Jawabanmu

2014-01-31T08:47:05+07:00
Saat ini, banjir di Jakarta masih tetap terjadi. Segala upaya telah dilakukan pemerintah daerah dan pusat, namun hal itu belum cukup mengatasi peristiwa alam yang seolah menjadi rutinitas tahunan itu. Normalisasi sungai-sungai dan waduk, pembersihkan gorong-gorong dan parit, ataupun pembuatan ribuan sumur resapan, belum mampu mengatasi persoalan banjir Jakarta (Sumber: sindonews.com). Upaya lain yang dilakukan adalah modifikasi cuaca. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Florentinus Heru Widodo mengatakan modifikasi cuaca efektif mengurangi curah hujan di wilayah Jabodetabek. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) melalui UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT) mulai Selasa (14/1), melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan sebagai langkah antisipasi mencegah bencana banjir. Dari hasil kegiatan tahun 2013 lalu, teknologi ini terbukti mampu mengurangi curah hujan di Jakarta sebesar 20-50 persen terhadap nilai prediksi curah hujan alaminya (Sumber: www.monitorindonesia.com).

Hujan merupakan peristiwa alam sebagai bagian dari siklus air: panas matahari membuat penguapan lalu terbentuklah awan, awan tertiup oleh angin dan dibawa ke daratan, jika uap air sudah melebihi kapasitas, terjadilah hujan. Hujan juga bisa 'dipaksa' oleh manusia, yaitu dengan mengadakan rekayasa berupa operasi yang disebut dengan operasi penyemaian awan.
Berikut caranya:
Urea, CaCl2, NaCl (Sodium Chlorida) digiling halus dengan menambahkan bahan antigumpal fumed silica.Bahan yang telah digiling halus dikemas dalam kantung plastik kedap udara. Sebanyak 800 s.d. 1.000 kg, bahan dimuat ke dalam pesawat.Sasaran awan dengan ciri berbentuk bunga kol, dengan dasar tidak lebih tinggi dari 5000 kaki dan puncaknya lebih tinggi dari 11.000 kaki.Pesawat memasuki awan dan ketika berada di dalamnya, bahan dilepaskan keluar. Kegiatan ini disebut penyemaian awan.
Biasanya, penyemaian awan ini efektif dilakukan di waktu musim kemarau. Lalu, mengapa dilakukan di musim hujan? Ya, penyemaiannya dilakukan sebelum awan terlalu banyak menyimpan air dan 'terbang' ke daerah yang berpotensi menimbulkan banjir. Sejak dimulainya TMC, BPPT telah melakukan 22 kali penerbangan dengan menggunakan pesawat Hercules A-1323, dan menghabiskan bahan semai NaCl powder sebanyak 75,8 ton ke awan-awan hujan untuk menjatuhkkan hujan di luar daerah rawan banjir.
“Selama 11 hari melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terbukti hujan di Jakarta sudah jauh berkurang. Saat ini pergerakan angin mulai berubah, bukan dari barat lagi melainkan dari timur. Hal ini karena adanya tekanan dari Pulau Sumatera,” papar Heru di Jakarta, Selasa (5/2/2013) sebagaimana dikutip dari monitorindonesia.com.
Oleh karena itu, penyemaiannya pun dilakukan di utara Bandung, lalu di laut utara dan kemudian di selatan wilayah Sukabumi. Penyemaian awan bertujuan agar awan-awan yang bergerak menuju Jabodetabek bisa turun menjadi hujan lebih awal sebelum memasuki Jabodetabek.

BPPT juga mengoperasikan GBG (Ground Based Generator) di 25 titik di Jakarta secara mobile. GBG itu terpasang memanjang dari daerah hulu (selatan) hingga hilir (utara). Tujuannya adalah untuk mengganggu pertumbuhan awan hujan di dalam wilayah Jabodetabek.
BPPT melaksanakan TMC selama 2 bulan, yaitu 26 Januari sampai 25 Maret 2013 dengan biaya Rp13 miliar atas permintaan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kepada Kepala BNPB.

Modifikasi cuaca dengan operasi penyemaian awan ini merupakan alternatif yang tepat untuk mengatasi hujan berlebih namun bukan untuk meniadakan hujan dan menghindari banjir. Modifikasi ini hanya upaya untuk mengurangi curah hujan yang tinggi dan banjir yang diakibatkannya. Satu yang harus diperhatikan, pengalihan hujan dapat menimbulkan banjir di daerah lain dan alirannya dapat mencapai dataran rendah yang umumnya ditempati permukiman. Dampaknya akan lebih terasa andaikata tak ada 'tameng hujan' berupa hutan dan waduk. Satu lagi, manusia tak akan kuasa melawan takdir Tuhan.
2 1 2
2014-01-31T08:48:59+07:00
Kata "tsunami" berasal dari bahasa Jepang yang berarti pelabuhan ("tsu") dan gelombang ('nami"). Tsunami adalah rangkaian gelombang yang timbul akibat air yang ada di danau atau di laut secara cepat bergerak dalam skala yang besar. Tsunami terjadi ketika dasar laut mengalami kerusakan bentuk dan secara vertikal
mengubah posisi air yang datar. Gerakan vertikal yang besar dari patahan bumi dapat terjadi pada lapisan bumi. 
Gempa bumi yang terjadi di dasar laut sangat berpotensi menimbulkan tsunami. Patahan dasar laut menyebabkan equalibrum air menjadi terganggu. Semakin besar daerah patahan yang terjadi, semakin besar pula tenaga gelombang yang di hasilkan. Gelombang besar yang mengalir deras ke daratan inilah yang sangat berbahaya bagi manusia.
Tsunami selalu membawa kerusakan besar bagi manusia. Kerusakan yang terbesar disebabkan oleh gelombang besar yang membanjir daratan. Gelombang ini ketika mengenai pemukiman manusia akan menyeret apa saja yang dilaluinya. Kadang, korban jiwa yang terjadi bukanlah karena disebabkan oleh ombak besar tsunami yang mengalir, tapi karena benturan dengan benda-benda yang dibawa gelombang tsunami. Selain itu, lumpur yang ikut terseret gelombang tsunami menyebabkan manusia menjadi sulit untuk menyelamatkan diri dengan cepat.
1 5 1