Jawabanmu

2014-05-18T16:07:49+07:00
Lingkaran itu menyerupai bulan. Iya, memang bulan. Ternyata hari kini telah malam. Di satu malam, detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Aku terdiam, terpaku melihat di sekitar. Tembok-tembok yang memagariku, membuat pikiranku semakin sempit. Aku benci keadaan ini. Aku butuh ruang. Ruang yang terang dan lapang. Tapi, hatiku bertanya. Bagaimana dengan pagi? Dimanakah pagi? Kapan engkau kembali? Aku merindukanmu, sungguh! Aku rindukan sentuhan hangatmu. Masihkah pagi itu menunggu ku disana? Tunggu aku! Malam ini, dia akan segera pergi. Datanglah dan jemput aku disini. Aku butuhkanmu, pagi. Gantikan bulan itu menjadi mentari. Jadikan kelam ini sebuah cahaya di pagi nanti. Yaa, aku rindukan pagi. Gelisahku mengajak berdamai dengan waktu. Tapi, aku tak bisa. Ku rebahkan diri dan ku pejamkan mata. Apa itu? Batinku bergumam. Dalam pejamanku sesosok bayangan hadir. Bayangan yang ku harapkan jadi nyata. Taukah engkau? Lama sekali aku menunggumu disini. Tapi, dimana? Dimana kau kini? Tidak kah kau ingat pada ku? Berjuta pertanyaan dan ketakutan menyergapku. Seakan ingin menelanku bulat-bulat tanpa jejak. Aku kini bangun dari tempat tidurku. Butiran peluh kini menggenangi dahiku. Pertanda ketakutan itu semakin membunuhku. Tak mungkin rasanya jika ku paksakan pejamkan mata ini. Ku lihat lagi ke langit yang dibatasi oleh atap putih transparan. Bulan, ternyata itu masih kau. Kenapa selalu kau yang menghantui malamku? Bisakah kau pergi sesaat dariku? Gantikan dirimu dengan mentari. Aku mohon! Hanya mentari yang dapat hangatkan aku. Membawa duniaku kembali dan bernyanyi. Mentari selalu tertawa dan membagi kebahagiaannya padaku. Pernah suatu saat, di bawah sinar mentari aku bertemu dengan bayangan yang datang dalam pejamanku malam itu. Bayangan yang selalu aku rindukan hadirnya. Dia datang seolah membawa dunia baru untukku. Disini, dia di nadiku selalu memberikan getaran yang membuat ku masih bertahan hingga detik ini. Namun, ketika malam datang dan mentari digantikan bulan, aku tak pernah lagi mendengar kabar dari bayangan itu. Nadiku tiba-tiba berhenti berdetak. Tapi, bukan mati. Hanya saja sedikit melambat. Dunia tiba-tiba menjadi gelap. Mulai saat itulah, aku membencimu, bulan. Karena engkau mentari pergi. Walaupun begitu, aku yakin mentari pergi hanya untuk sesaat. Mentari pergi bersembunyi dari malam yang hitam pekat. Masih di bawah sinar rembulan. Aku berdendang dengan sepi. Aku menunggu mentari. Mentari, tunggulah aku. Bulan ini tak akan lama disini. Karena yang ku inginkan hanya kau. Hanya mentari yang mempertemukanku denganmu. Bayangan dalam pejamanku.