Jawabanmu

2014-05-10T16:22:50+07:00
El Nino merupakan salah satu bentuk penyimpangan iklim di Samudera Pasifik yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut (SPL) di daerah khatulistiwa bagian tengah dan timur. Sebagai indikator untuk memantau kejadian El Nino biasanya digunakan data pengukuran SPL di zona Nino 3.4 (170°BB-120°BB, 5°LS-5°LU), di mana anomali positif mengindikasikan terjadinya El Nino. Kenaikan anomali SPL Nino 3.4 diikuti dengan melemahnya angin pasat (trade winds) yang mengakibatkan pergeseran daerah konveksi pembentukan awan-awan hujan. Pada kondisi normal, daerah konveksi berada di daerah barat Samudera Pasifik. Namun, pada kondisi El Nino, zona konveksi bergeser ke tengah Samudera Pasifik. Kondisi ini biasanya terjadi menjelang akhir tahun. Akibatnya, musim hujan yang biasanya terjadi pada akhir tahun akan diganti dengan kemarau karena pengaruh El Nino. Jejak terakhir El Nino yang terekam dari data SPL di zona Nino 3.4 adalah terjadi pada akhir tahun 2002/2003.Jika El Nino mengakibatkan kekeringan, maka lain halnya dengan La Nina. Kembaran El Nino ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Nino. Fenomena La Nina ditandai dengan menurunnya SPL di zona Nino 3.4 (anomali negatif) sehingga sering juga disebut sebagai fase dingin. Karena sifatnya yang dingin ini, kedatangannya juga dapat menimbulkan petaka di berbagai kawasan khatulistiwa, termasuk Indonesia. Curah hujan berlebihan yang menyertai kedatangan La Nina dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia. Jadi, dua "lakon" di panggung Samudera Pasifik ini sama-sama menakutkan. Yang satu menyebar petaka kekeringan, sementara yang lain memberi ancaman banjir.
Hehe aku dah baca blog ini. Maaf ga ada jawabannya