Jawabanmu

2014-06-01T20:02:01+07:00
Setelah kedatangan bangsa Eropa (penjajah), nama-nama diatas tidak pernah disebutkan lagi. Akan tetapi istilah Aceh (Atjèh) untuk penyebutan nama negeri Aceh yang saat ini bernama Nanggroe Aceh Darussalam, disesuaikan dengan logat dan bahasa si pemakai, sehingga timbullah berbagai ragam sebutan. Menurut Zainuddin (1961 : 23) sesudah kedatangan Portugis dan Italia, Aceh disebut: Achem, Achen, Acen dan orang Arab menyebutnya: Asyi atau juga Dacem, Dagin, Dacin. Penulis-penulis Perancis mengatakan Achem, Achen, Achin, Acheh. Orang Inggeris menyebut Atcheën, Acheën, Achin. Sedangkan orang Belanda menyebutkan Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem Atsjeh dan akhirnya Atjeh. Orang Aceh sendiri mengatakan “Atjèh”, begitu pula nama daerah ini tersebut dalam tarich melayu, undang-undang melayu, di dalam surat-surat Aceh lama (Sarakata) serta pada mata uang (pèng) Atjèh seperti: uang emas (deureuham), uang timah (keuëh) Atjèh dan sebagainya disebut Atjèh (Aceh).
Menurut Aboebakar Aceh (1980: 19) penyebutan Aceh dengan Rami, al-Rammi, Lamari karena pada tahun 950 M para penulis Arab menyinggung nama-nama tersebut untuk Aceh. Bagitu juga perjalanan Marcopolo (1292) dari Peking ke Persia, mengunjungi serangkaian kerajaan di Sumatera Utara, disana terdapat kerajaan-kerajaan antara lain; Ferlec = Peureulak, Basma = Pase, Fansoer = Baroes, Lamoeri = Aceh Besar. Pada saat itu Islam telah masuk di daerah Aceh. Sementara sebutan Atjèh berasal dari penyebutan Ba’si Aceh-aceh yang artinya semacam pohon beringin yang besar dan rindang (Aceh, 1980: 19). Namun saat ini pohon tersebut sudah tidak dijumpai lagi di Aceh).
1 5 1
2014-06-01T20:05:40+07:00
Marcopolo datang ke aceh pada tahun 1292