Jawabanmu

2014-05-17T07:18:26+07:00

Perkembangan wayang selanjutnya adalah pada zaman Majapahit. Gambaran wayang di atas kertas pada masa itu disempurnkan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang gulungan tersebut saat akan dimainkan maka gulungan harus dibeber (dibentangkan). Maka, wayang ini kemudian biasa disebut wayang beber.

Setelah terciptanya wayang beber, wayang tidak hanya merupakan kesenian kraton, tetapi sudah meluas ke lingkungan luar istana meskipun sifatnya masih sangat terbatas. Masyarakat mulai bisa menikmati keindahan kesenian wayang meskipun dalam pertunjukkannya hanya diiringi alat musik Rebab dan lakonnya terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus upacara ruwatan.

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, puteranya yang bernama Raden Sungging Prabangkara memiliki keahlian melukis. Bakat puteranya ini dimanfaatkan Raja Brawijaya untuk menyempurnakan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan wayang disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh wayangnya, misalnya Raja, Ksatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan sebagainya. Perkembangan wayang beber saat itu semakin marak, dan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menyukai seni karawitan dan pertunjukkan wayang.

Pada masa itu, pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang merupakan kesenian yang haram karena berbau Hindu. Hal ini lah yang justru kemudian memberikan pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang. 

Untuk menghilangkan kesan yang berbau Hindu, maka muncullah gagasan baru untuk menciptkan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan keterampilan para pengikut Islam yang gemar akan kesenian wayang, terutama para Wali, maka berhasil diciptakan bentuk baru dari wayang yang terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditipiskan dengan wayang digambarkan miring, ukuran tangan lebih panjang dari ukuran tangan manusia. Wayang ini kemudian diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakainnya di cat menggunakan tinta.

Pada masa itu wayang mengalami perkembangan dan perubahan besar, selain bentuk wayang yang baru, teknik pakelirannya pun diganti menggunakan sarana kelir/layar, menggunakan pohon pisang sebagai tempat menancapkan wayang, menggunakan belonging sebagai sarana penerangan, dan menggunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang.

Diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Namun dalam pagelaran masih mengangkat cerita atau lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabharata, namun sudah mulai dimasukkan unsure dakwah. Sedangkan wayang beber yang merupakan sumber, kemudian dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipertunjukkan di luar lingkungan istana.

semoga membantu :)