Jawabanmu

2014-05-08T08:07:08+07:00
Tanggal 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia, memperingati tanggal lahirnya Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional di bidang pendidikan. Di sekolah-sekolah dari SD, SMP, dan SMU melaksanakan upacara untuk memperingati hardiknas ini. Pendidikan di negeri Indonesia Raya tercinta ini yang sudah merdeka belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu, tujuan untuk menuntut ilmu, menambah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu yang bermanfaat itu adalah terciptanya bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga bisa memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar
2014-05-08T09:20:55+07:00
Hari pendidikan Nasional selalu dirayakan, tepatnya setiap tanggal 2 Mei 2011, oleh warga bangsa Indonesia, dalam kondisi peringatan ini betapa miris rasanya hati ini betapa tidak disaat bangsa ini membutuhkan generasi yang kuat dalam segala hal, namun apa daya ketika kita menyaksikan di setiap pemberitaan marak dengan kasus cuci otak, ya sebuah doktrin ajaran yang sudah terkontaminasi oleh virus-virus ganas. Sehingga setiap sasaran yang menjadi tujuan dari orang-orang yang hanya mengambil keuntungan sesaat rela mengorbankan generasi bangsanya sendiri.

Bak sebuah derama kolosal yang tampil memukau ibarat pahlawan tanpa dosa, dengan pedenya berniat mau menyelamatkan bangsa dan negara, kenyataannya malah membuat keresahan. Dan tentu ujung-ujungnya masyarakat juga yang sangat dirugikan dan itu implikasinya berdampak kepada dunia pendidikan betapa generasi pelajar begitu mudah dan rapuhnya berhadapan dengan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Generasi ini khususnya umat islam hendaknya sadar dan perlu diketahui NII bukan satu-satunya pergerakkan yang ada di Indonesia sebenarnya masih banyak lagi katakanlah JIL ( Jaringan Islam Liberal ), Ahmadiyyah dan masih banyak lagi. Sungguh generasi ini perlu diselamatkan baik pikiran terlebih-lebih dengan aqidahnya.

Betapa tidak. Saat anak-anak Indonesia menikmati UN dan kenangan manis Ki Hajar Dewantara melalui Hari Pendidikan, tiba-tiba dengan tidak berdaya, para mahasiswa dan pelajar Indonesia dengan begitu mudahnya dicuci otaknya oleh sekelompok orang yang ingin menangguk untung. Dan belum lagi masalah dekadensi moral yaitu pergaulan antar pemuda-pemudi. Ironis memang entah sampai kapan peristiwa ini berakhir?.

Para mahasiswa itu begitu mudahnya ditipu daya dengan omongan, rayuan, dan pernyataan yang dibuat untuk masuk akal. Padahal, para maahasiswa itu sebelumnya, tentu, sudah mempunyai pertahanan pikiran dan mental sendiri yang justru lebih kuat. Pikiran dan mental itu telah diisikan oleh orang tua dan guru serta masyarakat. Namun, pikiran dan mental itu terkalahkan oleh rayuan gombal gerombolan NII. Betapa ringkihnya pikiran dan mental para mahasiswa.

Kondisi itu memberikan pertanda bahwa cuci otak orang tua dan guru tidak dapat berdaya tahan lama di memori mahasiswa. Bahkan, model pembelajran guru sebagai juga bentuk cuci otak hanya bersifat sesaat yang mudah lekang oleh waktu. Untuk itu, perlu kekuatan cuci otak (artikan dengan pembelajaran) dengan metode yang lebih tajam dalam artian sudah saatnya disetiap institusi diwajibkan untuk diterapkannya kurikulum ketauhidan yang lebih mendalam dan adanya penambahan porsi jam pembelajarang untuk bidang Agama Islam. Dengan demikian, paling tidak bisa meminimalisir dampaknya, karena masalah tauhid adalah persoalan mendasar dan itu fitroh yang memang sudah Allah tanamkan pada diri manusi. Yaitu Allah sudah memberikan potensi berupa jalan kebenaran dan jalan kesesatan tinggal manusianya mau memilih yang mana. Wallahu a’lam bissawab.

semoga membantu ^_^