Jawabanmu

2014-05-04T14:29:52+07:00
Kesultanan Sambas adalah kesultanan yang terletak di wilayah pesisir utara provinsi kalimantan barat atau wilayah barat laut pulau kalimantan dengan pusat pemerintahannya adalah di Kota sambas sekarang. Kesultanan Sambas adalah penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya. Kerajaan yang bernama "Sambas" di wilayah ini paling tidak telah berdiri dan berkembang sebelum abad ke-14 M sebagaimana yang tercantum dalam Kitab negara kertagma karya mpu prapanca. Pada masa itu rajanya bergelar "Nek", salah satunya bernama Nek Riuh. Setelah masa Nek Riuh, pada sekitar abad ke-15 M muncul pemerintahan raja yang bernama Tan Unggal yang terkenal sangat kejam. Karena kekejamannya ini Raja Tan Unggal kemudian dikudeta oleh rakyat dan setelah itu selama puluhan tahun rakyat di wilayah Sungai Sambas ini tidak mau mengangkat raja lagi. Pada masa kekosongan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas inilah kemudian pada awal abad ke-16 M (1530) datang serombongan besar orang-orang dari pulau jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yaitu dari kalangan Bangsawan Kerajaan majapahit yang masih beragama hindu, yaitu keturunan dari Raja Majapahit sebelumnya yang bernama Wikramawardhana. Pada saat itu di pesisir dan tengah wilayah Sungai Sambas ini telah sejak ratusan tahun didiami oleh orang-orang Melayu yang telah mengalami asimilasi dengan orang-orang dayak pesisir dimana karena saat itu wilayah ini sedang tidak ber-Raja (sepeninggal Raja Tan Unggal) maka kedatangan rombongan pelarian majapahit ini berjalan mulus tanpa menimbulkan konflik. Rombongan majapahit ini kemudian menetap di hulu Sungai Sambas yaitu di suatu tempat yang sekarang disebut dengan nama "Kota Lama". Setelah sekitar lebih dari 10 tahun menetap di "Kota Lama" dan melihat keadaan wilayah Sungai Sambas ini aman dan kondusif maka kemudian para pelarian majapahit ini mendirikan sebuah Kerajaan hindu yang kemudian disebut dengan nama "Panembahan Sambas". Raja Panembahan Sambas ini bergelar "Ratu" (Raja Laki-laki) dimana Raja yang pertama tidak diketahui namanya yang kemudian setelah wafat digantikan oleh anaknya yang bergelar Ratu Timbang Paseban, setelah Ratu Timbang Paseban wafat lalu digantikan oleh adindanya yang bergelar Ratu Sapudak. Pada masa Ratu Sapudak inilah untuk pertama kalinya diadakan kerjasama perdagangan antara Panembahan Sambas ini dengan VOC yaitu pada tahun 1609. Pada masa Ratu Sapudak inilah rombongan Sultan Tengah (Sultan sarawak ke-1) bin Sultan Muhammad Hasan (Sultan brunei ke-9) datang dari Kesultanan Sukadana ke wilayah Sungai Sambas dan kemudian menetap di wilayah Sungai Sambas ini (daerah Kembayat Sri Negara). Anak laki-laki sulung Sultan Tengah yang bernama Sulaiman kemudian dinikahkan dengan anak bungsu Ratu Sapudak yang bernama Mas Ayu Bungsu sehingga nama Sulaiman kemudian berubah menjadi Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang kemudian setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama mendirikan Kerajaan baru yaitu Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1671.

semoga membantu ^_^

2014-05-04T16:21:10+07:00
kubu dari Tengku Sulaiman menyingkir ke Pahang, sedangkan kubu Raja Kecil menyingkir ke Buantan. Buantan merupakan daerah pedalaman sungai Siak yang terletak kurang lebih 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang (Yuli S. Setyowati (ed.)., 2004:204). Dari Buantan inilah pada 1723, Kesultanan Siak Sri Indrapura didirikan oleh Raja Kecil sampai menjadi pusat penyebaran agama Islam di Sumatera Timur (Adila Suwarno et.al., 2005:80).Pemerintahan Raja Kecil ditandai dengan pembuatan landasan sistem pemerintahan, militer, dan sistem perekonomian untuk menentang monopoli Belanda dan Bugis. Beliau juga mengarahkan sistem pemerintahan untuk menjalin hubungan dengan luar khususnya negeri Islam, seperti negeri-negeri Islam Minangkabau, Turki, Arab, dan Mesir. Seperti disebutkan dalam buku Sejarah Riau (2004), untuk membangun kekuatan di bidang militer, Raja Kecil memerintahkan kepada Datuk Laksmana Raja Di Laut untuk membangun armada laut yang kuat. Perintah ini dilaksanakan oleh Laksmana Raja Di Laut dengan menjadikan Bintan sebagai tempat pembuatan kapal-kapal perang di mana persenjataan kapal-kapal tersebut didatangkan dari negeri-negeri Islam. Sedang dalam bidang perekonomian, Raja Kecil memanfaatkan Bandar Sabah Auh untuk melakukan hubungan dagang dengan negeri pesisir timur Sumatera sampai Aceh dan Minangkabau. Raja Kecil juga memberlakukan pajak yang dinamakan pancung alas (pajak atas hasil hutan) dan tapak lawang (pajak kepala). Setelah kekuatan militer, pemerintahan, dan ekonomi telah memadai, Raja Kecil kembali menyerang Kesultanan Johor pada 1724-1726. Dalam sebuah pertempuran di Kedah, Raja Kecil berhasil membunuh Daeng Parani akan tetapi tidak berhasil menguasai Kedah.