Jawabanmu

2014-05-11T16:53:58+07:00
Peran kepala daerah sangat strategis untuk memajukan pariwisata di daerahnya. Tak hanya butuh konsep matang dan infrastruktur yang memadai, tapi cara jualannya juga harus all out. GENERAL Manager Hotel Blue Sky Balikpapan Joko Budi Jaya menceritakan pengalamannya saat bekerja di salah satu hotel ternama di Makassar beberapa tahun lalu. Saat itu, occupancy kota Makassar sangat rendah. Rata-rata hanya 30 hingga 40 persen. “Sangat parah. Bayangkan kalau hotel bintang 5 bisa banting harga kamar hingga Rp 350 ribuan saat itu,” papar Joko dalam diskusi Forum Bisnis Kaltim Post akhir pekan lalu.Namun pada era Syahrul Yasin Limpo menjadi gubernur Sulawesi Selatan periode pertama 2007 tahun silam, lalu ditopang oleh Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin, occupancy kamar hotel di Kota Angin Mammiri itu terus menapaki anak tangga hingga saat ini.“Gubernur dan Wali Kota kerjanya hanya di Jakarta. Maksudnya, setiap saat melobi kementerian untuk menggolkan rencana strategis yang telah ia susun untuk kemajuan daerahnya,” sebut Joko dalam diskusi bertemakan Menyatukan Langkah dan Menyamakan Persepsi Mewujudkan Balikpapan sebagai Kota MICE.Buktinya, perekonomian Makassar pelesat bak pelor. Fasilitas penunjang wisata terus dibenahi. Pantai Losari dikemas lebih menarik. Pelabuhan ke pulau-pulau wisata di sekitar Losari yang tadinya tak terawat, ditata ulang. Investasi Trans Studio ditarik. Lalu dibangun lapangan golf internasional Padi Valley, jalan penghubung kota dan daerah penyangga diperbanyak, dan masih banyak gerakan reformasi fasilitas pariwisata yang dilakukan kedua kepala daerah itu.Tak itu saja, pertemuan-pertemuan nasional hingga internasional juga diselenggarakan di Makassar. Saat ini, lanjut Joko, occupancy hotel di Makassar paling rendah 80 persen.Selain Makassar, Joko memberikan contoh kesuksesan Solo selama dipimpin oleh Jokowi. Ia menilai, Jokowi mampu mempromosikan Solo sebagai kota wisata dan bisnis dengan sangat baik. “Yang terpenting menurut saya adalah kemauan pemimpin untuk “menjual” daerahnya,” katanya.Tak hanya itu, menurut Joko, Jokowi juga mampu menciptakan kawasan wisata baru dengan memaksimalkan peran UMKM. Pengrajin di Solo kini mempunyai tempat khusus untuk menjual hasil karyanya. Ini menjadi nilai plus juga bagi wisatawan.“Saya menilai hal tersebut tak lepas dari kemampuan wali kota dan gubernur untuk menjual Makassar. Kuncinya adalah, memang wali kota harus orang marketing yang mahir jualan,” harap Joko.Peran pemerintah dalam melirik potensi wisata yang ada di daerah sangat diperlukan. Pemerintah harus jeli, banyak sektor pariwisata di Balikpapan yang selama ini masih belum digarap serius oleh pemerintah.Diskusi yang dimoderatori Manager Pro Bisnis Kaltim Post Lauhil Machfudz ini dihadiri Kadinda Balikpapan Rendy Ismail, Sekretaris Umum HIPMI Balikpapan Muhammad Taqwa, Kepala Kantor, Komisaris Utama D’Bandara Apartment Wahyu Soetomo, dan owner Kangaroo Travel Firly Firdauzy. Hadir juga Khairul Anam dari Aston Balikpapan, GM Hotel Blue Sky Balikpapan Joko Budi Jaya, GM Hakaya Plaza Hotel Balikpapan Ridwan K, Retno S Palupi dari Hotel Le Grandeur, Rektor Universitas Balikpapan Uniba Suhartono, Ketua Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Balikpapan Eko Juli, Direktur Balikpapan Televisi H Sugito, serta Direktur Kaltim Post Tatang Setiawan.Topik diskusi yang juga tak kalah menariknya adalah persaingan hotel-hotel di Kota Minyak yang dinilai mulai mengarah ke kompetisi perang harga. Benar kah demikian? Simak lanjutan ulasan diskusi ini edisi besok.