Jawabanmu

2014-05-27T13:04:14+07:00

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menginstruksikan seluruh walikota di lima wilayah DKI untuk bersiaga menghadapi datangnya bencana banjir yang sewaktu-waktu dapat melanda Ibukota. Foke, sapaan akrab Fauzi, meminta mereka selalu siap 24 jam penuh ditengah-tengah masyarakat. “Jadi kalau memang masyarakat membutuhkan kehadiran gubernur, saya juga akan hadir di situ. Tapi kan yang seharusnya terlebih dahulu ada harus walikota,” kata Foke di Balaikota DKI Jakarta, Senin, 7 November 2011. Pertemuan Foke dengan para walikota hari ini membahas mengenai antisipasi dan penanganan banjir di daerah-daerah yang rawan. Foke sudah meminta Walikota untuk mengundang Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk turut hadir saat masyarakat terkena musibah. “Dengan begitu terlihat ada kebersamaan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan banjir ini,” ujarnya. Foke juga meminta para walikota untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih waspada pada bencana banjir. Dia mengaku pernah melakukan sosialisasi tiga minggu sebelum banjir di kawasan Pondok Labu terjadi. “Ini sudah disampaikan ke walikota, dan saya ingin mereka melakukan hal yang sama sehingga tingkat kesadaran masyarakat bertambah,” katanya. Kesiapan-kesiapan lain yang seharusnya dilakukan oleh walikota adalah, bekerjasama dengan pihak rukun tetangga (RT) untuk memasang spanduk di kawasan-kawasan yang rawan banjir. Hal ini diperlukan agar masyarakat mengetahui harus mengungsi kemana saat banjir tiba, dan dimana letak dapur umum atau posko-posko banjir terdekat. “Cara ini kita nilai akan lebih efektif, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, menghadapi banjir,” jelasnya. Untuk mengurangi dampak banjir yang menjadi langganan Ibukota ini, Pemprov juga sedang berusaha menyelesaikan pembebasan tanah pada masyarakat yang berada di kawasan IKPN, Pesanggrahan, Bintaro. “Sudah kami mulai sejak tahun lalu, sebenarnya. Tapi hingga kini belum selesai dan prosesnya masih terus berjalan,” tuturnya. Lambannya proses pembebasan lahan, kata dia, disebabkan sertifikat tanah di kawasan itu merupakan sertifikat tanah Tangerang. Sehingga harus dikonversi ke sertifikat tanah Jakarta. “Harus dilakukan konversi dulu, baru kita bisa bayar pembebasan tanahnya,” ujarnya. Selain itu, proses normalisasi di beberapa kali, seperti Kali Sunter, sudah berjalan. Namun, hingga kini belum tuntas, sehingga pasti akan ada genangan, di tempat-tempat yang biasa tergenang. Foke menjelaskan, kali tersebut baru dapat diturap setelah pembebasan tanah selesai dilakukan. “Dengan adanya normalisasi kali dan beberapa upaya lain, diharapkan genangan saat hujan turun tidak separah kemarin-kemarin,” tandasnya.
3 2 3