperti jumlah awan yg sudah ada, arah angin biar jatuhnya hujan nggak nyasar, suhu, dll. 

Hujan buatan di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan menebar NaCl (garam dapur) atau kombinasinya dengan senyawa organic (urea), yang kemudian akan berperan sebagai inti kondensasi air.
1 5 1